Friday, November 14, 2014

Perilaku Hijau Bersama KLH, Teman Hijau dan SCP Indonesia

Disuatu siang yang panas dan perut sangat lapar, saya menggerutu. Belum sampai dua suap masuk mulut, ibu saya mengingatkan untuk tidak membuang tulang ikan yang sedang saya makan. Mau dikasihkan kucing peliharaan tukang sayur langganannya. Lain hari saya juga diingatkan untuk tidak membuang nasi sisa, bisa untuk pakan ayam. Ya ampun, untuk makan sesuap aja pikirannya macem-macem, ada kucing, ayam, bebek dan lain-lain.
Dr. Edzard Ruehe dan panitia dari Teman Hijau dan SCP Indonesia, serta perwakilan Kementrian Lingkungan Hidup
Tapi di workshop yang diadakan oleh Teman Hijau tanggal 12 November 2014 kemarin, ada cerita tentang orang Indonesia yang didenda polisi sosial di Jerman karena meninggalkan banyak sisa makanan di sebuah restoran. Memang makanan itu sudah dibayar dan menjadi hak orang tersebut. Namun, perbuatan mubazir itu akan merugikan orang banyak karena makanan itu bisa sangat berguna bagi orang lain dan untuk menghidangkan makanan tersebut di meja melibatkan banyak sumber daya yang sebagian tidak tergantikan. 
Yup, mau nggak mau setiap suap akan panjang ceritanya, tapi jika sudah terbiasa insya Allah tak perlu makan sambil dahi berkerut.
Materi tentang perilaku hijau ini dibawakan oleh Dr. Edzard Ruehe dari The Sustainable Consumption and Production (SCP) Indonesia. Pak bule Jerman ini fasih berbahasa Indonesia. Beliau menunjukkan berbagai slides dan video tentang gaya hidup konsumtif masyarakat, baik di Indonesia maupun di negaranya. 
Slides diawali dengan fakta bumi bahwa 60% ekosistem rusak karena digunakan secara terus-menerus secara tidak bertanggungjawab. Ada pula potensi kenaikan suhu akibat emisi gas rumah kaca yang meningkat dua kali lipat dari kegiatan usaha. Pada tahun 2030 diperkirakan akan ada tambahan 1-3 milyar konsumen kelas menengah. Diperkirakan pula terjadi 140 milyar ton ekstaksi global sumber daya alam jika pola konsumsi negara-negara berkembang masih seperti sekarang.
Edzard juga menjelaskan tentang beda konsumsi dan konsumerisme. Konsumsi adalah yang diperlukan oleh semua orang, sedangkan konsumerisme adalah konsumsi yang berlebihan. Ada 3 langkah yang harus diperhatikan agar konsumsi tidak menjadi konsumerisme: pembelian produk (dan jasa), pemakaian dan pembuangan.
Makan siang dan coffee break dengan hidangan yang enak-enak dan berlimpah, bisa nambah-nambah sepuasnya, nggak antri, sayang nggak bisa mbungkus. :))
Pembelian Produk (dan Jasa)
Belilah produk hijau (ramah lingkungan); yang berarti hijau pada proses produksi, penggunaan bahan baku, pada saat dikirimkan, pada saat pemakaian (hemat energi) dan pada saat pembuangan (bisa di-recycle).
Di kelompok makanan kita sudah mengenal makanan organik, yaitu makanan yang tidak mengandung pestisida, anti jamur, tidak mengandung pupuk kimia, tanpa antibiotik, tanpa bahan pengawet, segar, lebih baik dimasak saat itu, no junk food dan pangan lokal.
Untuk kelompok produk ramah lingkungan antara lain lemat hemat energi (fluorescence lamp dan LED), AC hemat energi (kwh/tahun, bukan watt), lemari es hemat energi dan tanpa CFC, Don't buy sachets!, menggunakan kemasan yang ramah lingkungan, lebih baik bawa tas belanja sendiri, juga gunakan cat yang ramah lingkungan.
Catatan saya: hindari produk pembersih lantai atau kamar mandi yang mengandung klorin. Kloring ini sering disembunyikan oleh produsen dengan hanya menyebut sebagai "bahan tertentu", tapi sebenarnya ciri-cirinya tampak, yaitu bau yang menyengat.

Pemakaian
Di sektor transportasi, kita bisa berhemat dengan berjalan kaki, naik sepeda atau kendaraan umum. Jika harus menggunakan kendaraan sendiri, berusalah untuk hemat energi, antara lain tidak perlu memanaskan mobil atau motor jika hendak bepergian.
Agar bangunan yang kita huni ramah lingkungan, harus memperhatikan beberapa hal ini: 
  • Tidak perlu atau meminimalisir penggunaan AC.
  • Ada tambahan atap 1,5 meter untuk menghalangi matahari masuk jendela.
  • Angin alami.
  • Banyak pohon dengan banyak daun dekat rumah terutama di sisi timur dan barat.
  • Arahkan jendelan ke utara dan selatan.
  • Tidak pakai atap seng.
  • Tidak pakai asbes.
  • Matikan alat elektronika dan lampu jika tidak digunakan.
  • Matikan posisi stand by TV dan radio.
  • Tidak memanaskan motor/mobil.
  • Matikan mesin kendaraan saat berhenti.
  • Tidak menyalakan mesin saat parkir.
  • Tekanan ban kendaraan disesuaikan dengan yang disarankan.
  • Tidak membawa banyak barang dalam mobil.
  • Pelankan akselerasi, prediksi kedepan.
  • Kalau pakai AC, suhu optimal bukan 18C tapi 23-25C.
  • AC diservice reguler.
  • Bunga es didalam kulkas segera dilelehkan.
Mbak Endang dari Komunitas Endang. Yup, semua anggota komunitasnya (500 orang) bernama Endang. Disekitar mbak Endang itu ada beberapa mbak Endang lainnya dan bu Endang.
Pembuangan
Pembuangan yang bijaksana harus mempertimbangkan Reduce, Reuse, Recycling, yang penjabarannya sebagai berikut:

  • Yang utama mengurangi sampah.
  • Buang sampah di tempat sampah. Dipilah lebih baik lagi.
  • Re-use semaksimal mungkin.
  • Air buangan rumah tangga bisa digunakan untuk menyiram.
  • Coba perbaiki daripada beli baru.
Jika tahap itu bisa kita lakukan secara rutin, tahap selanjutnya adalah recycle dan komposting sampah organik.


Nah, begitulah presentasi Dr. Edzard Ruehe. Acara dilanjutkan dengan launching kompetisi Srikandi Hijau 2014.

19 comments:

  1. duh kalau saya masih males ngolah sampah organik, padahal katanya mudah ya...ke depannya sih pengen (melawan malas),

    ReplyDelete
  2. biasanya sampah daun2 kering aku reduce lagi menjadi pupuk alami,,,dan hasilnya,,aku gak perlu beli pupuk,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sharing di blognya dong mak. Pake foto. Mau nyontek :)

      Delete
  3. Mungkin agak out of topik ...
    tapi ini masih ada kaitannya dengan makanan ...
    Saya selalu memperhatikan ... di resepsi pernikahan ... orang-orang itu macam kalap saja ... semua makanan di ambil ... banyak pula ... tapi yang dimakan cuma sa uprit ... sisanya jadi kebuang ... saya suka kesel kalo ngeliat hal seperti itu ...
    mbok yao ambil sedikit ... makan ... kalau kurang ambil lagi ... secukupnya ...
    jadi tidak ada yang terbuang ...

    Belum lagi di gerai siap saji ... itu orang-orang kalo ngambil saos atau sambel itu ... sering kali saya lihat sepiring penuh ... bahkan sampai minta piring tambahan .. khusus buat tempat sambel dan saos ... Padahal ...yang terpakai juga dikit ... again sisa banyaaakkk ...
    Murka banget saya melihatnya ...
    (sudah om ... sudah ... jangan marah-marah disini ...)
    maap ... maap ... hahaha

    Salam saya Mak Lusi
    (14/11 : 5)

    ReplyDelete
  4. wah tentang AC, berasa boros AC semenjak tinggal di depok jabar. apalgi yang dijakarta dan bekasi mba..puanas pol,gimana ya?:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. AC biasanya 18. Latihan dulu bisa kali ya?

      Delete
  5. Seriusan itu di denda karna ninggalin sisa makanan ??? kayak nya di indonesia perli di terapkan :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gatau. Cerita nyata kata mereka yg dari Jerman sih

      Delete
  6. ngikik baca caption foto makan siangnya...
    setuju banget sata mak soal penghematan ac itu, apalagi saya alergi ac, hihihi...
    di rumah, nasi yg nempel di rice cooker, klo dkumpulin lumayan jg, drpd dibuang kasih ke ayam :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ibu2 selalu punya insting mbawain orang rumah oleh2 hahahaaaa

      Delete
  7. soal denda makanan sisa, aku berhara di Indonesia juga diterapkan tuh, aku salah satu yang paling keki & sebel liat orang makan disisakan, mubazir, banyak orang yang susah makan, eh...ini malah buang-buang makanan :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya sering kelaperan mak, takut kelaperan lagi, padahal kapasitas perut terbatas :)

      Delete
  8. Penghijauan penting, saya adalah pendukung gerakan penghijauan.

    -www.fkrimaulana.blogspot.com-

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.