Tuesday, October 20, 2015

Dikemanakan Perabotan dan Pakaian Tak Terpakai?

Bingung ih mau dikemanakan perabotan dan pakaian tak terpakai yang sudah numpuk.

garage sale


Udah numpuk? Wow shopaholics ya? Hihiii nggak lah, saya ngirit banget kalau urusan perabotan dan pakaian. Perabotan nggak bakal beli kalau nggak rusak. Pakaian nggak bakal beli kalau nggak ada event dengan dress code yang belum punya. Tapi sejalan dengan waktu, tetap saja ada yang lama tidak terpakai karena kekecilan, sudah buluk karena cuci pakai melulu dan sebagainya. Akibatnya, lemari dan kotak-kotak penyimpanan penuh. Rumah jadi nggak rapi seperti di film-film.
Di sebuah acara bedah rumah di stasiun TV asing, yang khusus make over rumah-rumah terkacau di Amerika, disebutkan bahwa jika ada perabotan yang selama 8 bulan tidak terpakai dan tersentuh, lebih baik mulai memikirkan untuk menyingkirkannya. Saya pernah baca di blog catatanOline.web.id, untuk baju yang 3 bulan tidak dipakai, lebih baik dikeluarkan dari lemari. Saya pun berniat demikian. Tapi bagaimana menyingkirkannya? Bantu saya mikir yuk, teman-teman.

Problem utama untuk tegas terhadap masalah ini adalah sayang karena dulunya beli, dan untuk beli harus kerja. 

Ada juga yang tetap disimpan karena alasan sentimentil, misalnya kenang-kenangan dari gebetan. Jika di TV asing tersebut, host sampai membawa psikolog agar pemilik rumah merelakan barang-barangnya, maka saya cukup minta pertimbangan teman-teman yang baik hati dan tidak sombong saja. Heheheee.....

1. Disimpan dalam box. 
Pernah melihat box yang dijual Ladaka? Box tersebut untuk konsumsi luar negeri. Fungsinya untuk menyimpan barang-barang sesuai musimnya. Jika musim dingin, perlengkapan musim panas akan dikeluarkan dari lemari lalu dimasukkan didalam box untuk disimpan dan dipakai lagi di musim dingin berikutnya. Lemari berganti isi dengan perlengkapan musim panas. Agar rumah tidak kelihatan bersemak seperti rumah saya yang masih menggunakan kardus bekas untuk penyimpanan, orang bule membeli box bagus tersebut, ada yang set 2, set 3 dan seterusnya. Ada juga yang memanfaatkan kotak kayu atau ottoman yang bisa difungsikan sebagai perabotan sekaligus penyimpanan.
Kalau orang Indonesia biasanya menyimpan barang di kardus bekas atau kontainer plastik. Namun, lama-lama kan nggak semua bisa disimpan. Harus disortir untuk menyimpan yang benar-benar dibutuhkan. Disitulah beratnya.

2. Garage Sale
Untuk mengurangi rasa bersalah buang barang yang berarti buang duit, garage sale sering diadakan diluar negeri. Untuk hasil penjualan perabotan lama kan bisa untuk menambah anggaran membeli perabotan baru. Di Indonesia masih diadakan terbatas oleh olshop atau perorangan secara online. Itupun tak semua jenis barang dijual, seperti perabotan makan, rak atau karpet tak terpakai dan perabotan lain yang aneh kalau dijual online, misalnya payung, lampu, kipas angin, dan sebagainya. Penginnya buka aja di halaman rumah, langsung habis gitu. Dicibir tetangga nggak ya? Ada yang punya pengalaman bikin garage sale di halaman rumah sendiri? Cerita dong yang panjang di kolom komentar. Thank you. :)

3. Disumbangkan
Ini adalah langkah paling mujarab untuk menghilangkan rasa bersalah karena kita tahu bahwa barang-barang itu bermanfaat bagi orang lain. Tapi (kenapa selalu ada tapinya ya?) kepada siapa disumbangkan? Dulu kami punya mbak cuci yang mau membawa apa saja yang saya berikan, dari pakaian pantas pakai sampai baskom plastik. Pakaian yang sudah kumal saya gunting jadi lap. 
Senang sekali kalau ada teman yang mengadakan bakti sosial alias baksos karena berarti saya bisa sekalian menata lemari. Sayangnya baksos biasanya hanya menerima pakaian, tas dan mainan. Perabotan tidak pernah diminta. Mungkin agar tidak memberatkan panitia yang berarti harus memikirkan transportasi lain. Waktu baksos seringnya juga pada periode tertentu, misalnya bulan Ramadhan, sehingga kadang harus dibagi untuk beberapa teman yang mengadakan baksos tersebut dalam waktu yang hampir bersamaan, dapatnya sedikit sedikit deh. 

Menyumbangkan ke panti asuhan adalah yang utama. 

Tapi saya tidak tega kalau hanya mengantar satu kresek baju. Jadi biasanya saya tunggu agak banyak, sekalian dengan buku-buku anak-anak setelah naik kelas. Tapi itu berarti menumpuk dalam waktu lama juga, kan?

4. Taruh di tempat sampah.
Kalau nggak tega menggunakan kata "buang", coba saja pakai kata "taruh" untuk mengurangi rasa bersalah. Wah, ya berarti sama saja buang barang dong? Buang uang tuh. Dulu saya juga berpikir begitu, tapi sekarang saya berbeda sudut pandang. Tukang sampah tidak akan membuang langsung semuanya ke TPA, tapi menyortirnya dulu disuatu tempat. Waktu di Pekanbaru dulu ada sepasukan inang-inang yang membantu sortir. Yang bisa dijual, tidak akan dibuang. Jika sudah sampai TPA pun, ada pemulung yang mengais untuk mengambil sesuatu yang bisa dijual atau dimanfaatkan. Kalau bisa, barang-barang yang tak terpakai itu dibungkus tersendiri, jangan dicampur dengan sampah, supaya barang-barang itu tidak kotor dan tukang sampah langsung tahu jika membukanya. Nah, bermanfaat kan?
Jadi sekarang apa yang harus saya lakukan? *menatap nanar kardus dan kresek yang bertumpuk.

23 comments:

  1. hehehehe,,,,bisa juga bahasanya,taruh di tempat sampah untuk mengurangi rasa bersalah. IYa juga sih,tapi kalo baju,biasanya aku rombak jadi totebag mak. Tadi baru aja dapet ide,dibuat keset hahaha...itupun baju yang bener2 udah ada yang sobek ato bolong tp kl masih bisa dipake biasanya dikirim ke Jawa,dikasih ke tetangga buat ke sawah hehe

    ReplyDelete
  2. satu lagi, Mbak. Saya suka jadiin kain lap kalau baju kaos udah gak enak penampakannya. Setelah dijadiin lap, diturunkan fungsinya jadi kaos tidur dulu. Kalau udah tambah jelek, baru jadi lap :D

    ReplyDelete
  3. Saya juga kadang suka bingung dikemanain yaa? :D hingga akhirnya sama kayak mak Chi, jadiin lap haha

    ReplyDelete
  4. Aku cuci bersih, beri pewangi, seterika, lipat rapi, bungkus plastik sealed yg baru.
    Masukkan ke dalam tas (plastik) belanja yg bagus atau lainnya. Berikan kpd yg membutuhkan.

    Sungguh di hari kiamat seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.

    Selamat beberes mba ... udahannya legaaaa rasanya.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Subhanallah, terharu aku baca idemu mbak. Memberi yang tak sekedar memberi. Allah yang membalas ya mbak :)

      Delete
  5. saya dikasih ke pemulung, alhamdulillah ada yg mau. kalo yg sobek2 saya jadikan lap tapi kalo lapnya udah dekil binugn mau dikemanain.

    ReplyDelete
  6. aku juga ngasih ke orang lain, baju anak2 kasih ke sepupu, ke art..,dibawa lagi ke kampungnya bagi2 lagi di kampung
    yang udah butut banget dibuat keset aja ..

    ReplyDelete
  7. Sama kaya mak myra baju kaos yg lusuh2 aku tukar guling jadi lap yg masih lumayan penampakannya disumbangin lah. Dulu ibu sayur langgananku punya ponakan yg anaknya seumuran nadia jasi baju2 nadia gg udah ga muat turun ke dia semua
    Sambil.ngajari nadia berbagi juga :)

    ReplyDelete
  8. aku ada yg disumbangin, disimpen dan di daur ulang mbj lus, itu kalau baju..
    kalau barang langsung aku bawa ke tetangga aku, kebetulan di usaha perloakan..

    ReplyDelete
  9. diberikan kepada yang membutuhkan saja mbak...yang langsung dipakai misal panti asuhan...
    saya pernah ngasih ke orang...eh, dijual lagi sama orangnya dirombengan... :)

    ReplyDelete
  10. kalau aku tak kasihkan ke ART, kadang ada yang nggak rela dikekepin trus. tapi jampi-jampi dari suami, katanya kalau barang itu dikasih ke orang trus orang itu masih pakai, pahalanya akan mengalir ke kita. Entah bener apa nggak tapi saya biasanya trus luluh lantah*dicoret

    ReplyDelete
    Replies
    1. Subhanallah iya, berguna bagi orang lain lebih baik drpd disimpen entah smp kapan.

      Delete
  11. kalo aku sih lebih baik di sumbangkan aja mba, kadang suka ada sodara yang kesini minjem baju, nah sekalian aja di kasihin, apa lagi saya cepet banget pertumbuhan nya alias cepet gendut hehehe

    ReplyDelete
  12. Kalau aku dikasihikan mba...biasanya ada beberapa orang gitu yang suka nanyain...selama masih layak pakai aku kira gpp ya, yg penting bs bermanfaat hehe...

    ReplyDelete
  13. Iya loh dulu aku ada Art, bisa kasih ke dia pas pulang kampung. Kalo sekarang aku nitip sama mbak sepupu, kasih ke tetangganya yang nggak punya, alhamdulillah, enggak bingun lagi disalurkan kemana, hehe

    ReplyDelete
  14. kalau aku kasihkan orang mbak, ada ibu2 yang suka lewat dia mau terima

    ReplyDelete
  15. Kalo aku, yg jelek suka aku recycle jadi sesuatu...yg masih bagus kasi ke orang

    ReplyDelete
  16. biasanya disimpan dulu mak, siapa tau baju yg kekecilan bisa kepake lagi..aku kan optimis bisa kurusan lagi..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu impianku yang tak pernah jadi kenyataan wkwkwkkk

      Delete
  17. Aku selalu donasikan akhirnya maaak.. Atau hand it down.. Di kelaurga banyak yg ukuran badannya sama dan suka nampung hehehee.. Gawaat memang kaau belanja lagi dan lagi ya hehehe.. Lemarinya yang protes !

    ReplyDelete
  18. Wah tips yang keren bunda., pengen deh punya istri yang bisa menata baju dengan tips yang bagus.,

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.