Saturday, November 22, 2014

Ngayogjazz 2014, Jazz Harus Live

Dusun yang tenang ini mendadak ingar bingar.

Disclaimer dulu ya, saya ke Ngayogjazz 2014 ini sendirian. Merugilah yang nggak mau nemenin saya wkwkwkkk....
Promo Ngayogjazz sangat gencar di berbagai media. Respon dari masyarakat juga sangat antusias, jadi penasaran seperti apa. Ini adalah pertama kalinya saya mendengar tentang Ngayogjazz meskipun infonya adalah gelaran ke-7 (?). Rencananya Ngayogjazz disenggarakan hari ini, 22 November 2014 jam 09.00-22.00 di Brayut, Pendowoharjo, Sleman, DIY. Kalau masih muda sih kuat ya ngetem seharian disana. Heheee.... Tapi ndilalah saya sudah ibu-ibu, jadi banyak kewajiban yang harus diprioritaskan dan saya memang sangat jarang keluar rumah diatas maghrib.

Berbagai sudut dusun, total mendukung Ngayogjazz.

Saya berencana datang jam 09.00, mruput biar kebagian lebih banyak karena jam 13.30 harus sudah cabut. Ternyata setelah umbah-umbah dan mampir sana-sini, barulah jam 10.30 menuju TKP. Dengan bekal peta resmi, saya menuju TKP lewat rute Jejamuran. Namun, dasar kepo sendirian, saya sempat nyasar parkir di acara kantor Kelurahan Pendowoharjo. Wkwkwkkk.... Sebenarnya tanpa memelototi peta, mudah kok mencapai venue karena panitia memasang spanduk sejak dari Jogja. Mendekati arena, makin banyak panitia yang standby.
Saya suka musik, tapi bukan fanatik jazz karena suka macam-macam musik. Saya tidak terlalu suka recorded jazz. Bagi saya, jazz hanya bisa dinikmati jika live. Apapun lagunya tidak masalah, pasti bisa menikmati. 
Tapi Ngayogjazz ini unik sekali karena mengokupasi satu dusun untuk dijadikan arena pertunjukan. Yang dibutuhkan bukan hanya kepala dusun, bahkan kepala desa yang visioner dan suka musik, tapi juga ibu-ibu yang ikhlas halaman rumahnya dimasuki mbak-mbak ber-rok minim penjual kopi dan rokok, serta simbah-simbah yang diganggu kebisingan. Dan itulah yang terjadi, lima panggung disebar dan semua jalan difungsikan sebagai penghubung. Panitia juga merangkul penduduk untuk ikut serta atau membuka stan makanan. Saran untuk pelaksanaan tahun depan, penduduk dianjurkan untuk menjual makanan khas dengan meminimalkan makanan instan seperti mie instan dan minuman-minuman sachetan. Supaya penduduk bersemangat, pengunjung dilarang saja membawa makanan dari luar seperti jika nonton bioskop.
Atas ki-ka: Pak Sujud membuka Ngayogjazz dengan super ngocol. Parade egrang, badut dan prajurit pengiring Tedjo Badut. Bawah ki-ka: Dekor unik tapi sakit juga kalau kena jidat. Anak-anak dusun mencoba alat musik, pemain jazz masa depan.

Meski lebih siang dari rencana, ternyata parkiran masih selo sehingga tidak perlu berjalan jauh ke arena. Ketika saya pulang, waaah... parkir mobil sudah sangat panjang. Menurut informasi penduduk, pengunjung akan mulai padat pada jam 15.00. Brayut sudah dua kali jadi lokasi Ngayogjazz. Saya tidak setuju dengan saran panitia supaya yang cewek-cewek tidak terlalu fashionable, supaya pakai sepatu kets, bawa mantel bukan payung, dan sebagainya. Hahahaaa... Cewek punya sejuta cara untuk survive dengan penampilan yang tidak nyambung dengan lokasinya. Biarkan saja, yang penting percaya diri.
Pengunjung siang campur-campur, ada anak-anak, anak sekolah, mahasiswa, bapak-bapak PNS, bahkan ibu-ibu arisan pakai wedges. Semua tampak happy dan menikmati. Musik memang tidak untuk dimengerti tapi dinikmati.
Ketika saya datang sudah ada yang mulai tampil, menyanyikan lagu-lagu yang akrab di telinga, Route 66, Stardust dan All About The Bass. Sementara panggung lain menampilkan jazz instrumental dan ngejam. Penampilnya perfect semua sih menurut saya. Suka banget. Pembukaan resminya dilaksanakan secara sederhana dengan lagu-lagu kocak pak Sujud dari Tedjo Badut yang merupakan idola anak-anak Jogja jaman dulu.
Jajanan, makanan dan merchandise. Sebagai ibu, nggak mungkin nggak borong jajanan. Ya, kan? :))

Jaman sudah jauh bergerak dari masa muda saya dulu tapi penggemar live jazz Indonesia, setidaknya yang disana tadi, tetap malu-malu, pada nonton dari pinggir semua. Hahaaa.... Saya sih langsung ke depan tengah bersama 2-3 fotografer. Beberapa detik kemudian baru deh pada ikut merapat. Masa kalah cuek sama ibu-ibu, ya?
Keuntungan datang pagi atau siang adalah bisa melihat dengan jelas semua venue dan bisa memfoto suasana desa. Dalam perjalanannya pun bisa melihat pemandangan sawah menghijau, meski sempat takut juga karena sepi dan sempit waktu pulangnya. Disana masih banyak pohon besar, jadi tidak panas. Hanya saja musisi-musisi Indonesia ternama seperi Syaharani (bukan Syahrini ya), Balawan, Dewa Bujana dan sebagainya dijadwalkan malam.
Para penampil beraksi. Nyentrik ya, ngejazz didalam rumah joglo kuno?

Ngayogjazz identik dengan basah-basahan hujan tapi sepertinya tidak malam ini. Semoga cerah sampai selesai. :D

22 comments:

  1. kalo ngelihat acara yg begituan,,aku mesti ngelirik makanannya,,udah nggak bisa bohong ini mak,,,soalnya bikin lapar tuh,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihiii kadang aku ngecek stan makanannya dulu. Malu ih

      Delete
  2. Asyik banget kelihatannya. Jadi semacam pengenalan desa ke masyarakat luar ya. Untuk saran yg kayak bioskop itu, betul banget saya setuju... :) Sekalian mengenalkan kuliner khas Indonesia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, soalnya rata2 jualan mie instan + minuman2 sachet :(

      Delete
  3. Kangen Jogja euy! pengennn kesana lagi, kapan ya?

    ReplyDelete
  4. Kayanya seru ya maklus....setuju, jogja memang ngangeni khususnya yg pny kenangan indah dikota itu 😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan kayaknya lagi. Beneran seru. Tahun depan kesini ya :))

      Delete
  5. wah seru spt emak..semenjak lulus kuliah belum pernah nonton musik live (konser) paling kalau kebetulan di mall ada live music di mall heuheu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaa sama saja kok mak. Yang beda itu sensasinya dibandingkan dengan musik rekaman.

      Delete
  6. ngiler lihat mie rebusnya, maaakkkkk !!!

    ReplyDelete
  7. wkwkwk kuliner juga memang menjadi daya tarik buat saya, Mak :D

    ReplyDelete
  8. Wahh, mupeeng pengen nonton, sayangnya udah janjian dgn bocah2 pas tgl itu huhu...moga next year aamiin..kaget dakuw mba, ada syahrini, jebule syaharani haha

    ReplyDelete
  9. seruuu seruuuuu....moga2 some times bisa join dan ikutan nonton, nemenin dirimu hehehe, terus kita nanyi bareng #halaaaah....bagus idenya ya mak...dan semoga acaranya juga sukseees...itu jajanan seru pisaaan eeeeuy....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Moga2 next time pas diselenggarakan, dirimu lagi di Jogja ya. Aku traktir deh :))

      Delete
  10. Halo mbak Lusi...

    Kalo melihat dari foto-fotonya, saya yakin kita pernah bersamaan menikmati jazz dari satu panggung yang sama. Sayangnya kita gak bertemu ya disana...

    Ngajogjazz unik banget. Sepertinya tahun depan saya akan kembali menghadirinya.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, saya sudah pengumuman di FB sih nyari teman waktu itu. Mungkin mas lagi sibuk dg tugas mas heheheee

      Delete
  11. Mak, sy juga tahu acar ini di TV. Keren ya. Di kampung bisa ngejazz.
    Seru deh mak baca repoertasenya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aslinya lebih seru lagi. Paling bagus nontonnya ketika kita benar2 luang, nggak kemrungsung.

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.