Tuesday, October 28, 2014

Guide Menghidupkan Museum Ullen Sentalu


Museum seringkali menjadi tujuan utama anak-anak sekolah. Mereka diberi tugas untuk menulis segala informasi tentang museum tersebut. Setelah itu, ya sudah. Saya pernah datang ke beberapa museum. Yang saya lakukan adalah membaca keterangan benda-benda peninggalan dan foto-foto. Sama seperti anak sekolah tadi, setelah mendapatkan informasi, ya sudah.
Belakangan saya mencoba sesuatu yang berbeda yaitu menyewa guide tiap ke museum. Dampaknya lumayan. Ada perasaan bangga, bertanya-tanya dan kagum, yang membuat kunjungan ke museum menjadi lebih berkesan dari sekedar mendapat informasi. Banyak pengunjung yang tidak mau dibimbing guide. Alasannya tentu saja karena harus bayar dan malas jika dibelokkan ke bagian souvenir.
Sesungguhnya guide berperan besar menghidupkan museum. Dia membuat sebuah lukisan (misalnya) bercerita banyak tentang sejarah, lebih panjang dari informasi yang tertempel dibawahnya. Kadang guide juga menyisipkan fakta-fakta yang belum banyak diketahui umum.
Museum Ullen Sentalu membuat terobosan dengan memasukkan fee guide dalam tiket. Jadi, guide bukan lagi pilihan, melainkan wajib. Pertimbangannya, menurut mbak penjaga, adalah untuk membatasi pengunjung karena Ullen Sentalu makin terkenal. Seorang guide akan memandu beberapa tamu yang dikelompokkan dalam satu rombongan dan akan membimbing tour selama 50 menit. Sementara satu rombongan masuk, rombongan berikutnya harus menunggu di check point. 
Selain itu, penentuan rombongan menggunakan guide adalah agar pengunjung tidak keluyuran ke berbagai tempat yang mengakibatkan kerusakan, kotor atau kehilangan. Koleksi Ullen Sentalu adalah milik pribadi keluarga Haryono dan pinjaman dari keluarga-keluarga kerajaan di Jogja dan Solo.
Meski tidak asli, alias merupakan replika, tapi guide mampu membuat pengunjung terkagum-kagum dan benar-benar menyimak penjelasannya. Guide Ullen Sentalu yang masih muda, mbak Ambar, memiliki detil sejarah yang sangat lengkap dan sekali-sekali diselingi guyonan ala anak muda tanpa mengurangi penghargaan pada benda-benda peninggalan.
Di suatu lorong yang penuh dengan pigura besar, mbak Ambar mampu menghidupkan kisah beliau-beliau yang ada dalam lukisan itu. Tidak hanya silsilah, kami juga ngobrol tentang gaya berpakaian anak-anak raja jaman dulu yang cukup modis. Sepatu high heels yang dipakai putri-putri jaman dulu tak kalah modisnya dengan jaman sekarang. Ada satu sepatu milik Tineke yang saya taksir, sayangnya tidak boleh difoto.
Surat-surat dan foto-foto yang seperti statis dihidupkan dengan cerita cinta jaman dahulu yang ternyata seru seperti sinetron dan tak kalah galaunya. Begitupun kisah kenegarawanan para sultan seperti Sultan Hamengku Buwono ke IX dan bagaimana usaha menyatukan kerajaan-kerajaan di Solo dan Jogja yang terpecah sejak Belanda masuk.
Museum-museum yang selama ini sepi pengunjung bisa mencoba cara Ullen Sentalu ini. Apalagi pengunjung dipersilakan memberi penilaian pada guide sehingga guide bersemangat memberikan yang terbaik. Museum-museum yang ramai oleh rombongan sekolah di musim liburan itu sudah biasa. Tapi museum yang tetap ramai di weekend atau malah hari kerja itu jarang terjadi kan? Dua orang teman yang berkunjung ke museum itu jarang terjadi juga kan?
Museum bisa menjadi pilihan berkunjung bagi siapapun di waktu luang, tanpa harus menunggu rombongan sekolah atau kantor. Syaratnya museum itu harus menarik. Museum itu harus hidup.
Untuk bagaimana cara berkunjung dan isi museum Ullen Sentalu, nanti saya tulis di slowtravelid.blogspot.com ya. Harus mengumpulkan memory dulu karena tidak boleh memotret dan low bat waktu mau merekam diam-diam. Niat buruk memang selalu gagal :D

24 comments:

  1. Anak-anak sebenarnya suka di ajak ke museum atau tmpt2 sejenisnya, tapi emaknya yg males maunya ke mall mulu *_*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini museumnya adem kok mak karena ber-AC semua. Mau makan ada restonya. Mau belanja ada butiknya tapi agak mahalan krn premium semua. Untuk baju atasan yaaah sejutaan lebih deh heheee

      Delete
  2. Bagus kalau ada guidenya, kita jadi nggak repot cari tahu sendiri tentang museum. Btw kok nggak boleh motret ya, sayang bangeeet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita bilang sayang banget, mereka bilang enak aja ntar kecurian, buat postingan alay & selfie suka2 heheheee

      Delete
  3. kalo pakai guide malah makin asik sih menurut saya,makin bertambah ilmu gitu, cieeee...kalau malas baca keterangan tinggal dengerin guidenya aja hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disini sesuai dg standar ICOM minim keterangan. Semua keterangan didapat dr guide

      Delete
  4. Kl ketemu guide yg seru gini pasti betah ya mak..biasanya kan guide museum lempeng bgt..ga seru blas :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, soalnya ini museum swasta, milik perorangan. Yg lempeng2 itu biasanya milik pemerintah heheeee

      Delete
  5. Kece juga lek nyewa guide yo mak, bisa tahu dengan tuntas & lengkap sejarahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, soalnya kalau nggak ada guide bosen juga. 15 menit selesai sak museum. :))

      Delete
  6. Setujuuuu... aku juga selalu nyewa guide kalo ke museum... mereka pandai bercerita dan atraktif untuk membuat kita bisa merasakan suasana tempo dulu. Kadang mereka juga menshare gosip atau rumours yg gak ada di buku ...seruuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia mbak yang banyak aku dapet kemarin. Banyak gosip2 unik, lucu, bahkan alay wkwkwkwkkk

      Delete
  7. Saya suka.. saya suka... saya suka ke museum Mak. Selama ini saya belum pernah menyewa guide... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba deh mak Riski. Aku suka bosen kalau cuma melihat-lihat :))

      Delete
  8. Fenny juga baru nyadar mak kalau ke museum tuh lebih enak pakai guide, jadi banyak ber Ooo Ooo ria :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang jelas nggak rugi waktu. Udah kesana tapi nggak dapat info yang lengkap ttg koleksinya :)

      Delete
  9. Jd pingin cerita. Kemarin anakku diajak ke museum yg ada di Bogor. Kesannya: boring, katanya. Mungkin krn guidenya kurang asik, dan rombongannya terlalu besar, sehingga yang diri di blkng nggak denger apa kt guidenya.

    Mungkin ada baiknya anak-anak kalo ke museum dipecah menjadi kelompok kecil ya, biar saat guidenya nerangin semua fokus :)

    Anyway, jd pingin ngajak anak ke museum pas liburan deh.. Tq sharingnya ya Mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mak, disini jumlah anggota rombongan dibatasi. Kalau terlalu besar nggak bisa nyimak :))

      Delete
  10. Biar di dalam museum enggak mlongo, tingak-tinguk, karena enggak mudeng, yo. :)
    Pingin ke ullen sentalu. Kalau ke Jogja insya Allah deh.

    ReplyDelete
  11. Seumur-umur durung nate tekan Ullen Sentalu, Mbak, keknya aku penghuni Kaliurang abal-abal :)))

    ReplyDelete
  12. ma boyz seneng diajak ke museum. tapi sayang bapa ibunya sok riweuh melulu :(
    maak...aku baru mampir via lapi ke blog ini (biasanya ngintip dr hp) waah suasana baru yg adem ^_^

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.