Monday, January 11, 2016

Tips Jika Tetangga Hajatan

Di jaman modern ini masih perlu nggak sih tips jika tetangga hajatan?

tips jika tetangga hajatan


Berhubung sering pindah rumah, perkara tetangga hajatan ini sering bikin salah tingkah, takut salah bersikap. Kita ingin selalu diterima lingkungan agar hidup nyaman kan? Sementara kita tidak tahu apa yang diharapkan warga terhadap kita. Dan seperti di semua kehidupan di dunia ini, ada yang yang baik hati menerima segala kekurangan kita, ada pula yang resisten sehingga susah sekali didekati. Ayah saya bilang, kalau ada kesulitan melakukan pendekatan, gunakan diplomasi perut. Tapi ya begitulah manusia, tetap saja ada satu dua orang yang merasa kurang terus dengan cara pendekatan kita. Maka yang utama adalah berusaha sebaiknya saja dengan ikhlas dan tak perlu memikirkan hasilnya.
Orangtua saya yang sudah jelas-jelas jadul, selalu praktis jika mengadakan acara keluarga. Semua makanan dan minuman diborongkan catering dan jika acara besar seperti pernikahan menyewa gedung. Ini bukan karena orangtua saya kaya, tapi karena menyadari bahwa rumah kami kecil, tidak ada tempat untuk masak massal dan anggota keluarga kami sedikit, tidak cukup untuk diserahi tanggung jawab macam-macam.
Ketika saya sudah dewasa, saya berpikir manusia jaman modern akan mengambil keputusan yang lebih praktis lagi dibandingkan dengan orangtua saya dulu. Ternyata tidak juga. Sampai sekarang masih ada yang membuka dapur umum untuk memasak dan mencegat jalanan untuk memasang tenda. Kehebohan yang membuat warga disekitarnya ikut repot. Namun demikian, namanya juga bermasyarakat, apapun keputusan yang dibuat oleh tetangga terkait dengan hajatannya itu harus kita dukung. Bisa saja suatu saat karena suatu hal, kita pun mengambil keputusan seperti itu sehingga memerlukan dukungan tetangga juga.

Jangan Kudet
Berhubung sudah tidak punya bayi lagi, saya tidak pernah jalan-jalan sore. Padahal itu waktu yang paling baik untuk gaul dengan ibu-ibu tetangga. Kita bisa tahu ibu A mau hajatan khitanan anaknya, ibu B mau memperingati 1000 hari orangtuanya, ibu C mau menerima lamaran untuk anaknya dan sebagainya. Banyak acara yang tidak menggunakan undangan resmi meski jaman sudah modern. Sering pula, meski ada undangan cetak, kesibukan persiapan sudah terjadi beberapa hari sebelumnya.
Sekarang sudah lazim pula ada group BBM atau whatsapp dengan tetangga. Ibu saya yang sudah sepuh-pun minta smartphone yang bisa untuk instal whatsapp karena ajakan bezuk tetangga yang sakit lebih sering disebar di group chat.
Hasil dari gaul ini adalah kita tahu siapa yang butuh dukungan dan kita sendiri juga harus siap jika hajatan tersebut berdampak pada kelancaran kegiatan anggota keluarga kita.


Tawarkan Diri
Ketika masih mahmud, menawarkan diri untuk membantu orang hajatan itu masalah besar buat saya. Rasanya tidak percaya diri, bingung mau ngomong apa. Sekarang karena sudah berusia matang, jadi santai aja kalau menanyakan ke tetangga apa yang perlu dibantu. Jika rumah tetangga agak jauh, bolehlah kita tidak menawarkan diri jika sibuk. Tapi jika pas di kanan, kiri atau depan kita, wajib menawarkan diri sesibuk apapun kita. Setengah jam nongol sudah cukup menyenangkan tetangga.
Membantu hajatan tetangga tak pelu seharian, sesuaikan saja dengan kesibukan keluarga kita sendiri. Jika rumah tetangga tersebut berbatasan langsung dengan kita, tak ada salahnya beeberapa kegiatan rumah tangga yang tidak terlalu penting, misalnya ngepel, ditunda dulu saja agar punya waktu untuk membantu tetangga hajatan atau rewang.

Keputusan Tetangga adalah Yang Terbaik
Ingat selalu bahwa kita hanya membantu, itupun tergantung dengan waktu luang kita. Maka dari itu tak perlu usul yang tak mampu kita jalani hingga akhir. Keputusn tetangga tersebut pasti sudah yang paling sesuai dengan keadaannya. Jika punya usul yang membuat persiapan acara tersebut lebih lancar, sampaikan dengan baik agar tidak membuat tetangga tersebut panik menyadari beberapa kekurangan dalam mengeksekusi rencananya.

Siap Terganggu
Beri pengertian pada anggota keluarga, terutama anak-anak, bahwa keseharian mereka akan terganggu. Kadang di perumahan yang padat penduduk, kita terpaksa parkir agak jauh karena jalanan di sekitar rumah didirikan tenda sehingga tidak bisa masuk ke garasi kita sendiri, sedangkan didekatnya tidak  ada tanah yang cukup lapang untuk parkir. Kadang si pemilik hajatan menggelar live musik seharian hingga larut malam. Jika kita punya halaman yang cukup luas, tak ada salahnya menawarkan untuk dijadikan dapur umum atau tempat parkir tambahan dengan persetujuan keluarga. Cobalah untuk ikut menikmati keramaian yang ada.

Jangan Mengganggu
Disinilah kita bisa melatih tenggang rasa dan saling menghargai adanya perbedaan budaya. Tak jarang kita anggap acara yang diselenggarakan tak ada hubungannya dengan yang diperingati. Itu tak usah kita pikirkan karena banyak sekali budaya yang bersifat simbolis yang secara filosofis hanya dipahami oleh orang-orang yang bersangkutan. Yang penting kita beri pengertian pada anak-anak untuk menghargai perbedaan tersebut agar mereka tidak bingung. Terlebih lagi anak-anak sering tiba-tiba bertanya mengapa orang tersebut berbeda dengan dirinya. Daripada menimbulkan salah paham, lebih baik anak-anak kita beri penjelasan lebih dulu. Demikian pula jika acaranya duka cita, keluarga harus diberi pengertian akan toleransi dengan tidak menyalakan musik yang berlebihan, tidak tertawa terbahak-bahak diluar rumah dan sebagainya.

Memang, bersosialisasi dengan tetangga itu susah-susah gampang. Paling mudah adalah bertanya apa yang bisa kita lakukan untuk tetangga, kemudian menyesuaikan dengan kegiatan kita sendiri. Setelah itu jangan cemaskan hasilnya, ikhlas dan berlanjut terlibat ke kegiatan lingkungan lainnya.

16 comments:

  1. Saya kok salah fokus, lihat fotonya jadi laper hehehe

    ReplyDelete
  2. Hallo Mba Lusi...
    Tips-nya sangat bermanfaat ya...
    Maklum aja, tetangga kadang-kadang mempunyai tingkah laku yang aneh-aneh... hehe :D
    Salam,

    ReplyDelete
  3. kalau aku itu suka nya nunggu udah masak kita tinggal makan

    ReplyDelete
  4. idem sama Mbak Fita, lihat foto masakannya yang menggugah selera saya jadi lapar euy :)

    ReplyDelete
  5. itulah mba seninya hidup di kampung yah...seru sih...

    ReplyDelete
  6. Memang begitulah hidup bermasyarakat selalu ada warna tersendiri....pro kotra pasti ada karna HAQIQAT semua di dunia semua berpasangan

    ReplyDelete
  7. kadang tetangga gak meminta bantuan karena sungkan ya mbak, gak apa-apa kita yang menawarkan bantuan duluan

    ReplyDelete
  8. kalo di kampung saya masih mengandalkan tetangga mbaa,, beberapa hari sebelum hajatan gitu datang ke rumah2 trus minta bantuan biasanya sudah dipos2kan bagian2nya: masak, bikin kue, bikin lauk. kalo pasang tenda bapak2 yang datang ke rumah2 jadi tidak nyegat orang di jalanan hehe

    ReplyDelete
  9. memang kagok rasanya kalau ada tetangga yang punya hajatan kalau tidak datang..
    kurang enak rasanya ya mbak lusi...

    menawarkan diri memang menjadi solusi terbaik..

    ReplyDelete
  10. di kampung ortu juga masih suka saling bantu antra tetangga kalau hajatan, kalo di tempat tinggal saya sekarang kebanyakan di gedung, sewa catering...

    ReplyDelete
  11. Bertetangga itu memang mengasah kepekaan hati mba hihiii... kudu pinter2 beradaptasi meskipun tak bisa selalu menyenangkan banyak pihak.

    ReplyDelete
  12. eh, kudet itu artinya apa ya mbak?

    ReplyDelete
  13. Belum pernah bantuin hajatan tetangga sih,krn emang blm ada yg dibantuin hehe. Tapi kalau di rumah ibuku di Surabaya sana, kebetulan tetangganya guyub, biasanya ibuku juga bantu kasi sumbangan gula, telur dll klo ada yg hajatan. Kdng juga saling bantu memasak. Kalau, saya, anaknya blm pernah hehehe :p
    Mungkin jg krn kondisi tinggal di perantauan, dapat kontrakan selalu kontrakan pagar tertutup yg tetangganya lu lagi lu lagi, jd agak kurang membaur.Yaaa mungkin ntr klo dah pny rmh sendiri baru ngrasain punya tetangga yg sbenarnya hehe

    ReplyDelete
  14. Menjadi tetangga yang baik memang dusah-susah gampang ya mba.. Kecuali di sini, blas cuek bebek walaupun kalau kita dekati baik juga :)

    ReplyDelete
  15. pernah ikut rewang waktu tinggal di Solo. ngumpul semua dg catatan bawa pisau sendiri2. waktu itu punya bayi. bantuin sebentar aja tetangga yg hajatan udh seneng. biar ga dicap sombong sbg pendatang

    ReplyDelete
  16. Klo rewang... Prinsip saya setor muka aja, bentar..yang penting kliatan. Tapi aku pernah pusing juga krn dikmpungku hajatan bnyak bgt. Orang meninggal, 7, 40 hari, 100... Mitoni, lairan, nikahan ... Social cost tinggi. Eh..sampe aku prnh brkhayal...knp ahmad dahlan nggak lair dan besarin muhammadiyah di sini aja...biar penduduk tercerahkan...

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.