Thursday, November 16, 2017

Jadikan Konten Home Decor Di Dunia Maya Sebagai Inspirasi, Tak Perlu Terintimidasi

Ada yang seperti saya, suka berlama-lama memandangi foto-foto homedecor di instagram dan pinterest? Kalau sudah ngulik kata kunci "DIY homedecor" dan menemukan rumah-rumah yang mungil tapi rapi, saya bakal ngetem disana sampai semua foto saya lihat lekat-lekat. Dulu, foto-foto seperti itu mengintimidasi saya. Sekarang, saya menikmatinya sebagai sumber inspirasi.

DIY Home Decor


Dulu pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul.
"Kok bisa ya, rumahnya lebih kecil dari rumahku tapi kelihatan lebih mewah?"
"Kok bisa ya, rumah dengan luas sama dengan rumahku tapi semua perabotan bisa tertata rapi?"
"Kok bisa ya, rumah isinya rak semua tapi nggak berantakan dan berdebu seperti rak-rakku?
"Kok bisa ya, terasnya keren buat selfie, sedangkan halamanku seuplik saja kewalaan nyabutin rumputnya?"

Dan sejuta pertanyaan lain yang akhirnya malah membuat saya nggak ngapa-ngapain kecuali ngepoin foto-foto tersebut. Sedangkan kondisi rumah tidak berubah. Habis, bagus-bagus sih fotonya, seger di mata. Saya sih santai saja karena meski fasilitas rumah biasa-biasa saja, tapi kami sudah merasa sangat betah. Kami juga tidak banyak menerima tamu dirumah kecuali di hari-hari tertentu. Saya juga tidak pernah beli perabotan demi kekinian jika masih bisa memanfaatkan yang ada meski terkesan kedaluarsa.

Yang utama, saya memang berkomitmen untuk tidak mempublikasikan kondisi rumah saya di media sosial. Paling sudut tertentu saja untuk keperluan pekerjaan. Bukan karena rumah saya jelek berantakan meskipun memang begitulah keadaan sebenarnya heheheee, melainkan karena anggota  keluarga tidak ada yang mau aktif di media sosial kecuali saya, ditambah kami pernah dirampok beberapa tahun lalu.

Namun demikian, ada masanya dulu, ketika darah muda saya masih menggelegak, saya merasa minder dengan rumah sendiri. Minder disini bukan karena saya merasa tidak mampu membeli rumah sebagus orang lain, melainkan minder karena saya tidak bisa menjadikan rumah saya sekinclong dan seinstagramable ibu-ibu lain. Kalau dulu instagram belum ngetop ya, tapi blog dan pinterest sudah.

Lah gimana mau menata dekorasi? Dari pagi sampai siang saja cuma berhasil mencuci baju. Masak saja buru-buru. Saya tahu sih, itu bukan alasan karena saya pernah melihat sendiri tetangga saya yang bat bet menyambar mainan anak-anak dengan kecepatan cahaya, lalu menyapu dan mengepel dengan kekuatan penuh. Itu dilakukannya tiap pagi dan sore. Rumahnya kinclong pol. Biasanya saya mencoba menenangkan diri sendiri dengan kalimat ini, "Kamu kan nulis, jualan, ngeblog dan antar jemput. Dia kan enggak, ngurus rumah thok."

Tapi lama-lama saya pikir itu alasan basi. Itu gimana semangat dan minat seseorang terhadap sesuatu saja, ditambah dengan kemampuan mengatur energi. Perempuan lain bisa mengatur 10 perusahaan, masa mengurus satu rumah saja kewalahan? Sayangnya, pemikiran seperti itu bukannya menggugah hati, tapi malah tambah bikin kepikiran. Wkwkwkwk....

Sampai di suatu titik, yaitu ketika saya melihat postingan seorang teman yang begitu bangga dengan penataan rumahnya padahal menurut saya itu keramaian dan sumpek, barang-barang ditumpuk dimana-mana meski rapi menumpuknya. Saya lalu berpikir, kita punya rumah itu untuk apa? Untuk membuat penghuninya nyaman dan mendapatkan apa yang mereka butuhkan, bukan? Apa yang keluarga kita butuhkan, mungkin tidak ada dirumah lain. Apa yang ada dirumah lain, mungkin malah mengganggu keluarga kita.

Sejak itu, kegemaran saya berkelana ke akun-akun home decor diikuti dengan misi yang berbeda, yaitu mencari inspirasi yang sesuai dengan kebutuhan keluarga saya. Nggak pengin meniru rumah orang lain walaupun kelihatan wow banget dan saya mampu jika tidak sesuai dengan kebutuhan saya.

Sebenarnya sampai sekarang baru sedikit sih yang benar-benar saya contek dan laksanakan dirumah. Lagi-lagi karena tidak sempat. Namun ada beberapa hal yang membuat saya memperhatikan sebuah foto DIY home decor lebih lama dari yang lain, bahkan sampai bookmark atau screenshoot, atau sebaliknya malah skip yaitu:

1. Kebutuhan anak-anak. Iya, meski casing luarnya sadis tapi saya ibu yang lemah wkwkkwkk. Kebutuhan anak-anak sangat saya utamakan diatas pencitraan sebagai ibu yang keren dalam menata rumah. Kalau menuruti keinginan untuk sekeren foto-foto rumah di instagram, saya pasti sudah menyumbangkan karpet di depan tv saya karena sudah tidak bagus dan terlalu lebar memenuhi ruangan. Tapi anak-anak sangat menyukai karpet buluk tersebut. Mereka suka gegoleran disana seperti ikan pindang. Jadi, saya akan skip foto-foto yang tidak memiliki karpet gegoleran, apalagi yang lantainya kinclong bebas hambatan.

2. Recycle, Reuse, Repurpose. Rumah saya kecil tapi terlalu banyak menampung barang lama dan sepele. Ketika anak-anak masih kecil, saya sempat punya beberapa perabotan yang masuk gudang orangtua saya karena saya tinggal merantau. Ketika saya memutuskan untuk kembali ke kota ini, orangtua mengirimkan perabotan tersebut. Padahal saya sudah tidak ingat punya apa saja saking lamanya dan berniat membeli yang baru sedikit demi sedikit agar sesuai dengan tema rumah kekinian. Ambyar deh rencana tersebut karena rumah langsung penuh dengan barang-barang lama. Agar tidak bingung meletakkan atau membuang kemana, beberapa barang tersebut saya cat kembali untuk digunakan. Saya banyak bookmark cara mengecat perabotan lama. Lumayan kan, bisa buat ngirit. Karena itu, foto-foto dengan furnitur modern sering saya skip.

Baca: Cat Kayu Water Based Yang Mudah Diaplikasikan Oleh Perempuan

3. Budget. Sering kesel nggak sih lihat acara tv makeover ruangan atau rumah yang semua perabotannya diganti baru? Ya iyalah jadi bagus karena baru semua. Nyai juga bisa asal ada duitnya. Karenanya, saya lebih senang berlama-lama di blog ibu-ibu asing karena mereka pandai sekali DIY (Do It Yourself) perabotan rumah. Teknik mereka kece namun sangat sederhana sehingga mudah dan murah dilaksanakan agar bisa mengubah tampilan ruangan seketika.
Ayo dong buibuk blogger Indonesia bikin konten DIY yang banyak, biar blog walking saya nggak jauh-jauh. Saya suka banget dengan akun-akun yang menuliskan dimana mereka membeli peralatan DIY atau mungkin juga perabotan baru mereka berikut harganya, agar saya bisa berhitung apakah sesuai dengan dana yang saya miliki. Nggak semua yang membeberkan harga bermaksud pamer kok. Berpikir positif saja.
Sebaliknya, saya juga skip konten yang kebangetan ngiritnya, sampai semua disimpan. Nggak semua harus diakali untuk dipakai lagi kok. Kalau membuat rumah bersemak, mendingan diloakin atau disumbangkan saja.

4. Kebersihan dan kesehatan. Rumah saya memang nggak bersih-bersih amat jika dibandingkan dengan tetangga saya yang sakti tadi. Rumah saya sedikit kinclong kalau mau ada tamu atau arisan saja. Heheheee.... Makanya kalau kerumah saya bilang dulu ya, biar saya sempat bersih-bersih. Tapi paling tidak, saya menghindari perabotan atau penataan yang menyebabkan kotor.
Pot tanaman misalnya. Tanaman memang bisa menghasilkan oksigen, tapi kalau dalam seminggu saya tidak pernah menyentuhnya, saya akan mengeluarkannya kembali dan tidak membawanya masuk rumah lagi. Tanaman didalam rumah perlu perhatian khusus agar tidak malah mengundang nyamuk dan cacing.
Contoh lain adalah rak ambalan yang sedang kekinian. Saya tidak mau menambah lagi karena rak saya sudah banyak. Meski sudah jelek karena rak lama, yaaah ditahan-tahanin ajalah melihatnya. Wkwkwkkk.... Karena itu, saya rajin mencari konten DIY tentang makerover rak supaya rak saya jadi bagus lagi. Sebenarnya, masih banyak barang-barang saya yang perlu tempat tapi saya sedikit demi sedikit membeli lemari dibandingkan rak. Rak terbuka mudah banget dipenuhi debu, sekalipun rumah selalu tertutup karena ber-AC. Tidak sesuai dengan rumah yang penghuninya punya alergi debu. Sedangkan lemari atau bufet lebih rapi dan lebih mudah dibersihkan. Sementara perabotan saya masih berantakan sih karena banyak yang belum tertampung lemari.
Ada yang mau saya endorse lemarinya? Heheee.
Suka penasaran nggak sih melihat foto instagram sebuah rumah yang kinclong dengan perabotan minimal? Dimana mereka menyimpan kertas, koran, buku, kabel dan sebagainya? Kok bisa muat di lemari-lemari yang kecil dan tidak terlihat di rak-raknya?

5. Kalem saja. Seorang teman mengatakan bahwa dia sangat menyukai sudut ruang rumah yang saya unggah di instagram. Foto itu memang bagus, tampak putih bersih. Tapi geser dikit, sekitar setengah meter dari situ isinya tumpukan buku yang berantakan. Jadi kalau buibuk melihat sebuah foto yang wow, kalem saja bu. Tidak usah resah dan gelisah membandingkan dengan rumah sendiri yang alakadarnya.
Sekarang coba dipikirkan, bu RT mau kerumah saja kita buru-buru melempar-lempar mainan anak-anak yang tersebar di ruang tamu ke kamar agar ruang tamu bersih, apalagi mau difoto dan diunggah ke instagram. Pasti kita memilih sudut yang terbaik dari rumah kita. Apa yang kita lihat belum tentu sesempurna foto-foto di media sosial itu. Apalagi yang tujuannya endorse seperti yang saya lakukan. Pasti saya mengambil sudut terbaik dan saya tata sedemikian rupa. Sebelahnya, ya urusan lain. Perhatiin deh, kan cuma sudut itu-itu saja yang saya upload di IG @beyourselfwoman karena memang cuma situ yang keren, lainnya berantakan. Wkwkwkwk....
Memang sih ada wonder mom seperti tetangga saya tadi yang memang asli seluruh bagian rumahnya kinclong, bukan hanya satu sudut saja. Tapi kalau enggak bisa seperti itu enggak apa-apa, bu. Anak-anak tetap sayang sama ibu, kan?

Dunia maya yang makin mengambil lebih banyak porsi dari hidup kita memang memberikan berbagai dampak. Di dunia dekor mendekor, ada yang mendapatkan ide untuk diterapkan di rumah milik sendiri, ada yang malah sedih karena merasa tak mampu menjadi suri rumah idaman atau mom kekinian. Seharusnya postingan-postingan DIY home decor itu menginspirasi kita, bukan malah mengintimidasi perasaan kita. Kalau terinspirasi, siapa tahu unggahan-unggahan kita mendapat perhatian dan  membuat brand home decor tertarik. Minimal dipuji mertua dan tetangga. Asik, kan?

Yang amit-amit jangan sampai terjadi adalah membuat kita nggak pernah puas dan terus terpacu untuk menampilkan foto ruang terbaik di medsos tanpa memperhatikan kondisi diri dan keluarga. Anak-anak jadi nggak bebas bermain karena selalu dimarahi oleh ibu yang pengin rumah dalam kondisi instagramable. Uang belanja terganggu karena ibu berburu hiasan-hiasan rumah kekinian agar cakep difoto dan nggak kalah dengan rumah-rumah lain di medsos.

Nah ibu, punya rencana apa nih buat menata rumah? Sudah dapat inspirasinya? Share di kolom komentar ya, saya pengin lihat dong. :))

8 comments:

  1. karpet buluk tempat gogoleran?

    Duh itu ngangenin banget karena campur aduk bau keringet semua anggota keluarga disitu ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak, itu yg bikin mereka betah dirumah :))

      Delete
  2. aku seneeeeng banget liat home decor di sini mbaaa..pengen semua hehe. Tapi att he end of the day, saya selalu decor rumah dengan touch of Indonesia and I love it!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow apalagi disana ya mbak, vintage & shabby bagus2.

      Delete
  3. Kalau saya juga suka banget lihat rubrik dekorasi kalau baca masalah. Sayangnya sampai hari ini saya belum tergerak buat bikin DIY untuk mempercantik rumah. Heu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mbak, lebih asik cuci mata daripada prakteknya. Heheee

      Delete
  4. aku sedang suka lihat DIY 3R buat di halaman dan diy tempat2 nyimpan2 mbak..., ide2nya cakep
    tapi ya sama baru sebatas mantengin doang, belum dikerjain he.. he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, asik lihatnya, bergeraknya yg rada susah heheee

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.