7 Tahun Menyelesaikan Kamus Indonesia Jawa

Saturday, May 23, 2015

Butuh 7 tahun dengan jadwal dan semangat yang konsisten untuk menyelesaikan sebuah kamus Indonesia Jawa.

Kamus Indonesia Jawa

Sering saya takjub membaca pengalaman para penulis terkenal menyelesaikan sebuah novel masterpiece hingga memakan waktu bertahun-tahun. Bagaimana seseorang bisa tahan dengan durasi yang sedemikian panjang untuk menyelesaikan sebuah novel? Tidakkah bosan, jenuh, atau malah mau muntah?
Ketika bapak saya punya ide menyusun (bukan menulis) kamus, saya bilang,
"Okey, nggak usah terlalu perfect-lah, yang penting bisa dipertanggungjawabkan isinya."
Seperti men-down grade semangat bapak, tapi justru karena saya paham benar karakter beliau yang perfeksionis. Saya khawatir beliau terlalu terlalu terobsesi menyelesaikan dan kami jadi korbannya. Hahahaaa.... Benar saja, beliau jadi sulit diajak bepergian karena terikat oleh jadwal yang beliau buat sendiri dan sering naik tensi. 

Namun demikian, alhamdulillah beliau berhasil menyelesaikan tiga buah kamus:


  1. Kamus Peribahasa Jawa, terbitan UII Press.
  2. Kamus Jawa Indonesia, terbitan penerbit Kanisius
  3. Kamus Indonesia Jawa, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama
Diantara sela-sela waktu tersebut, terbit pula beberapa buku tentang adat pengantin Jawa untuk mengumpulkan pengalaman beliau yang beberapa kali diminta sebagai panata cara dan juga mengajar tentang panata cara di beberapa kota terdekat. Tentang buku selain kamus dan pengalaman beliau mengajar berbagai kalangan, termasuk tentara, akan saya ceritakan di serbajawa.blogspot.com.

Khusus untuk Kamus Indonesia Jawa ini benar-benar memeras otak, tenaga dan emosi karena Gramedia memberikan tim editor yang sama perfeksionisnya. Saya sebenarnya bersyukur karena berarti kamus yang digadang-gadang merupakan masterpiece bapak saya ini sudah menemukan jalannya. Meski demikian, tetap terselip rasa khawatir apakah tim editor bisa tahan dengan karakter beliau?
Kamus ini sudah lama dikerjakan. Meski untuk karya non-fiksi bisa mengajukan proposal dulu baru dikerjakan, tapi bapak dan saya lebih suka menghadap editor tidak dengan tangan kosong sehingga lebih mudah untuk melakukan diskusi.
Selama pengerjaan itu banyak sekali suka duka terkait mengatur mood. Beliau sudah menetapkan goal setiap hari harus selesai berapa kosa kata sehingga kapan selesainya juga sudah bisa diperkirakan, yaitu sekitar 5 tahun. Namun ada saja kendalanya, antara lain komputer rusak (komputer tabung jadul), sakit, kehabisan dana dan sebagainya. 
Loh kok pakai dana? Kebanyakan untuk service komputer dan beli kertas. Jadi sistem beliau adalah 
  • Dipagi hari menulis draft menggunakan tulisan tangan di kertas buram 
  • Siang hari diinput di komputer sekalian melengkapi draft tersebut lalu diprint
  • Malam hari, mencorat-coret mengevalusi hasil print tadi
Karena beliau jadi lebih banyak dikamar, akhirnya saya memberikan salah satu laptop kami agar bisa digunakan mengetik di halaman belakang yang udaranya lebih enak. Saya juga memberikan modem agar kami bisa berkomunikasi via email. Saya punya ide membuat akun socmed dan blog untuk mempromosikan buku-buku beliau terdahulu. Adik saya memberikan nama Serba Jawa. Nah, untuk kontennya harus diisi beliau karena saya tidak terlalu paham bahasa dan budaya Jawa (TERLALU!). Ini juga penuh tensi karena beliau tidak paham fungsi socmed dan tidak mau saya atur kapan harus menulis. Heheheee....
Ketika kamus secara kasar sudah selesai, beliau menyiapkan beberapa proposal dan siap "ngider" di penerbit-penerbit Yogyakarta. Hah?! Harigini masih menawarkan proposal dengan cara itu? Akhirnya dengan "paksa"(karena susah meyakinkan hahaaa) proposal saya minta untuk saya kirimkan ke penerbit-penerbit terbesar di Indonesia. Sayang sekali kalau hasil kerja bertahun-tahun dengan intensitas yang seperti itu jatuh ke tangan penerbit yang kurang berkomitmen.
Proposal tersebut saya kirimkan ke editor yang menangani buku saya Berani Ikut Pameran di Gramedia. Karena bukan bidangnya, proposal tersebut diteruskan ke editor khusus bahasa.

Alhamdulillah, hanya dalam sekejap proposal kamus Indonesia Jawa tersebut langsung ditaksir PT Gramedia Pustaka Utama.

Saya akui proposal beliau lebih keren dari buatan saya. Lain kali akan saya tunjukkan. Bukan semata karena saya anaknya maka saya bilang bahwa proposalnya bagus tapi memang beneran susah untuk ditolak.
Untuk negosiasi saya serahkan sepenuhnya pada beliau dan editor yang bersangkutan. Bukan apa-apa sih, tapi takut stress saja kalau seandainya beliau keukeuh pada klausul tertentu. Sebelumnya, saya wanti-wanti dan memohon maaf kepada editor tersebut karena beliau gaptek dan sebagainya. Ternyata, negosiasinya juga tidak lama, kontrak langsung dikirimkan untuk ditandatangani.
Meski buku beliau sudah banyak, ini adalah pengalaman beliau pertama kali bertemu tim yang sangat detil. Yang pertama diminta tim tersebut adalah mengubah secara menyeluruh contoh-contoh kalimat penggunaannya. Begini jawab beliau,
"Kamus ini kan tidak saya susun untuk Gramedia tapi untuk umum! Kan anak saya yang mengirim proposalnya kesitu?!"
ADOOOH! Langsung stress saya dan berdoa terus semoga tim editor diberi kesabaran tanpa batas. Saya pun cuma jadi pendengar yang patuh kalau beliau cerita tapi tidak berani bertanya progresnya. Takut jantungaaan.... Hahaaa.... Yang paling sering saya dengar beliau mengeluh harus membawa KBBI yang tebalnya seperti bantal itu kemana-mana. KBBI tersebut pemberian editor (iyao, editornya memang baik banget) untuk membantu bapak mengedit ulang kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sesuai. Karena keberatan itulah beberapa waktu lalu saya antar beliau ke percetakan agar KBBI tersebut bisa dijadikan 2 buku. Tapi heran juga sih, kamus sudah selesai kok KBBInya baru dipecah? Hmmm mungkinkah ada projek lain? 
Terakhir beliau cerita kalau sudah sampai tahap pengecekan akhir. Jadi sekitar 1,5 tahun di tangan editor. Eh, tiba-tiba bulan lalu beliau datang dengan membawa Kamus Indonesia Jawa yang sudah jadi. Bukan main terharunya. 
Selama proses editing, saya berusaha tak banyak bertanya karena biasanya akhirnya malah jadi merecoki, jadi ribut. Saya melepaskan beliau mengerjakan sesuai dengan gaya beliau dan berusaha keras tidak memikirkan kira-kira seperti apa dialog rutin beliau dengan editor. Wkwkwkkk.... karena beliau pasti senewen habis kalau dikoreksi melulu.
Saya paham, harapan penerbit terhadap karya bapak saya ini maksimal, yaitu Kamus Indonesia Jawa terbaik yang pernah ada. Bahkan ada wacana untuk menyempurnakan Kamus Jawa Indonesia terdahulu agar bisa disandingkan seperti duet kamus legendaris bahasa Inggris John M. Echols dan Hassan Shadily. Aamiin.
Begitulah 7 tahun telah berlalu dan menghasilkan Kamus Indonesia Jawa, warisan beliau kepada keluarga, masyarakat Jawa, bangsa Indonesia dan bahasa dunia. Beliau memang bukan pribadi yang sempurna tapi saya sangat bangga!

You Might Also Like

25 comments

  1. Rupanya dari sana asal mula sifat perfectionist dan keras kepalanya hehehe. Salam buat bapaknya Mah Lusi, penasaran pengen kenalan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah itu hanya masalah karakter. Yang penting jadi orang harus committed dg omongannya sendiri. Yuk tak kenalin. Kayaknya cocok dg dirimu heheheee

      Delete
  2. semangatnya keren bapaknya ya mbak. Bapakny apunya pendirian kuat ya saat di suruh edit :)

    ReplyDelete
  3. uwaaa,ulet banget ya mak,kerennnn......
    salam kagem bapak^^

    ReplyDelete
  4. salut sekali dengan bapaknya mak lusi! bahasa kalau tidak dikamuskan bisa hilang. kamus jawa penting banget untuk pelestarian bahasa. saya pernah belajar mendokumentasikan bahasa, jawa pekalongan hehe. publishnya cuma di blog. jawapekalongan.blogspot.com tapi sudah tidak pernah update lagi hehe

    ReplyDelete
  5. Memiliki karakter perfeksionis agak susah iya kalau di ajakin becanda hehehe. Salam mba lusi :)

    ReplyDelete
  6. saya pun bangga maklus...luar biasa lhooo...dan ini bisa jadi salah satu legacy penting yang ada :)..cheers et salut untuk Bapak..

    ReplyDelete
  7. bapak mak lusi bapak yg hebat, 7 tahun demi terciptanya buku yg bermanfaat dan berguna bagi banyak orang...

    ReplyDelete
  8. Ikut bangga pada bapak adalah hal pertama yg terlintas setelah membaca postinganmu iki Mba Lusi. Luar biasa semangat dan persistensinya. Dan yg keduaaaaa.... imajinasi liarku ttg betapa survive nya editor ituh hihihiiii...
    Ojo mbokomongke bapak lho mba komenku iki :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaaa itulah, aku pengin ngasih piala ke editornya. Piala ketabahan hahaaa

      Delete
  9. Waww..waww..kereen..
    7 tahun itu lama bangett.. penulis perfectionis ketemu editor perfectionis itu paaas banget *suka butuh obat sakit kepala gak sih penulis dan editornya? hihi

    Salutt.. bapak umur berapa mak?
    Gigihnya itu juara bangett..semoga beliau selalu sehat...

    ReplyDelete
  10. Waaa..nderek bangga mbaa.kereen banget bapak..semoga selalu diberi kesehatan dan umur panjang untuk berkarya aamiin

    ReplyDelete
  11. Sebuah terobosan dan keuletan yang menghasilkan sebuah karya yang sangat baik, semoga buku kamusnya menjadi salah satu project kamus bagi bahasa daerah lainnya yang akan menjadi salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia nantinya ya Mba. Salam hormat untuk bapak yang memiliki ide berlian ini.

    ReplyDelete
  12. Saya salut dengan orang tua yang tetap ulet dengan semangat dan kerja kerasnya, menjadi pemacu semangat bagi yang muda2....sukses untuk bapak ya mak Lusi, semoga terus menginspirasi

    ReplyDelete
  13. Sungkem buat bapaknya MakLus. Terimakasih. Kamus ini sangat bermanfaat terutama bagi saya "orang jawa yang kadang lupa boso jowo".

    ReplyDelete
  14. Bapaknya keren, mak lusinya juga keren...,semangat bapak wajib ditiru neh.

    ReplyDelete
  15. kagum dengan ayahanda mak lusi yg masih bersemangat membagi ilmu. salam bakti dari saya untuk beliau ^_^

    ReplyDelete
  16. Hebat yah si Bapak, mbak...
    Semangatnya patut ditiru.. benar2 masterpiece ya mbak ^_^

    ReplyDelete
  17. Menyelesaikan sebuah buku butuh konsistensi dan kesabaran yang tinggi :D

    ReplyDelete
  18. Waksss gila 7 thaun itu lumayan lama lho. dan telaten yaa bapak nya #Salim

    ReplyDelete
  19. Waaaa.. Keren banget bapaknya Mbak Lusiii.. Alhamdulillah ini buah manis dari benih kesabaran dan kerja keras ya, Mbak.. :D

    ReplyDelete
  20. Mbak Lusi bapaknya keren banget, 7 tahun lho waktu yang sangat lama dan butuh kesabaran untuk sebuah masterpiece, ehhh saya mah gak kuat kayanya kalo menggeluti selama itu, tapi hasilnya sudah terlihat dan sangat membanggakan ya mbak

    ReplyDelete
  21. Walaupun aku orang Jawa, tapi butuuuh banget kamus bahasa Jawa, biar benar-benar jawa tulen. Selama ini masih banyak kata yang nggak kumengerti.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentar teman-teman. Maaf komentar dimoderasi. Jika ingin berkomunikasi lebih lanjut silakan email ke beyoumails@gmail.com.