HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Tuesday, October 06, 2015

Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia.

Di Hari Pangan Sedunia yang mengambil tema Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku ini adalah saat yang tepat untuk mengapresiasi kegigihan para petani dan peternak yang berada di daerah-daerah terdampak kabut asap.

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku



Sudut pandang tersebut saya pilih untuk memperingati Hari Pangan Sedunia bukan semata-mata karena bencana kabut asap sedang mendapat sorotan, namun terlebih lagi karena saya pernah tinggal di Riau selama bertahun-tahun dan sampai sekarang masih mendapatkan nafkah dari sana. Rasanya, saya berhutang penghargaan pada para petani yang ketika semua orang dihimbau untuk meminimalkan kegiatan diluar rumah akibat udara berbahaya, tapi mereka tetap pergi ke sawah, ladang dan kandang-kandang.

Sekilas Hasil Pertanian dan Peternakan Sumatra
Ketika tinggal di Pekanbaru, Riau, kami mengenal berbagai macam sayuran segar yang didatangkan dari Sumatra Barat, propinsi tetangga kami. Sayur-sayuran itu tiba di pasar pagi Pekanbaru tiap subuh. Lahan pertanian Riau sebagian besar digunakan untuk perkebunan, beda dengan Sumatra Barat. Karena itulah kami pusing jika Rantau Berangin, daerah perbatasan Riau - Sumatra Barat longsor. Itu artinya, harga sayur mayur melonjak naik. Memang, ada yang didatangkan dari propinsi lain, bahkan Jawa. Riau pun menanam sayur mayur. Tapi sayur yang mudah layu terbanyak didatangkan dari Sumatra Barat.
HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku
Keramba ikan Danau Kotopanjang, perbatasan Riau - Sumatra Barat. Dokumentasi pribadi.

Selain sayuran, Sumatra Barat juga dikenal sebagai penghasil beras yang terkenal dengan Bareh (beras) Solok. Berbagai merk beras dari sana beredar di pasaran.
Selain dari Sumatra Barat, kami juga mendapat suplai dari para petani di Sumatra Utara, tetangga kami yang lain. Ketika berwisata ke Danau Toba, kami sengaja memilih jalan memotong melalui sawah dan kebun di dataran tinggi Sumatra Utara. Berhektar-hektar sawah sedang panen wortel kala itu. Wortel ditata rapi dalam keranjang, siap untuk diangkut. Memasuki Kabanjahe, kami disuguhi pemandangan aneka buah-buahan, utamanya jeruk sepanjang jalan sampai Berastagi, baik yang masih di pohon, maupun yang sudah dipanen. Sumatra Barat memang lebih dikenal memasok jenis sayuran dataran tinggi seperti wortel, kol dan buah-buahan ke Riau.
Kebutuhan bahan makanan pokok dan gizi masyarakat Sumatra terpenuhi dengan cara demikian, saling menyuplai dengan produksi pangan unggulan masing-masing. Karena itu, Riau yang memiliki lahan pertanian terluas tapi sebagian besar diperuntukkan tanaman perkebunan yang bersifat tahunan bisa mencukupi kebutuhan gizinya. Lahan pertanian pangan Riau juga ditanami padi dan sayur-sayuran meski tidak sebesar tanaman keras perkebunan lainnya.
HARI PANGAN SEDUNIA Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku
Rendang, makanan terenak sedunia, berasal dari daging sapi dan rempah-rempah yang ditanam di Sumatra.

Jika teman-teman pernah ke Pekanbaru, pasti tak akan melupakan hidangan ikan dan udang sungai yang lezat. Tak lupa juga ikan danau yang dipelihara di karamba-karamba di Sumatra Barat dan Jambi, serta ikan laut yang ditangkap di Selat Malaka. Orang Sumatra memang terkenal pandai mengolah ikan. Ikan adalah sumber gizi yang juga bisa meningkatkan kecerdasan.
Sumber protein masyarakat Sumatra juga datang dari konsumsi daging, terutama ayam dan sapi. Tak salah jika makanan terenak didunia datangnya dari sini berwujud rendang.
Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan gizi masyarakat Sumatra bisa dipenuhi sendiri. 

Tapi bagaimana kondisi pertanian dan peternakan di Sumatra sekarang ketika kabut asap melanda?

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Dampak Kabut Asap Terhadap Pertanian dan Peternakan

Kabut asap tidak hanya mempengaruhi kesehatan manusia tapi juga tanaman dan peternakan. Kepala Dinas Perkebunan Sumatra Barat, Fajarudin, mengatakan bahwa persarian bunga tanaman bisa terganggu oleh kabut asap sehingga akan mengakibatkan kegagalan pembuahan tanaman perkebunan. Kondisi tersebut masih bisa terbantu dengan penyiraman. Namun fenomena El Nino yang mengakibatkan kemarau panjang akan menjadi kendala tambahan.
Di Riau sendiri, kabut asap memperngaruhi hasil panen sayuran seperti sawi, kangkung, bayam dan seledri. Cabai termasuk yang mengalami penurunan panen yang cukup tajam. Petani di Panam, Pekanbaru hanya berhasil memanen 6 kg per tiga hari dibandingkan yang biasanya 80 kg per tiga hari sekali panen dari 200.000 batang cabai yang ada.
Pada peternakan, dampak kabut asap tidak jauh berbeda dengan manusia. Hewan juga bisa terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas). Bahkan hewan lebih rentan karena tidak bisa mengenakan masker seperti manusia. Selain itu, tidak adanya matahari yang sanggup menembus kabut asap mengakibatkan rumput tak mampu berfotosintesis dan tumbuh dengan baik untuk dijadikan makanan ternak.

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku
Berjuang melawan api dan asap di Riau. Dokumentasi pribadi.

Optimisme Pertanian dan Peternakan Di Tengah Kabut Asap
Indonesia dikenal sebagai negara agraris bukan semata-mata karena tanahnya yang subur, melainkan juga karena memiliki petani yang gigih. Sumatra sendiri telah mengalami berbagai peristiwa alam luar biasa, antara lain tsunami Aceh, erupsi gunung Sinabung hingga sekarang dan tentu saja kabut asap tiap tahun. Namun, pertanian terus dikembangkan.
Meskipun kabut asap yang bersumber dari kebakaran lahan di Sumatera Selatan telah mencapai Sumatra Barat, tapi masih ada optimisme karena hujan tetap turun meski dalam frekuensi yang tidak terlalu kerap. Semoga siraman air mampu membantu memperlancar persarian tanaman perkebunan.
Hal yang sama dilakukan oleh para petani cabai di Pekanbaru. Penyiraman dilakukan untuk membantu tanaman bertahan sehingga tidak kering dan mati. Jika dalam kondisi normal penyiraman hanya dilakukan dua hari sekali, maka selama kabut asap penyiraman semakin sering dilakukan menjadi sehari dua kali. 
Kabar gembira tetap ada, misalnya yang datang dari Rokan Hilir, Riau, yang ikut berperan mewujudkan komitmen pemerintah bahwa Indonesia harus menghasilkan beras sebanyak dua juta ton di tahun 2015. Petani hidup dan mati bangsaku seolah menempel pada pundak mereka dan menjadi tugas yang amat berat. Lahan padi seluas 12.700 hektar mendapatkan dukungan dari pemerintah berupa penyuluhan dan 80 hand tractor yang didanai APBN. 
Hewan ternak yang terlihat lesu mendapatkan perhatian dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan memberi vitamin untuk meningkatkan ketahanan tubuh hewan ternak dari kungkungan kabut asap. Vitamin A, D dan E diyakini mampu mempertahankan kondisi hewan ternak sampai kabut asap berlalu. Selain itu, wilayah Sumatra Barat juga melakukan pemeriksaan kesehatan hewan ternak. Sebanyak 40.000 ayam, kambing, sapi dan kerbau akan diperiksa. Sejauh ini sudah terlaksana sebanyak 15.000 ternak. Peternak dan petugas tetap bekerja dari kandang ke kandang meski kabut asap makin pekat.
HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku
Potret nelayan sungai di pedalaman Riau. Tetap optimis meski hasil tangkapan berkurang akibat kabut asap. Dokumentasi pribadi.



Mengapresiasi Petani Dan Peternak Di Tengah Kabut Asap
Bayangkan, di tengah kabut asap yang berbahaya bagi kesehatan manusia, para petani justru menambah waktu bekerja untuk menyelamatkan tanaman dari kekeringan. Bekerja di sawah atau ladang membutuhkan banyak oksigen karena badan terus bergerak dan energi terus terbakar. Dengan mulut dan hidung yang selalu tertutup oleh masker, petani tidak leluasa bernapas, tapi mereka tetap berjuang agar tanaman tetap hidup.
Tanpa mereka, kebutuhan pangan dan gizi akan sulit terpenuhi karena persediaan pangan di Sumatra lambat laun menipis dan mengandalkan suplai dari pulau lain. Sementara itu, suplai dari pulau lainpun tidak bisa terdistribusikan dengan lancar akibat turut terganggunya transportasi udara dan air. Transportasi darat juga ektra hati-hati karena jarak pandang terbatas. Padahal makanan bergizi justru sangat dibutuhkan ketika daya tahan melemah akibat menghirup udara yang tidak sehat. Fakta tersebut menjadikan petani tulang punggung pangan dan gizi bangsaku.
Petani dan Peternak melawan asap dengan cara yang paling mereka kuasai, yaitu membuat tanaman dan hewan tetap hidup dan bisa dipanen, walaupun mereka sendiri harus bersusah payah bekerja di tengah udara yang berbahaya. Petani pejuang pangan dan gizi bangsaku.

Sumber:
http://www.litbang.pertanian.go.id/special/sumatera
http://www.goriau.com/berita/umum/walau-diliputi-kabut-asap-kabut-78-kelompok-tani-di-rohil-tetap-panen-raya-bersama-bupati.html
http://jitunews.com/read/21192/kabut-asap-bikin-perkebunan-terancam-gagal-panen
http://jitunews.com/read/20732/kabut-asap-mengancam-peternak-mesti-waspada
https://geographylovers.wordpress.com/peta-buta-geografi/
http://pantaupekanbaru.com/berita-38333031-Subdenpom+I/berita-36393231-40+Guru+SMA/berita-303436-Kabut+Asap+dan+Kekeringan+Hasil+Panen+Menurun.asp

You Might Also Like

30 comments

  1. kebayang deh mbak bagaimana susahnya para petani peternak di Riau, di tempat yang optimal tanpa asap saja mereka sudah harus berjibaku mempertahankan pertanaman mereka, semoga kabut asap ini segera lenyap ya, saya juga geregetan kalau melihat alam dirusak, mengapa pembukaan lahan sawit selalu dibakar ya, padahal itu menciptakan efek jangka panjang merusak atmosfer bumi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga padamu yang sebesar-besarnya ya bu penyuluh pertanian. :))

      Delete
  2. salut bgd dah bwt par petani, tak peduli kabut asap sawah ttp digarap, benr2 pejuang,
    sedari subuh sdh prgi ke sawh, kalau waktunya mbanyoni, ngasih air, malah bisa plg smpek malem, apresiasi tinggi dh bwt seluruh petani di negeri ini

    ReplyDelete
  3. Semoga bencana asap segera teratasi ya mak Lusi, apalagi petani yang harus kerja lebih ekstra. Sukses ya lombanya.

    ReplyDelete
  4. Sungguh perjuangan petani yang luar biasa :)
    Merekalah pejuang pangan dan gizi yang sesungguhnya bagi bangsa ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul ustadz, apresiasi layak mereka dapatkan

      Delete
  5. Banyaknya kabut asap yang terjadi di indonesia akibat pembakaran lahan, akan mengakibatkan kekhawatiran tentang dampaknya bagi kesehatan dan perekonomian terutama dalam hal pangan... Para petani sangat buruk sekali nasibnya, selain harus menanggung kekeringan lahan, diperparah dengan cuaca yang sangat panas yang di sertai kabut asap..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka sering luput dari perhatian padahal tak bisa libur.

      Delete
    2. Iya sangat kurang sekali di perhatikan, padahal profesi petani itu sangat penting, karena berkat kerja kerasnya, masyarakat bisa menikmati pangan yang bergizi

      Delete
  6. Riau parah bgt asapnya ya.. ga tega sm semua yg disana.. kebayang petani dsna harus bergumul asap utk merawat pertanian mereka..ga bs tu pake ruang berAC

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesehatan mereka jadi sangat rentan

      Delete
  7. Waah baru tau ternyata adanya kabut asap membuat penurunan produksi cabai yang cukup signifikan ya mbak.Tapi salutt juga ya buat petani Pekanbaru dan Riau yang masih berjuang ke sawah dan ladang untuk bercocok tanam di tengah pekatnya kabut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berkat riset untuk artikel ini jadi tau juga mbak.

      Delete
  8. Oh jadi rendang itu makanan terenak di dunia yaaa #BaruTau #manggut2 hahaha

    ReplyDelete
  9. Tak ada asap tanpa api. Tindak tegas pelanggar logging yg telah menyengsarakan jutaan umat.
    Bentar lagi msm hujan, smoga cpt teratasi.

    masya Allah ... itu foto wanita tangguh mengarungi samudera, tetap berjuang... nice pic.
    good luck mbak, artikel ini layak juara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu sungai mbak. Sungai2 di Riau memang terkenal terdalam di Indonesia dan luas. Dekat sini ada Bono River Surving yang terkenal itu.

      Delete
  10. petani adalah pahlawan yang sebenarnya...
    mungkin kita bisa beli apa saja untuk dimakan tapi dibalik itu semua membutuhkan pengorbanan yang sangat besar,
    kadang kita melupakan atau bahkan tidak peduli sama sekali dengan nasib petani padahal tanpa mereka kita bisa kelaparan...
    semoga bencana asap bisa segera diatasi supaya para petani khususnya di Riau bisa hidup normal lagi...aamiin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Dengan lomba ini wacana saya ketika mencari sumber bacaan jadi terbuka

      Delete
  11. Moga kabut asap segera berakhir, di aceh juga sempat dapat kiriman kabut asap bikin perasaan nggak nyaman, sumpek

    ReplyDelete
  12. melihat kejadian itu di Riau jadi miris banget...bagaimana nasib mereka ya..semoga semuanya segera terselesaikan...amiien...

    ReplyDelete
  13. meski ada asap petani di Sumatera tetap ke ladang dan ke sawah bahkan makin intens melindungi usaha tani mereka. Semangat pak tani, bu tani...we love you. bangsa ini butuh kalian

    ReplyDelete
  14. Saya pernah merasakan asap juga waktu merantau di Kalimantan
    Benar2 sangat mengganggu

    *btw, saya lapar lihat "sesuatu" di piring dalam foto itu* :D

    ReplyDelete
  15. Selamat hari pangan seduniaaa.. Semoga menang yaaa maaak ;)

    ReplyDelete
  16. bangga sebagai part of Indonesia yang terkenal dengan agrarisnya, sukses untuk kontesnya ya :)

    ReplyDelete
  17. tantangan petani di Riau/Pekanbaru makin komplek dengan kabut asap, tak hanya menghadapi harga pupuk yg selangit ya Mbak. Belum lagi tantangan nanti saat panen raya yg biasanya harga gabah anjlog. semoga swasembada pangan kembali bisa dibangkitkan di negeri ini hingga menjadi salah satu food basket di dunia.

    ReplyDelete
  18. yang namanya petani memang kudu dihargai ya mas, oleh karena itu mari kita dukung mereka supaya para petani semangat untuk bekerja dan hasilnya juga akan kita nikmati.

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.