Wednesday, October 14, 2015

Mengapa Harus Memaklumi Ibu Pengendara Sepeda Motor?

Pengalaman beberapa waktu lalu mengingatkan saya, mengapa harus memaklumi ibu pengendara sepeda motor?

ibu pengendara sepeda motor


Setelah sekian tahun tidak mengendarai sepeda motor untuk antar jemput anak, saya seperti diingatkan untuk tidak nyinyir pada ibu-ibu pengendara sepeda motor. Bagi yang sejak remaja sudah bisa mengendarai sepeda motor, seringkali tak sabar dengan gaya mengendarai ibu-ibu. Memang tak semua ibu berani naik motor karena terpaksa, tapi nyatanya seringkali cara mereka mengendarai terkesan tak mau tahu dan berbahaya bagi orang lain. Sudah gitu, sambil menjawab handphone yang diselipin di helm motor pula. Namun ketika saya berada di posisi mereka, saya menyadari bahwa hal itu bukan semata-mata karena mereka kurang piawai mengendalikannya, atau lebih parahnya karena mereka keras kepala, melainkan banyak faktor yang menyebabkan mereka jadi bahan nyinyiran. Terutama yang naik motor matic. Hmmm....

Keberatan Muatan
Anak-anak itu cepat besar tanpa kita sadari. Begitupun ketika saya harus memboncengkan anak saya, yang beratnya nggak beda jauh dari saya. Yup, anak sekarang memang banyak yang berbobot mantap. Mungkin karena kebanyakan susu. Heheheee.... Sudah pada tahu kan kalau motor matic itu bertumpu pada kekuatan tangan, terutama tangan kanan? Kalau pembonceng tidak bisa menjaga keseimbangan duduk, misalnya karena ngantuk, duuuh tangan bisa kram. Untuk jarak 2 km saja saya harus berhenti 3 kali melemaskan tangan. Yang rumahnya jauh dan maksa, akhirnya ibarat terseok-seok, jalannya motor pun nggak lurus, bikin bingung pengendara lain. Jika kita sedang bad mood, pastilah pengin ngomelin ibu-ibu itu. Yang segan tapi butuh pelampiasan, akhirnya nyinyirin ibu-ibu tersebut di socmed.

Kebanyakan Muatan
Biarpun nggak buka warung, seringkali ibu-ibu harus berbelanja dalam jumlah banyak, sekalian untuk beberapa hari. Selain tas kresek yang sudah memenuhi cantelan motor, segala macam sayur diletakkan di bagian tengah motor, belum lagi menggantungkan durian, kelapa atau buah-buahan lain di jok belakang. Diatas jok kadang masih ada kardus berisi belanjaan kering. Saking banyaknya belanjaan, kaki ibu yang sudah tidak bisa dalam posisi normal, akan kesulitan menjangkau rem atau kopling. Mau belok pun susah. Jangan diharap deh bisa menyalakan lampu sign karena salah satu tangan memegang kresek. Kadang malah lupa mengangkat standar motor, bagi yang menggunakan motor manual.

Muatan VIP
Meskipun kecil mungil, tapi muatan VIP ini bikin ibu-ibu jadi galak. Hahahaaa.... Jangan coba-coba klakson-klakson ya, bakal keluar taringnya. Membonceng anak kecil itu harus memperhatikan keselamatan. Ibu-ibu yang memahami spontanitas anak-anak, akan mengikat si kecil dengan dirinya. Anak-anak yang selalu ingin tahu keadaan disekelilingnya, apalagi dalam kondisi bergerak, seringkali tidak waspada sehingga bahaya jika si ibu ngerem mendadak. Anak kecil juga mudah sekali tertidur jika dalam perjalanan, terlebih dibelai angin sepoi-sepoi. Uniknya, anak kecil yang terlelap itu bobot badannya seolah menjadi dua kali lipat, belum lagi anak-anak itu seperti terkulai pasrah 100%, membuat para ibu kerepotan menjaga posisi aman anak-anaknya.

Dikejar Deadline
Mungkin saja ibu-ibu dianggap sebagai pengendara motor yang buruk. Tapi tanyalah anak-anak yang biasa diantar ibunya ke sekolah, siapa yang mereka pilih sebagai the best rider. Papah atau mamah? Mamah, dooong. Ibu-ibu terbiasa mengejar jam masuk sekolah supaya anak-anak tidak terlambat. Ibu-ibu juga terbiasa zig zag membelah lalu lintas siang yang padat agar tidak membuat si anak menunggu dijemput pulang. Meski gaya mengendarainya tidak nyaman, tapi anak-anak merasa aman bersama ibu-ibu karena dijamin tidak telat.

Ditunggu Anggota
Tak jarang ibu-ibu terkesan ugal-ugalan, maunya di depan sendiri tiap lampu merah, bikin kesal pengendara lain. Setelah diselidiki (eh, enggak ding, cuma dapat petunjuk dari obrolan heheheee) kalau ternyata ditunggu anggota di beberapa tempat. Lebih banyak anggota yang menunggu, lebih agresif pulalah si ibu. Kadang satu anggota menunggu di PAUD, satu anggota harus diantar ke bimbel, satu anggota tertidur dirumah, dan sebagainya. Berhubung tak bisa mengangkut semua anggota agar selalu bersama, maka si ibu harus ngebut agar anak-anak tidak terlalu lama menunggu.

Hidup berjalan lancar diantaranya karena saling pengertian satu sama lain. Memang tak setiap tindakan yang bikin kita kesal ada alasannya, tapi dengan mencoba menempatkan beberapa alasan dibalik tindakan tersebut, kita pun tak lagi emosional dalam segala hal. Capek ya, sedikit-sedikit dimasukkan ke hati.
Mangkel banget ketika kendaraan kita sudah berhenti di lampu merah depan sendiri, eh tiba-tiba ada ibu-ibu yang nyelonong berhenti lebih depan lagi, tidak memperhatikan zebra cross. Tapi begitulah, ibu-ibu selalu benar. Wkwkwkkk.... Mungkin mas Elan pun males mau negur. 
Mungkin di lain waktu, mbak-mbak Polwan yang sering berkunjung ke sekolah memberikan pengenalan terhadap profesi kepolisian atau memberikan penyuluhan cara berkendara yang aman juga mendekati para ibu yang sedang parkir di depan untuk menjemput. Mbak-mbak Polwan bisa sekalian mengingatkan ibu-ibu bahayanya jika mengendarai motor tanpa memperhatikan kepentingan pengendara lainnya dan melaksanakan safe riding
Sementara itu.... ya udah dimaklumi dulu. Dua meter dari TKP biasanya udah berkurang kok gemesnya. Hehee....

27 comments:

  1. HAhaha.. mungkin iya, pernah tuh ketemu ibu2 naik motor, lampu sein nya ke kanan tapi beloknya ke kiri :(

    ReplyDelete
  2. Kalo saya Mak, karena merasa gak pinter naik sepeda motor, tiap antar/jemput anak pasti komat-kamit baca doa n dzikir dari mau berangkat plus pas di jalan :D
    Udah gitu ati2 banget, kalo anak kebanyakan cerita saya stop. Hehe... menjaga diri sendiri dan anak. Takut kalo kecelakaan. Udah pernah, sih, waktu kuliah dulu :) *curcol*

    ReplyDelete
  3. Harus sebar emang kalau ada ibu-ibu mengendarai motor hehehe. Apalagi kalau yang suka dari pasar suka belok" sembarangan tanpa pakai lampu isyarat :3

    ReplyDelete
  4. ahahahahaha...ngakak langsung pas baca ibu2 nyelonong. yaaa begitulah,yang belum punya anak aja udah nyeonong2,apalagi ibu2 ya xixixi

    ReplyDelete
  5. Mbak, aku tidak bisa lho nyetor motor secara zig zag. dan aku juga phobia kalau di jalan ada pasir-pasir gettu krn waktu SMP pernah jatuh dr sepeda onthel gara-gara melintasi pasir (gak banyak lho).

    Naruh hape di jepit helm, aku pernah tuh..eh sering dul wktu msh di bwi. al hasil naik motornya super pelas krn yg di ajak ngomong akan protes berisik kalau naik motornya kenceng

    ReplyDelete
  6. Teman saya bilang gini: kalo dekat kamu ada ibu2 naek motor mending segera menjauh, soalnya ibu2 kl naik motor tindakannya kadang2 tidak terprediksi, tiba2 ngerem, tiba2 belok. Jadi kata dia kl mau cari selamat, mending menjauh hehehe.

    ReplyDelete
  7. Saya ngikat anak yang dua tahun dengan gendongan. Dia di depan jadi kalau pun tidur tetap bisa duduk manis di pangkuan. Ih, itu yang pegang stang kanan sampai pegel bener banget. Duh, kalau saya mah jarang njejering orang lain apalagi agak ke depan dikit di lampu merah. Hehe. Postingannya asyik, Mbak.

    ReplyDelete
  8. baruuuu tadi banget mbak ada ibu2 bonceng anak kecil nyelonong lampu merah di bunderan dan gak pake muteri bunderan padahal depannya lagi ijo, itu klo ditabrak gak mau disalahin ..gemeesss

    ReplyDelete
  9. Aku ngebayangin mbk lusi zig zag membelah lalu lintas. . .hahahaha kereen deh.

    Iyaa, dulu pas masih sekolah, aku juga lbih nyaman diantar Ibuk. Soalnya, Bapak suka ngebut.

    ReplyDelete
  10. ibu2 vs anak alay ngebut lebih parah anak alay ngebut -______-
    tapi kalau ada ibu-ibu aku emang biasanya ngindar dan maklum...soale sama ibu-ibu #hloh

    ReplyDelete
  11. saya pernah kecelakaan mbak gegara si ibu main belok kanan aja padahal ada saya di belakang, eh ya udah deh jatuh dua2nya, dia bawa anak pula, jadi saya deh yang salah, alhamdulillah tidak apa2 si ibu dan anak, tapi motor saya bengkok ke kiri dan kaki serta tangan lecet dan lebam

    ReplyDelete
  12. Jadi senyam-senyum sendiri, ingat pengalaman belajar naik motor matic. Niat ngerem, kepencet gas, laaa, mabuur motor-ee. Hihihihi. Namun seperti kata pepatah, lancar kaji karena di ulang, kalau sering-sering pasti tambah piawai mengemudinya.
    Cuma, aku kurang setuju kalau kita harus banyak memaklumi ibu-ibu, justru kita harus tunjukkan bahwa ibu-ibu juga bisa santun di perjalanan, bahkan jadi panutan ~_*
    Kita bisa!

    ReplyDelete
  13. Eemmzz... memang iya harus maklum sama pengendara ibu-ibu, termasuk ibu saya sendiri, masih kurang hati-hati dan masih suka nabrak....hehee...
    Tapi apresiasi kepada ibu-ibu yang berani bawak motor apalagi sampai ke jalan raya, karena kebanyakan ibu-ibu takut, entah karena trauma pernah terjatuh atau faktor lainnya...

    ReplyDelete
  14. saya justru salut pada ibu-ibu yang berani naik motor membelah jalan raya, kadang itu terpaksa dan ada rasa takut juga sebenarnya, tapi demi "keharusan" jadi nekat meskipun ada zig zagnya... hati-hati ya bu... semoga selamat sampai ditujuan... :)

    ReplyDelete
  15. Salut deh dengan ibu-ibu yang bisa mengendarai kendaraan baik mobil ataupun motor. Nggak seperti aku nih, cuma bisa naik becak aja sampai sekarang *ibu penakut

    ReplyDelete
  16. Saya yg termasuk masih nyinyir sampai sekarang dengan tingkah polah ibu2 pengendara motor "yang seperti itu" Mbak. Menurut saya apapun alasannya, di jalan kita benar2 harus saling toleran dan mematuhi peraturan lalu lintas, kalau alasannya adalah seperti yang disebut di atas, kan jalannya bisa di sebelah kiri terus, nggak di tengah2 atau di kanan lantas pelaan banget. Misalnya bawa anak kecil, sekarang kan ada bonceng anak, ya apa salahnya kalau beli atau bawa kain jarik trus anaknya di ikatkan ke pinggang. Apalagi kalau ada yg mau belok (yg ini sih nggak cuma ibu2, lebih sering cabe2an sih) trus nggak nyalain lampu sein itu gemezznya luar biasa, ngebahayain diri mereka sendiri & tentunya pengguna jalan lain.
    Seringnya sih saya berdoa semoga ibu2 yg pakai motor selamat sampai tujuan & maaf ya jangan marah kalau ditegur saat ibu2 melanggar lalu lintas, kita sama2 punya kesibukan & sama2 dikejar deadline, kan? peace..!! ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehee santai aja, ini postingan sepihak kok hasil eksperimen sendiri & obrolan dg sesama ibu2. Wajar kalau pihak lain terganggu. Alhamdulillah teman2 saya sudah pakai jarik untuk mengikat anak2nya, tapi spt yg sy tulis diatas, anak tidur itu 100% nglumpruk, tetap harus dipegangi. Coba dibaca lagi dengan tenang. Lagipula di akhir juga saya sebutkan supaya hal itu mendapat perhatian dari para polisi/polwan agar bisa berkendara lebih baik. Peace juga :))

      Delete
  17. tenang aja aku gak gitu kok walau ibu2 pengendara. Lampu sein wajib itu. Allhamdulillah gak pernah ada yang negur. Sebagai perempuan wajib menaati peraturan juga

    ReplyDelete
  18. saya takut mbak kalau ada ibu-ibu di depan . mau nyalip nggak bisa alhasil ya nurunin gas biar motor lambat. suka ngeri kalau di tikungan, belok suka sembarangan.

    ReplyDelete
  19. Dikejar deadline dan ditunggu anggota itu aku banget... wus... wusss... tetangga sampe kaget ada rossi lewat pake matic :)))

    ReplyDelete
  20. Wahh udah lama pengen nulis ttg ini, tp dr sisi kenapa sy ga mau bawa motor. Ternyataa...begitu toh dari sisi emak pengendara motor. TFS ya makk *muah*

    ReplyDelete
  21. baju juga pengaruh mbak. paling melas kl lihat ibu saya dulu, pakai seragam rok span panjang. duh, mana ibu saya mungil, tingginya ga sampai 150 cm. susah banget nyongkok kl pas berhenti. apalagi bawa tas besar gitu.

    ReplyDelete
  22. aaaargh, ngga bisa motor saya mba, kurang bernyali nih hiks :(

    ReplyDelete
  23. 1 lagi yang masa kekinian, balas sms dan angkat telpon ketika lagi berkendara. ;D

    ReplyDelete
  24. Ahahaha.. sampe ada yg bilang, kalo dijalan ketemu emak2 pake motor matic, jadinya kiamat!

    Aku malah ga bisa pake matic, biasa yg manual mba.. Lbh enak kontrolnya. Pernah skali pinjem motor matic, trus bingung nyari rem di kaki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku takut pake matic. Kayak kurang safe ya? Kalau lupa injak kan bisa terbang?

      Delete
  25. yang bikin ngeri kalo asal nerobos itu loh. bahaya banget

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.