Thursday, November 19, 2015

Berdamai Dengan Jalanan Jogja

Postingan berdamai dengan jalanan Jogja ini adalah sebagai obat untuk menyenangkan hati saya yang gundah.

Selamat pagi ibu pengrajin. Semoga laris, ya. Aamiin.

Lalu lintas Jogja memang sangat mengejutkan bagi saya karena perubahannya yang bagai bumi dengan langit dibandingkan jaman dulu. Kalau soal padat atau macet itu biasa, sayangnya jika diikuti dengan berbagai pelanggaran, misalnya tidak mematuhi rambu, tidak memakai helm, sampai ugal-ugalan. Dengan bertruk-truk sepeda motor dan mobil yang terus dipasok ke berbagai kota, kemacetan sudah menjadi peristiwa umum di kota-kota besar di Indonesia. Jadi masalahnya bukan itu, melainkan sikap pengendaranya. Attitude!
Pandangan lurus ke depan, pleeease.
Rasanya aneh melihat orang Jogja beringas di jalanan karena orang Jogja itu punya karakter santai, terbuka dan mengalah. Bersahabat, kalau kata KLA Project. Mengapa karakter tersebut tidak saya temui di jalan-jalannya? Bayangkan, belum lama di kota ini sudah 4 kali diserempet dan ditumbuk. Dan sebabnya semua sama, tidak sabar mengantri dan tidak peduli dengan pengemudi lain. Tiap-tiap mulai masuk ke jalan besar, selalu ada perasaan memasuki sebuah pertarungan besar yang tanpa belas kasihan.
Setelah berusaha berdamai dengan keadaan, dengan membiarkan saja bekas baret-baret di mobil karena males bolak balik ke bengkel, akhirnya saya mencoba menikmati saja apa yang ada. Itung-itung berlatih pengendalian diri terhadap serangan musuh. Karena jika secara psikologis kita terusik, berarti kita kalah.
Moge juga bisa tertib. Keren, ya.

Meski hampir sama saja dengan kota-kota lain, lalu-lintas Jogja itu unik karena didalamnya selain ada mobil dan motor, juga ada sepeda, becak dan andong. 

Masih banyak warga Jogja yang bersepeda. Selain hobi, dulu ada gerakan Sego Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe) yang artinya bersepeda untuk ke sekolah dan bekerja. Sekarang gaungnya tidak terdengar. 
Sebagian becak Jogja sudah berubah menjadi becak motor. Ini cukup merepotkan karena mereka merasa sebagai motor sehingga masuk ke arus kendaraan bermotor tapi jalannya tidak bisa cepat karena konstruksi yang tidak mendukung beban muatan sehingga tidak bisa menyamai kecepatan kendaraan bermotor lainnya. Sedangkan becak motor itu lebar, seukuran mobil ekonomis, tidak seperti motor sehingga menghambat arus dibelakangnya.
Iya mas, mbak, dahulukan kereta api ya, jangan nyalip. :D

Andong menjadi primadona wisata. Anak-anak senang sekali keliling kota naik andong. Bahkan sekarang ada andong yang lebih besar sehingga kalau keliling kota naik andong yang besar ini rasanya seperti keluarga kerajaan saja.
Masalah parkir dan trotoar merupakan sejoli yang sudah saatnya diambil tindakan tegas. Pemilik usaha umumnya merasa berhak atas trotoar didepannya sehingga merasa bebas menaruh apapun disana, padahal itu adalah hak pejalan kaki. Jika dulu hanya parkir motor dan bengkel yang sering dianggap sebagai pelahap trotoar, sekarang cafe dan hotel ikut melahapnya. 
Ada cafe yang memagari separo trotoar untuk letak kursinya. Sedangkan hotel, kita pasti langsung berpikir jika melihat ada yang membangun hotel demikian besar tapi tak tampak membebaskan tanah untuk parkir. Kalau pedagang kakilima bagaimana? Itu sih bukan pelahap lagi, tapi sudah seperti pemilik sah saja. Pernah suatu kali mau parkir tapi diusir pemilik kios majalah karena menutupi dagangannya. Padahal kiosnya berada diatas trotoar.
Selalu ada yang melawan arus. Jangan ikutan, ya.

Masih bernostalgia jalanan masa lalu, yang jika mengarah ke utara, kita akan disuguhi pemandangan gunung Merapi yang sungguh cantik. Sekarang sering tidak menyadari kita dekat dengan Merapi karena tak tampak. Banyak baliho raksasa di kanan dan kiri jalan yang menghalangi pandangan. Baliho bando yang melintang diatas jalan yang makin banyak dan makin besar itu adalah pendzoliman terhadap kemerdekaan kita menikmati keindahan ciptaan Allah.
Tapi karena sudah diniatkan untuk berdamai, maka harus punya optimisme bahwa di masa depan akan ada penataan yang lebih baik. Semoga pula warga Jogja kembali menggali dan memupuk karakter aslinya yang mengutamakan tepa slira karena itu harusnya bisa diterapkan dimana saja, termasuk di jalan. Sebaik-baiknya penataan yang dilakukan oleh pemerintah kota dan kepolisian tidak akan berhasil tanpa pengendalian diri dari para penggunanya.
Trotoarnya untuk warung tenda, depannya untuk parkir mobil, depannya lagi lalu lintas yang sangat ramai tanpa jeda. Coba tebak, kira-kira pejalan kakinya lewat mana?

Saya akan memulainya dengan diri saya sendiri. 

Silakan memotong jalan saya meski posisi kita tidak aman. Silakan klakson sepuasmu ketika saya sabar menunggu sepeda didepan saya menyeberang. Silakan menyumbat jalan "kekiri jalan terus" karena kamu pengin paling depan sendiri ketika traffic light hijau. Silakan cuek berhenti didepan zebra cross supaya bisa langsung ngebut ketika traffic light hijau. Saya tidak akan membalas atau marah. Saya malah kasihan dengan kamu. Kamu stress, ya, hidup di Jogja? Nikmati Jogja, gaes.

26 comments:

  1. foto pertama tipikal khas negara berkembang ya berkendaraan motor bawa barang segambreng , safety no sekian , bismillah hehhee.
    delman masih bebas di jalan raya ya di yogya

    ReplyDelete
  2. beneran mbak..rusuh deh klo udah sak enaknya sendiri di jalanan. apalgi yogya kan klo di kotanya jalannya relatif smepit, udah gt rame pula ya kan.
    kayak bukan yogya #eh...

    ReplyDelete
  3. Kayaknya masalah lalu lintas yang semrawut ini terjadi di mana-mana deh. Bahkan sekarang aku mau nganter Moses sekolah aja mesti memperhitungkan macet di perempatan yang diakibatkan pengendara motor yang gak sabaran. Dan kalau udah macet, bisa stuck berhenti total sampai 1 jam krn jalanannya kecil. Pdhl kalo normal, naik motor ke sekolahnya gak nyampe 5 menit -_-

    ReplyDelete
  4. Di mana-mana masih banyak kayak gini. Sabar... sabar....

    ReplyDelete
  5. wah kirain di jogja malah lebih santai jalanannnya hehe ternyata kalau di kotanya sama aja..pernah ke jogja setahun lalu bareng istri :D

    ReplyDelete
  6. Wah, Jogja juga begitu ya? Bandung lebih parah, MakLus, angkot banyaaaaaak banget. Dan ngeselinnya bikin ubun-ubun ngebul. Bener-bener penguji iman deh jalanan Bandung sekarang mah...

    ReplyDelete
  7. Tuhan mencintai orang yang sabar dan orang yang tidak marah.. Nikmatin jogjaaa!
    Foto delman pasti membuat mbak gagal fokusss :D

    ReplyDelete
  8. beginilah profil negara berkembang. Semuanya serba terburu-buru, cumu bisa sabar aja menghadapi pengguna jalan lain daripada gak slamet

    ReplyDelete
  9. Waduh kebayang mbak bener-bener jadi kesempatan untuk banyak belajar bersabar yah :D

    ReplyDelete
  10. aku pernah ke jogja pas liburan natal.. huwaaaa... macetnya ngalah2in jakarta ya mba...

    ReplyDelete
  11. kalo kata suami saya, kepribadian org itu bisa diliat ketika dia berkendara di jln raya. Hmm... saya pikir bener juga.
    di kota saya, termasuk semrawut dlm urusan jalan raya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gitu ya? Pantesan kok nggak nyambung antara karakter umumnya dan kelakuan di jalan. :(

      Delete
  12. Saya sudah jatuh cinta pada kota ini. Meski terkadang macetnya arah UGM Sagan dan juga Gramedia ampun2an. Namun tak tahu kenapa mengapa saya suka ritme kota ini. Entahlah. Ketika saya kembali ke Pekalongan, jika rindu mendera, saya akan menyanyikan lagu Yogyakarta-nya Kla Project. :D

    ReplyDelete
  13. makin terasa semrawutnya yaaa mak..tapi selalu cinta kota yang satu ini :)

    ReplyDelete
  14. Uniknya jalan raya di Jogya ini juga aku rasakan sjk awal pindah di Yogya. Tapi aku akui juga, utk ukuran kepadan dan keruwetan LaLin Jogya, tingkat kecelakaan di jalan raya relatif rendah dibandingkan kota besar lainnya. Ataukah, aku yg krg apdet berita kecelakaan kah?

    ReplyDelete
  15. Patuhi rambu2 lalu lintas, dan selalu berdoa sebelum memulai perjalanan...

    ReplyDelete
  16. Aku wkt ke jogja jg macet. Tp seneng pas liat ada atraksi saat lampu merah. Ndeso tenan

    ReplyDelete
  17. di jalan raya diuji kesabaran ya mbak. kayanay skr banyak yang cuma bisa mengendarai kendaraan tapi gak ngerti tata tertib

    ReplyDelete
  18. Waktu ke jogja, aku lbh bnyak explore jalan kaki sampe gempor, bahkan dr lempuyangan ke malioboro. Jd ngga sempet ngerasain naik kendaraan bermotor, tp emg keliatan sih crowded bgt jalanan d tengah kota. :D

    ReplyDelete
  19. Ungaran podo mbak, ugal-ugalan.. Jadi stres kalo fi jalan, kayaknya semuanya punya nyawa 10 huhu

    ReplyDelete
  20. hehe... utung saya tinggal di kampung, tidak harus berdamai dgn yg gituan :)

    ReplyDelete
  21. Sudah lama tak jalan-jalan di Yogya. Untuk P. Jawa, Yogya memang kota besar unik ya—selain campur-baurnya mobil dan andong c.s., juga perpaduan kultur lokal dengan trend kekinian + metropolis yang sulit ditemui di kota lain. Tapi memang sih, soal parkir, terakhir kali ke sana.. susah! :D

    ReplyDelete
  22. Mantap dah postingannya, jangan galau y gan

    ReplyDelete
  23. Aku juga kaget dng semrawutnya lalu lintas Jogja mak. Serba terburu-buru dan sak pekak e dewe

    ReplyDelete
  24. saya pernah ke jogja pas taun baru, haduuhh macetnya minta ampun campur dan tuplek blek jadi satu..
    tapi macetnya jogja pas taun baru masih kalah macet dengan cikarang-bekasi pas hari biasa hehe

    ReplyDelete
  25. jogja mulai macet mb, dan semakin banyak saja kendaraannya
    harus sabar sesabar-sabarnya memang terutama jam-jam sibuk

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.