Friday, February 26, 2016

Kehebohan Para Ibu Yang Umum Terjadi Di Musim Anak Ujian

Para ibu tentu ingin anak-anaknya berhasil melewati musim ujian, tapi yang terjadi malah berbagai kehebohan yang umumnya justru membuat suasana belajar tidak nyaman.

kehebohan ibu ketika anak ujian


Memang, pelajaran sekolah makin hari makin sulit. Yang dulu kita pelajari di SMA, sekarang sudah dikuasai anak-anak SMP. Belum lagi persaingan yang makin ketat antar teman dan antar sekolah. Ketika musim ujian tiba, entah ujian tengah semester (UTS), ujian akhir semester (UAS), ujian sekolah, apalagi ujian nasional (UN), orangtua juga ikut tegang. 
Para orangtua pengin mengajari tapi sudah nggak ngerti pelajarannya. Mungkin kalau SD masih bisa ya. Membiarkan saja belajar sendiri, tapi kok sepertinya si anak jadi terlalu santai. Dorongan untuk membuat segalanya lancar bagi sang kesayangan seringkali malah disikapi dengan pilihan-pilihan yang malah bikin heboh, sehingga tidak membantu anak-anak untuk tenang. Saya sering menyadarinya setelah semua jadwal ujian selesai dan berulang di musim ujian berikutnya. Begitu terus sampai anak-anak besar, nggak kapok-kapok. Karenanya, catatan tersebut harus saya posting agar tidak terulang dan agar diambil hikmahnya oleh ibu-ibu lain. Tapi nggak janji juga, ya.

Nyetok Snack. Logika ibu-ibu bagaimana nih? Begini! Anak-anak akan sangat sibuk belajar sehingga nggak sempat kemana-mana. Dengan nyetok snack, anak-anak tidak akan bosan dirumah dan penat belajar, Mereka pasti senang sekali belajar ditemani snack yang enak-enak. Tapi logika ini sering tak berbanding lurus dengan hasilnya, bahkan mengakibatkan 2 hal ekstrem.
Pertama, karena grogi menghadapi ujian, anak-anak jadi tegang dan menggunakan makanan utuk meredakan ketegangan. Difasilitasi dengan stock makanan berlimpah, anak-anak malahan ngemil terus. Pikiran nggak fokus, setelah kenyang malah ngantuk. Jadi kapan belajarnya?
Kedua, jika si anak merasa benar-benar nggak siap ujian, jangankan ngemil, jadwal makan yang utama saja akan di-skip. Akhirnya snack malah mubazir dan si ibu ngomel-ngomel karena merasa usahanya tidak diperhatikan. Nah, jadi drama deh si ibu. Padahal acara utamanya kan ujian si anak, ya?

Menyuruh Belajar. Jaman dulu, merekam suara masih pakai pita, kalau rekaman diputar berkali-kali akan membuat pitanya kusut. Nah, musim ujian itu banyak deh ibu-ibu yang memutar ulang perintah belajar sampai pikiran anak-anak jadi kusut.
Baru nonton tv sebentar sepulang sekolah, "Loh kok malah nonton tv? Belajar gih!"
Baru pegang hp sebentar untuk melihat group sekolah, "Loh kok malah pegang hp? Belajar gih!"
Baru baca komik sebentar, "Loh kok malah baca komik? Belajar gih!"
Baru baring-baring di kasur. "Loh kok malah mau tidur? Belajar gih!"
Jika terus-menerus seperti itu, kalimat awalnya sudah tidak terdengar lagi. Yang mampir dalam pikiran hanyalah perintah belajar, belajar, belajar. Kasihan amat itu anak pasti stress. Memang tak semua anak patuh, kadang ada yang bandel, kadang ada yang sedang punya masalah dengan temannya (apalagi yang remaja), kadang ada yang nggak enak badan, kadang ada yang jenuh dan sebagainya. Selama tidak kebangetan, biar saja ada selingan-selingan.

Membandingkan Dengan Anak Lain. Cara belajar anak-anak itu berbeda karena memang tak ada manusia yang diciptakan sama. Tak perlu heboh menyuruh si anak ikut bimbel abcd ketika melihat ortu lain sibuk mengantar anaknya kesana. Meskipun bimbel tersebut sangat terkenal, tapi tak mungkin 100% siswanya juara. Katakanlah satu ruang bimbel ada 20 siswa yang berasal dari sekolah yang sama, tak mungkin semuanya juara jika sekolah tersebut cuma ada 5 kelas.
Sebaliknya, tak perlu panas melihat anak lain yang sukses dengan belajar sendiri lalu mengungkit-ungkit biaya bimbel yang telah dikeluarkan tapi hasilnya tak lebih bagus. Ada anak yang sudah tahu cara belajar yang sesuai baginya. Ada anak yang butuh bantuan untuk memahami pelajaran.
Bertanyalah pada si anak tentang cara belajar yang diinginkannya. Jika kita sudah menuruti si anak tapi hasilnya tidak memuaskan, bisa dievaluasi berdua sebabnya, jangan langsung menyalahkan. Misalnya, sudah disepakati untuk les privat matematika tapi nilainya malah jeblok. Mungkin saja ortu yang salah memilih guru.
Memotivasi anak-anak dengan membandingkan prestasinya dengan anak lain tidak akan pernah berhasil. Jika ingin memotivasi, berilah contoh perjuangan anak-anak lain. Perjuangannya ya, bukan hasil akhirnya. Itupun harus dengan kalimat yang terpilih agar tidak membuatnya justru antipati, bisa repot. Anak yang antipati malah kadang menyengaja untuk gagal, meskipun sebenarnya dia bisa berhasil. Ini gawat.

Mau Jadi Apa Sih? Well, mungkin itu kalimat yang sering terdengar si musim ujian. Para ibu ingin melihat pandangan anaknya tak lepas dari buku atau laptop. Tapi ndilalah ada saja yang dikerjakan si anak selain takzim menghadap huruf dan angka. Dari tidak patuh nyuri-nyuri browsing kpop, cari-cari alasan keluar rumah karena mendengar teman-temannya mondar-mandir sepedaan didepan rumah, sampai ngusilin adiknya. Lalu pecahlah suara si ibu teriak, "Mau jadi apa sih?!"
Tak ada salahnya pertanyaan seperti itu, tapi tanyalah dengan suara datar dan bersahabat, "Sayang, pengin jadi apa kalau sudah besar nanti?"
"Pengin jadi artis terkenal, mah."
"Wow keren. Kalau begitu sayang harus belajar yang rajin ya. Nanti kalau sudah jadi artis, guru-guru dan teman-teman sekolahmu juga diwawancara wartawan lo. Masa rapornya nggak bagus? Contohnya Cinta Laura tu, pinter banget kan?"
Buat mereka berpikir apa yang mereka paling inginkan dalam hidup ini supaya mereka punya kegigihan untuk meraihnya. Kalau dimarahi thok, si ibu yang capek sendiri. Sudahlah pakai oktaf ke 8 seperti Mariah Carey, eh cuma masuk dari telinga kiri, keluar dari telinga kanan.

Baca juga: Perjanjian Orang Tua dan Remaja

Diingatkan, Malah Lupa. Setelah semua persiapan dilakukan dirumah, tibalah di hari H. Apa yang terjadi? Kartu ujian ketinggalan. Pensil 2B entah dimana. Salah seragam bukannya mustahil terjadi loh. Heboh di pagi hari, mondar mandir sambil terus mengingatkan ini itu tidak selalu berhasil, meskipun seringnya bisa menyelesaikan huru hara berangkat sekolah. Ibu yang emosional di pagi hari akan merusak mood anak-anak. Yang seharusnya mereka siap bertempur, malah berwajah suntuk karena habis diomeli. Sebaiknya lakukan persiapan lebih baik lagi, yaitu dengan menyatukan semua kebutuhan esok hari dalam satu tempat. Meski demikian, itu tetap tak menjamin semuanya lancar. Teman-teman saya memberikan testimoni bagaimana tas sekolah saja bisa ketinggalan. Jadi, ambil momen beberapa menit sebelum berangkat sekolah untuk menjernihkan pikiran dan berdoa, sambil mengingat kembali apa yang harus dibawa.

Iya, Allah menganugerahi kita anak bukan untuk enak-enakan, cuma nanem investasi lalu tinggal menunggu hasilnya. Susah senang dalam mendampingi anak sebenarnya terkandung banyak pelatihan kesabaran, ketabahan, nalar, akal sehat, kepekaan dan sebagainya yang membuat kita sebagai orangtua makin bijaksana.

40 comments:

  1. Duuh, aku bakal mulai ngalami tahun depan, huhuhuuu :'(

    ReplyDelete
  2. Semoga dilancarkannya bagi anak2 yang sedang ujian. Diberi kesehatan dan kemudahan dalam belajar. Semangat Mom!!!

    *Gak usah BW saya lagi gk update

    ReplyDelete
  3. Aku iya semua kayaknya kecuali yang pertama : gak pernah nyetok snack. Krn sadar diri kami punya gen diabetes jadi jarang nyemil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah gak yangka ada gen diabetes, krn sehat segar semua

      Delete
  4. Ohhh jadi ibuku dulu gitu juga kali ya..

    ReplyDelete
  5. Balada punya anak yang sudah sekolah. Aku pasti akan merasakannya kelak. Skrg anak masih kecil2. Noted dulu catatan ini. Siapa tau bs dipraktikkan nanti. Qiqiqiiqi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dinikmati dulu, masa kecil cuma sebentar :))

      Delete
  6. Anak-anakku masih balita tapi aku jg kdng suka cerewet, terutama klo misalnya mereka susah makan, gak mau beresin mainan dll, kalimat "Mau jd apa kamu?" suka keceplosan :( huwaaaaaaaaaaaa

    Bt soal nyetok snack, emang sih saya malah gak konsen klo belajar sambil nyemil hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. AKupun heran, kenapa ya reaksi kita yg paling sering gitu? wkwkwkk

      Delete
  7. You know me so well maaaak
    . beberapa mirip kejadian di rumahku

    ReplyDelete
  8. anak yang ujian biasanya orangtua yang deg-degan mbak, dulu waktu aku ujian bapak mamah ku mondar mandir bikinin aku cemilan sama teh waktu begadang, ntar gantian aku deh ke Alfi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orangtua pasti gak tega anaknya belajar lbh keras dari biasanya. Ekspresinya jadi macam2 :))

      Delete
  9. Pernah melewati masa anak2 juga.. waktu itu paling tidak suka kalau orangtua membanding2kan aku sama anak orang lain, rasanya gimana gitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, rasanya gimana gitu ya, kan sudah berusaha

      Delete
  10. Begitulah jadi ibu yaa.....banyak sekali..

    ReplyDelete
  11. Terkadang aku keceplosan jadi membandingkan dengan anak lain, mba. HIkss. Padahal itu kan tidak baik bagi anak. Untunglah skarang sudah mulai tidak seperti itu lagi

    ReplyDelete
  12. anaknya ujian, ibunya ikut senam jantung ya..haha
    itu karna ibu sayang bget sama anaknya :)

    ReplyDelete
  13. Anakku levelnya masih uts ma TKM mbak..tapi yo gitu juga. Heboh. Anaknya adem ayem. Bapaknya juga. Mungkin krn prestasi anak kebanggaan ibunyaa... :-)

    ReplyDelete
  14. Makin besar anak, semakin banyak ombak yah mba.. Noted. Makasih mba sharingnya..saya suka sedih klo ada ibu yg nyalahin anaknya tapi ngga sebanding sama apa yg diajarkan :'(

    ReplyDelete
  15. hihihiii..nomor satunya siapkan snack ya mba hahahaha..aku banget itu :). Anak mau ujian malah sibuk masak hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya juga pengin mereka punya mood bagus untuk belajar ya

      Delete
  16. untuk bagian nyetok snack aku gak masuk mbak hehehe. Gak suka ngemil

    ReplyDelete
  17. walau bakal alamin ini bertahun berikut, tapi jadi gugup yaa baca ini hahahhaha udah bayangin duluan gimana saya nanti >.< hadeuhhh

    epic kalimat penutupnya!

    sering-sering sharing yaaa mak kayak ginian hehehhe

    like like this article :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Santai aja, nikmati dulu, jamanmu suk udah beda heheee

      Delete
  18. Punya ibu yang bisa bikin anak jadi ngerasa bersahabat itu awesome banget.

    ReplyDelete
  19. Betul itu semuanyaaa. Suka gemez liat masa2 ujian kok anak2 malah santai aja, belajarnya juga sebentar banget, kadang sambil nyetel lagu hahaha.
    Musim ujian mamanya ini juga ditodong buat beliin cemilan yang banyaaakk. Nggak ada cemilan nggak bisa belajar kata mereka :D

    ReplyDelete
  20. haha bener banget, adek saya yang msh SD juga sering diomelin suruh belajar sama ibu

    ReplyDelete
  21. momen ujian anak sepertinya jadi momen yang paling sakral dalam hidup seorang ibu ya... jadi ikut deg2an padahal masih tahun depan

    ReplyDelete
  22. waktu jamannya sekolah sering bngt diomelin buat belajar, apalagi kalu ada Ujian. sampai habis subuh juga dibangunin suruh belajar..

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.