Wednesday, August 17, 2016

Ibu, Ini Lo Tips Survive Nimbrung di Acara 17-an Di Sekitar Rumah

Tips survive nimbrung di acara 17-an di sekitar rumah ini saya buat karena ternyata banyak para ibu masa kini yang makin tidak mau terlibat dengan acara kampung.



Alasannya macam-macam. Kalau saya sendiri tadinya karena merasa kaku sebagai orang baru, takut salah bicara atau bertindak karena belum paham siapa "ibu komandan" disana. Sedikit demi sedikit saya nongol dan akhirnya selalu diberi info dan disamperin jika ada acara. Meski baru sebatas ikut-ikutan, lumayanlah sudah dianggap warga secara defacto dan dejure. Terus, mengapa harus repot-repot berperan? Yah, seperti yang kita semua tahu bahwa tetangga adalah saudara terdekat kita. Meskipun mereka nggak asik, meskipun sering ngeselin, merekalah yang paling bisa diandalkan, bukan satpam kompleks.


Untuk survive selama perayaan kemerdekaan itu butuh motivasi yang tinggi. 

Beda dengan perayaan hari lain, Lebaran misalnya, 17-an identik dengan berbagai kegiatan fisik dan kreatif. Jadi susah kalau pengin ngumpet saja di rumah kan, sementara tetangga kerja bakti mencabuti rumput didepan rumah kita.
Misalnya semalam, saya sudah merasa memperkecil perasaan bersalah pada para ibu-ibu kompleks ketika jam 19.00 baru sampai rumah, yang artinya punya alasan untuk tidak ikut nonton panggung kesenian se RW. Eladalah kok tetap disamperin ibu-ibu dan ditunggu meski saya harus ganti daster dengan baju batik. Segeralah saya kalang kabut ganti baju, belum mandi, gak dandan dan hanya pakai jilbab yang biasa saya kenakan ke warung. Eladalahnya lagi, sampai di lokasi, diminta naik panggung untuk menyanyikan 3 lagu perjuangan bersama beberapa ibu-ibu. Haduh! Rupanya info tersebut sudah beredar terus ketika menunggui anak-anak RT latihan tari dan kerja bakti. Saya saja yang nggak nyimak dan cuma mengharapkan info di group WA.

1. AMBIL PERAN KECIL
Pernah lo saya kebagian peran "cuma" mengambil pesanan snack. Yang pesan dan membayar sih ibu-ibu lain, saya benar-benar cuma mampir karena kebetulan lewat sana dan mengambilkan. Tapi itu sudah cukup untuk membuat diri tercatat telah berpartisipasi aktif. Lain kali ada acara lagi, kita akan diingat oleh ibu-ibu "penguasa" kampung. Peran kecil bisa juga manut saja disuruh nyanyi seperti saya. Meskipun nggak ikut latihan dan belum mandi, maju aja ikut-ikutan, nanti kan kekurangannya ketutup sama ibu-ibu lain. Heheheee.... Kalau merasa nggak bisa apa-apa, jadi supporter lomba aja deh. Masa nggak ada sesuatupun yang bisa dilakukan?

2. COBA PERAN BESAR
Yang ini belum pernah saya coba tapi sudah pernah dicoba oleh teman saya, sesama orang baru di perumahan masing-masing. Dia langsung mengambil peran penting membuat tumpeng untuk tirakatan. Saya tahu dia jarang memasak karena sibuk. Menurutnya, membuat tumpeng itu tidak sulit. Nasinya bisa dibuat di rice cooker. Ayam beli di penyetan. Kering tempe beli siangnya di warung makan. Kering kentang  dan abon beli yang sudah plastikan. Lalapan, telur dadar dan kerupuk bisa dibuat sendiri. Eh beneran lo, praktis dan cepat saja dia membuatnya. Bentuknya pun cukup bagus, lagipula bukan untuk keperluan lomba, melainkan untuk dimakan bersama-sama warga.

3. PIKIRKAN KOMPENSASI KETIDAKHADIRAN
Tidak bisa datang kerja bakti? Tidak masalah. Kadang memang ada keperluan yang lebih penting, yang membuat kita tidak bisa berpartisipasi. Tapi kalau bisa jangan cuma pamit. Tunjukkan bahwa sebenarnya kita peduli, hanya saja tidak bisa hadir. Yang paling mudah adalah membayar iuran sukarelan lebih banyak dari warga lain atau menyerahkan snack dan minuman sebelum kita pergi kepada penanggung jawab kerja bakti.

4. KETAWA KETIWI
Tertawa adalah ibadah paling mudah. Tertawa juga menyelamatkan dari suasana yang membosankan. Misalnya, seperti semalam ketika group lawak anak-anak muda tampil garing, sedangkan kepala cenut-cenut ngajak pulang. Saya mencoba berpikir bahwa anak-anak itu ibarat anak-anak saya juga, yang butuh penyaluran ekspresi dan dukugan 100% dari saya. Jadi, ya saya mencoba bertahan sambil berusaha ketawa-ketiwi untuk membunuh bosan. Kalau tidak ada yang lucu, kan susah mau mencari alasan untuk tertawa. Saya mengalihkan perhatian, memandang seorang ibu yang sedang ngomel karena anaknya bolak balik menghabiskan snack dari panitia. Lucu banget. Meski tertawa karena sebab lain, tapi saya tetap disana, bersama seluruh warga. I survived! Hahahaaa....

5. SHARE FOTO-FOTO
Jika sedang kumpul warga apakah sebaiknya gadget ditinggalkan agar lebih fokus bergaul? Menurut saya tidak perlu, karena nyatanya gadget juga sudah menjadi sarana bergaul dengan warga. Foto kerja bakti, foto pentas, bahkan foto menunggui anak-anak latihan bisa menjadi perekat hubungan dengan ibu-ibu sekitar. Tapi ingat! Ini bukan ajang narsis pribadi, melainkan ajang narsis bareng-bareng. Jadi jangan kecakepan sendiri ya. Usahakan fokus foto ke anak-anak mereka, pasti ibu-ibunya bakalan senang ketika foto-foto tersebut kita share di group agar bisa mereka simpan. Kalau kegiatannya tidak melibatkan anak-anak, pilih foto-foto yang semua ibu di foto tersebut dalam pose terbaiknya. 

Kalau kita berhasil survive dalam acara 17-an, yakin deh, salam hangat bakal lebih sering kita dapat ketika melintas perumahan atau kampung, karena yang tadinya nggak kenal, jadi kenal. 

Perkenalan dengan warga sekitar akan berbuah kenyamanan hidup. Nah, sebentar lagi kan Qurban ya? Biasanya ada kumpul-kumpul lagi untuk mengurus pembagian daging dan makan-makan. Bisa nih sebagian tips tersebut dipraktekkan.

16 comments:

  1. saya ga ikut tirakatan mbak. alesannya simple: capek, baru datang dari pulkam. hehe...

    nunggu acara jalan santai aja. biasanya sih ikut.

    ReplyDelete
  2. Nimbrung di acara 17 Agustusan dengan cara mengajak anak2 ikut berpartisipasi ngikutin lomba2nya.. Sembari memberi support kepada si anak agar semangat memenangkan lomba, si emak bisa silaturahmi dengan tetangga..

    ReplyDelete
  3. Hihihi, kalo aku belum ikut andil ke masyarakat, bahkan yang kecil pun belum mbak. Mungkin karena warga pendatang, apalagi tinggalnya masih di toko jadi ya nggak ikut andil. Tapi untuk silaturahim ke tetangga ya sudah terjalin baik sih. :)

    ReplyDelete
  4. Bener mbak. Klo di kmpung...kadang "waton ketok/ asal nongol"...setor muka di depan para "penguasa" itu sudah lumayan menyelamatkan diri....

    ReplyDelete
  5. Ini sebenarnya yang masih saya alami. Bingung kalau mau ikutan, gimana mengawalinya. Seriusan Mba, saya bahkan sering kurang nyaman karena takut salah itu tadi. Takut malah nanti jadi big problem. Eh ladala, 17an kemarin ga bisa ikutan, jadi tambah ga tau deh ini mulai lagi kaya mana.

    Maybe next time deh saya coba caranya. Ambil peran kecil dulu ya

    ReplyDelete
  6. Betul. Kalau di kampung g guyub...itu jadi omongan g abis abis wkkw. Paling engga...ikut iuran dan nonton.

    ReplyDelete
  7. demi anak2 sih klo sy motivasinya hahaha...nemenin anak2 sekalian say hi sm tetangga krn jarang gaul hehehe

    ReplyDelete
  8. Kalau saya sih berusaha paling enggak setor muka disetiap kegiatan karena takutnya ntar dirasani, kecuali mendesak ada acara lain baru ijin. Tapi seru loh ikut kumpul-kumpul setiap ada kegiatan di perumahan, topiknya macam-macamg hehehe

    ReplyDelete
  9. Di daerah saya, 17an kali ini sepi, ga ada acara lombanya :(

    ReplyDelete
  10. yang aktif di acara 17an biasanya ibu mertua Mba, kalo saya justru jarang banget gabung karena baru bisa pulang kampung pada akhir pekan :)

    ReplyDelete
  11. Hihi pestanya bocah2 ya mba tujuh belasan itu, mereka excited bgt, jd malu kl malas2an padahal encok juga ikutin acaranya yg seabrek tp jd tambah guyub dgn tetangga :)

    ReplyDelete
  12. Aku kok malah kangeeen ya mba sama acara seru beginiii hehehe

    ReplyDelete
  13. Aku juga belum aktif Mak Lus. Tapi tetep sesekali muncul dan kalo ga bisa Dateng ngasi donasi lebih gede, mujarab nggak digrenengi tonggone 😄

    ReplyDelete
  14. Nyesel salah inget jadwal lomba-lomba padahal di gang sini ada lomba adzan dan tilawah juga buat anak-anak. Tapi di sini ibu-ibu nggak terlalu terlibat sih. Yang ngurusin yang muda-muda yang masih bujang gadis he he.

    ReplyDelete
  15. Kak ... aku pengen denegr suaramu nyanyi lho hehehe

    ReplyDelete
  16. Aku akuuu, semuanha gk ikutan mbaaa. Hahaha tetangga cem apa ini, sampe2 pasang bendera pun yang nyamperin bapak2nya. Sampe dipasangin pulak, suami jarang banhet di rumah soalnya. Bisa jadi alesan kan *elooh hiihi

    At least tetangga sebelah dan yang biasa ke masjid hapal dikit2 dengan keberadaan saya. Kalo kegiatan keknhya hmmm *ngilangtuiiiiing*

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.