Wednesday, March 14, 2018

Jatuh Bangun Industri Tote Bag

Tote Bag buatan saya dengan hand lettering buatan adik saya.

Teman-teman yang sering datang ke blog atau instagram beyourselfwoman pasti sering melihat berbagai gaya dan ukuran tote bag yang saya buat. Tote bag itu seolah tak terlihat gebyarnya padahal hampir semua acara, dari selamatan kelahiran bayi, ulang tahun hingga acara-acara penting kenegaraan menggunakannya sebagai tempat berbagai brosur, souvenir hingga makanan. 

Tahu nggak, ternyata ada sejarah panjang dan industri yang cukup besar di belakang tote bag yang bertumpuk di lemari teman-teman yang sering datang ke event atau seminar. Tak sekedar sebagai goodie bag, tote bag juga berkembang sebagai fashion item yang hype di kalangan anak muda berkat tampilannya yang casual dan bisa dikreasikan tanpa batas.

Sejarah Tote Bag Hingga Sampai Ke Lemari Kita

Awalnya, tote bag atau cotton bag dibuat dari bahan kain yang keras. Sekarang sudah banyak bahan-bahan alternatifnya seperti kanvas, nilon, goni, dan rami. Di Amerika Serikat, tote bag mulai marak dipakai sejak LL Bean’s mengeluarkan Boat Bag di tahun 1944. Boat bag itu seperti apa? Kapan-kapan saya buatkan, ya. Sebenernya tas ini dirancang untuk pelaut. Bentuknya kuat dan sederhana membuat orang tertarik memakainya.

Tahun 1950an, tote bag makin disukai. Perempuan malah menggunakan item ini sebagai tas tangan. Tahun 1960an, tote bag mulai masuk ke dunia fashion. Saat itu, Bonnie Cashin mengeluarkan koleksi Cashin Carry Tote Bags.

Meskipun popularitasnya tinggi, pengrajin tote bag Indonesia masih kesulitan menaikkan omzet. Perjanjian China ASEAN Free Trade Area (CAFTA) sudah disepakati tahun 2010. Dampaknya, barang Cina bisa dengan mudah masuk ke Indonesia. Jadi, jangankan melebarkan sayap dengan ekspor, didalam negeri saja kepayahan. Selain pemain tote bag lokal sangat banyak, juga karena barang-barang Cina yang masuk ke Indonesia berharga sangat murah. Kami di komunitas jahit sampai geleng-geleng kepala melihat harga impor bisa lebih murah daripada buatan kami sebagai tangan pertama. Jika di reseller-kan tentu akan tambah mahal lagi. Bagaimana mau melawan?

Gempuran Produk Impor Membuat Para Pengrajin Lokal Menghela Napas Dalam 

Seorang pedagang Tanah Abang mengaku lebih memilih produk asal Cina daripada lokal. Alasannya, harganya lebih murah dari barang lokal. Sekarang 80% barang di Tanah Abang didominasi barang Cina.

Sama halnya dengan pedagang mainan, tokonya sudah dibanjiri barang Cina karena juga lebih awet. Akibatnya, pedagang mainan lokal menurunkan harga 5 sampai 10% supaya produknya bisa bersaing. Ini memang menjadi tantangan tersendiri buat pengrajin. Jika tak bisa bersaing di harga maka kualitas dan kreativitas harus ditingkatkan. Selain masalah kompetisi dengan barang impor, ada juga masalah barang tiruan. Produk imitasi sangat populer di pasaran karena banyak konsumen yang mementingkan gaya meski keuangan terbatas, diantaranya dengan menggunakan merk palsu. Di pasaran banyak ditemui produk imitasi yang sangat mirip dengan merk aslinya.

Menghargai Para Perajin Tote Bag Lokal Membantu Ekonomi Indonesia Membaik

Sebenarnya, kerajinan lokal punya kontribusi besar buat negara. Nilai ekspornya terus bertambah tiap tahun.

Tahun 2010, nilai ekspor industri kerajinan tangan Indonesia mencapai 15,5 triliun rupiah. Pada tahun 2013, nilainya naik menjadi 21,7 triliun rupiah. Nilai ekspor tahun 2013 itu berkontribusi sebesar 18,26 persen buat ekspor sector ekonomi kreatif. Sementara kontribusinya untuk total ekspor Indonesia mencapai 1,04 persen.

Hal itu menandakan jika produk kerajinan lokal Indonesia memenuhi standar internasional sehingga minat pasar dunia terhadapnya cukup tinggi.

Tidak hanya di dunia internasional, ternyata dalam negeri pun popularitas kerajinan lokal cukup tinggi. Faktanya, data konsumsi produk kerajinan naik tiap tahun. Tahun 2010, konsumsi rumah tangga mencapai 110,4 triliun rupiah. Kemudian, pada 2013, nilainya naik menjadi 145,2  triliun rupiah. Angka tersebut lebih besar dari angka konsumsi rumah tangga akan industri kreatif lain. Hanya kalah dari industri kuliner dan mode.

Inacraft 2016.

Di sisi lain, sebagian konsumen lokal cukup antusias dengan produk dari pengrajin tanah air. Inacraft, salah satu pameran produk kerajinan tangan di Indonesia bisa jadi indikator. Pada tahun 2014, pameran ini berhasil menarik 154.363 pengguna dengan hasil penjualan 115,7 miliar rupiah. Pada tahun 2015, Inacraft menarik 166.635 pengunjung dengan total penjualan 121,6 miliar rupiah. Di tahun itu juga tercapai kontrak dagang senilai 131 miliar rupiah. 

Saya pernah ikut pameran pada tahun 2016. Penginnya tahun ini saya bisa jalan-jalan ke Inacraft tapi belum ada yang ngasih tiket gratis. Heheheee....

Melihat potensi dalam negeri yang tersaingi produk asing, pemerintah sudah melakukan beberapa upaya. 
  • Pertama, dilakukan survei kebutuhan dan keinginan pasar. 
  • Setelah ketemu, diadakanlah pelatihan pengrajin supaya bisa menghasilkan produk yang sesuai keinginan pasar.
  • Terakhir, pemerintah juga mengirim desainer produk ke daerah-daerah. Hal ini supaya mereka bisa membantu pengrajin membuat desain produk yang menarik.


Kisah Para Pejuang Produk Lokal Nusantara Yang Terus Terhimpit Keadaan

Di tengah kompetisi yang ketat, masih banyak pengrajin lokal yang berjuang memasarkan produknya. Salah satunya adalah pasangan Ibnu Khoiruli dan Intan Qurrotul Aini. Keduanya berprofesi sebagai arsitek dan civil engineer. Namun, profesi tidak membatasi kreativitas mereka.

Ibnu dan Intan memproduksi dan memasarkan produk kreatif yang dipasarkannya melalui sosial media. Bidang usaha ini dipilih karena Intan menyenangi dunia crafting.

Dengan modal 20 juta rupiah, keduanya membeli material atau bahan serta peralatan produksi, name tag, packaging, hingga website untuk produknya. Pengerjaan produk itu sendiri dilakukan oleh penjahit. Desain tetap dikerjakan pemiliknya. Produk mereka punya keunikan di warna yang cerah dengan motif unik. Jika punya ide kreatif, jangan sampai kekurangan kita, misalnya ketidakmampuan menjahit, menghalangi kita untuk mewujudkannya.


22 comments:

  1. Aku ingat jaman keemasan tas kain..kadang ransel, kadang ada yang bentuk totebag gitu.

    Kayaknya pas masih smp.

    Anak2 sekolah pada pake yang tas punggung. Ibu2 ato anak yang udah agak gede yang model totebag. Dagadu dulu mbikin ya mba.

    Sekarang masih apa nggak..nggak ngerti..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh nggak perhatian mbak yg tote bag dagadu padahal sering kesana pasti nyari kaos.

      Delete
  2. Qlapa emang surga bagi penyuka produk-produk handmade mba, termasuk saya. Kalau nggak dibudgetin, kalap. Semoga pengrajin lokal makin mampu bersaing dengan derasnya arus produk luar yang masuk kesini ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betah banget lihat2 Qlapa. Bagus2 produknya.

      Delete
  3. lagi nyari tas laptop pas dapat tempatnya, mudah2an ada yang cocok nih,,

    ReplyDelete
  4. Wah, ternyata tote bag punya sejarah yg panjang ya mba lusi. Padahal aku pikir ini hanya sekedar tas yang paling simple untuk di buat. Aku sendiri sampe sekarang favorit banget tote bag kemana2,simple dan sederhana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah baru belakangan namanya tote walaupun sering lihat heheee

      Delete
  5. sekarang ini sudah mulai ditinggalkan ya mbak, kenapa ya kira-kira, salam kenal

    ReplyDelete
  6. Industri tas, pakaian Nusantara harus didukung berbagai pihak. Insha Allah kita bisa dengan cara mengenalkan produk-produk dalam negeri ke seluruh penjuru tanah air. Sosialisasikan manfaat besar yang didapatkan jika membeli produk lokal. Semuanya harus satu visi dan misi. Kalau jalan sendiri-sendiri ya pasti keok melawan korporasi global.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, harus bersatu tapi tetap mengedepankan kreativitas masing2 agar punya brand yg mendunia.

      Delete
  7. Semangat ya,kak dan sukses selalu.

    Tote bag praktis dan nyaman digunain,juga unisex bisa digunain cowok cewek.
    Aku sesekali pake tote bag kalo travelling.

    ReplyDelete
  8. Wah aku baru kemarin tahu situs qlapa.com isinya handmade semua.. Uhhh, makin penasaran jd pengin nyoba beli disana. Apalagi ku juga suka bgt sama tote bag kaya gini

    ReplyDelete
  9. Tote bag asyik juga dipakai buat sehari-hari, tapi sebisa mungkin aku cari yang pakai resleting bukan yang kancing.

    ReplyDelete
  10. Aku pecinta tote bag mba..pas bangeeet buat bawa dokumen soalnya

    ReplyDelete
  11. Aku love banget sama Tote Bag, dan malah lebih suka yang lokal punya,yang handmade dan unik. Berasa l;ebih PD aja kalau pakai Tote Bag selain fungsinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Handmade memang membedakannya dengan tas goodie bag hhihihihi

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.