Tuesday, March 01, 2016

Jangan Sebarkan Cerita Pihak Ketiga Di Media Sosial

Jangan sebarkan cerita pihak ketiga di media sosial, termasuk group chat bila tidak terjamin kebenarannya.


sebarkan cerita di media sosial


Internet membuat berita mudah tersebar. Tinggal klik langsung nyebar, sebelum kita rampung mencernanya. Kita memang tidak rugi apa-apa, paling-paling kecele dan malu kalau ternyata berita itu tidak benar. Tapi jika dipikir lebih jauh lagi, sebenarnya kita diberi kebijakan untuk menimbang apakah yang kita sebarkan itu berita sampah atau bukan, jadi mari kita gunakan. Lebih bagus lagi kalau bisa memastikan bahwa itu adalah fiksi sehingga menambah bahan bacaan followers kita.
Mungkin ada yang pernah membaca tentang anak laki-laki korban pelecehan di sebuah mal yang ternyata hoax padahal nama tempatnya sudah telanjur disebut? Kita memang seperti itu. Jika mendapat cerita seru langsung saja ditulis dan disebar tanpa verifikasi cuma dengan modal "kata teman saya". Masih untung pihak mal tidak menuntutnya dengan UU ITE. 

Sedihnya lagi, asal sebar tidak kapok-kapoknya dilakukan oleh teman-teman yang aktif di media sosial

Lha wong punya akun sosial media aktif berarti kan seharusnya sudah gaul banget dan paham benar baik buruknya penyebaran informasi yang didapatkan. Tapi ya begitulah, sampai capek lihat "copas dari tetangga" yang nggak penting-penting banget berseliweran, ditambah dengan penutup "sebarkan". Akhirnya terpaksa mute group yang kebanyakan "copas dari tetangga" karena kalau keluar group malah ditanya-tanya kenapa. Hahaaa....

Pendiam itu baik. Ada ungkapan kekecewaan karena banyak orang baik yang diam. Tapi kekecewaan tersebut tak salah jika berkaitan dengan masalah kemanusiaan. Sedangkan jika untuk mengejar eksistensi, hati-hatilah jika kemudian asal nyetatus. Pendiam itu baik kok kalau tidak ada sesuatu yang penting dan membawa manfaat untuk disampaikan. Bermanfaat tidak harus yang bikin orang mikir, kan? Status lucu juga bermanfaat menyenangkan hati orang lain. Yang jelas status itu tidak mengandung informasi yang tidak bisa kita verifikasi.

Kata si anu. Tinggalkan semua informasi dengan awalan "kata si anu" karena itu mengandung gosip, bahkan bisa juga fitnah, karena tidak bisa kita verifikasi. Kita berdosa jika menyebarkannya. Jika ada yang forward atau share lagi, berarti double dosa kita. Bila itu viral, entah berapa lapis dosanya. Misal ada kutipan dari seseorang yang jelas, katakanlah Amir, pastikan bahwa itu benar-benar dari akun Amir, bukan dari share orang ke 9. Di kegiatan-kegiatan team building seringkali ada games estafet kalimat. Hasilnya, pasti ada saja yang sampai tujuan kalimat tersebut sudah berubah total. Begitulah analoginya.

Sensasi keren yang menggoda. Jika mendapatkan berita seru, penginnya kan langsung menyebarkan dan rumpi membahasnya dengan teman-teman kan? Tapi cek dulu, siapa sumber beritanya? Apakah dia mengalami, melihat atau mendengar sendiri kejadian itu? Apakah dia punya hubungan saudara atau teman akrab dengan sumber berita? Hati-hati jika sumber beritanya bilang, "Kata temanku bla bla bla...." Meski beritanya super seru setema dengan yang sedang ngehits di media, tahan diri untuk menyebarkannya. Meskipun kita menggunakan sumber "kata temannya temanku" yang jelas-jelas meragukan, tetap banyak lho yang berkomentar tak kalah serunya tentang berita tersebut, seperti berita hoax diatas.

Naif yang terlambat. Ketika sebuah berita yang kita sebarkan terbukti hoax, percayalah, bersikap naif itu ngeselin banget. "Saya tidak menyangka status saya tersebut menyebar" adalah kata-kata yang bikin bete. Karena media sosial adalah padang luas terbuka yang memungkinkan apapun yang tidak kita anggap penting bisa viral dan trending. Apapun bisa terjadi, makanya sering kali kita diingatkan untuk think before posting. Bahkan di path yang konon eksklusif, sudah berkali-kali ribut karena percakapan yang beredar luas. 

Apakah itu yang disebut naif jika tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa tersebut?



Media sosial dan group chat adalah media untuk bersosialisasi. Bersosialisasi ya, bukan bergosip. Percakapan dalam bentuk tulisan ini memudahkan karena tidak harus bertemu tapi juga tricky. Orang dapat dengan mudah meng-capture tulisan kita dan menyebarkannya. Tak ada ruang untuk salah memposting. Hati-hati ya, teman.

27 comments:

  1. Kalau fwd an biasa masih mending mba, yang bikin geleng2 itu kalau fwd an yang mengandung SARA dan pakai panas2an kata kafir, bidah, yg memburukkan kelompok2 tertentu...
    Jika salah itu dosanya seperti apa ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, ada gitu orang dg kebencian kayak gitu

      Delete
  2. Saya belum pernah share-share berita disosmed mbak, lha wong FB aja saya bukanya kadang-kadang :)

    Iya setuju, kita harus super hati-hati kalau mau share, boleh share yang sudah terbukti kebenarannya dan ada manfaatnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. FB itu rame bener, gpp gak sering buka :))

      Delete
  3. Mbaa, foto cabe yg dijadikan infografis mewakili isi postingan ini. Pedes haha #eh

    Setuju deh aku juga. Skrg aku udh unfollow akun yg gengges di fb, krn klo unfrend ditanya2 kenapa,ya kayak klo leave grup wa. Xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tegas itu awalnya mengandung pertanyaan. Lama2 orang akan lupa kok. Yg penting kitanya ayem :))

      Delete
  4. fitur screen capture itu memang sedap2 mengerikan ya mak.. memudahkan kita simpan info2 penting sekaligus menangkap gosip2 seru hihihii..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi ngapain buang2 waktu ngepoin kesalahan orang lain kan?

      Delete
  5. Hwahahha..begitulah. kalau dapet watsap panjaaang gitu langsung cari endingnya. Kadang cuma ngerjain.

    ReplyDelete
  6. Iya ya Mak, kehati-hatian dalam menggunakan media social itu bener2 bukan mitos apalagi hoax. Plus gak gampang apalagi kalau berita tersebut rasanya menyentuh sekali, eh pas kesebar ternyata hoax :(

    ReplyDelete
  7. coba kalo semua pengguna sosmed pinter begini ya mba -__-... di FB aja, nth udh brp banyak temen yg aku delete cuma krn mereka sukaaaa bgt nyebarin link2 provokatif yg kbnyakan cuma fitnah.. itu lgs aku delete.. bingung aja, kok hobinya ya nyebarin hal2 ga bener yg bisa bikin org ribut di medsos

    ReplyDelete
  8. Okeh mba.... yang penting cek kebenaran beritanya dulu....

    ReplyDelete
  9. mengerikan kalau ada yang capture ya mbak

    ReplyDelete
  10. Harus mikir berulang kali sebelum klik publish ya mak

    ReplyDelete
  11. Ya mba, bersosialisasi bkn bergosip ^^
    Selalu cek, teliti faktanya sblum klik share.. makasih mba udah diingetin :)

    ReplyDelete
  12. Klo di grup WA yang ku ikuti...paling sering nge share meme mb.. Kalo udah gambarnya jorok..di delete lansung...

    ReplyDelete
  13. Setuju banget pendiam itu baik tp sekarang yg suka tebar2 hal2 negatif bukan hanya golongan itu2 aja tp bapak2 juga eksis nyebar negatif2 ngak jelas hahaha.

    Kalo buat gw socmed adalah terbat berbagi kebahagiaan jd tebarkan aura positif disana

    ReplyDelete
  14. Iya, sih, Mbak. Sebenernya (seharusnya) memang tak ada ruang untuk salah memposting. Tapi kadang tuh udah dipikirin masak2 mau posting kayak apa, eh, pas udah dipublish baru nyadar, ternyata kok bisa multitafsir gini ya tulisan/statusku?? Hehehe...

    ReplyDelete
  15. makasih mak diingatkan, kalau terlalu aktif juga memang bikin penyakit ya medsos

    ReplyDelete
  16. jangan terburu buru share kalo gitu ya mb
    untung nggak banyak ikut grub socmed

    ReplyDelete
  17. Wah ini nih aku juga suka kesel kalo sama orang yang asal share, apalagi kalo cuma tergoda baca judulnya aja tanpa baca artikelnya lebih lengkap. Belum lagi kalau artikel yg di-share dari web, blog, atau akun abal-abal.

    ReplyDelete
  18. Aku kadang, kalau TL lg ribut bahas sesuatu yg panas langsung off dulu untuk sementara:)

    ReplyDelete
  19. Memang yang sangat digemari rakyat indonesia adalah berita gosip dan hoak. Mungkin mereka termasuk saya, bosan dengan berita politik dan ekonomi yang lagi kacau balau. Adu domba sudah menjadi gaya hidup baru,.

    ReplyDelete
  20. Mesti hati-hati juga ya kalo mau share sesuatu di sosmed, apalagi yang belum terbukti kebenarannya. Bisa-bisa kita sendiri yang kena akibatnya. Ngeri!

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.