Saturday, April 07, 2018

Napak Tilas Program CSR Sarihusada, Dari Tempe Yang Bisa Dimakan Mentah Hingga Panen Selada Di Kampung Padat Penduduk

napak tilas csr sarihusada
The Badran's Kids. Foto oleh Kang Dadang.

Dari panen selada di eks kampung preman sampai tempe yang bisa dimakan mentah-mentah.

Ternyata banyak yang bisa dibicarakan bersama Sarihusada selain masalah susu. Ceritanya, PT Sarihusada Generasi Mahardhika mengajak blogger untuk melihat sendiri program CSR (Company Social Responsibilty) yang sedang mereka jalankan. Tadinya saya ragu untuk mendaftar karena didalam undangan yang disebarkan oleh Komunitas Blogger Jogja, hanya disebutkan kunjungan ke pabrik susu sekitar Jogja dan Jawa Tengah. Saya langsung tahu kalau itu Sarihusada karena cuma pabrik susu itu yang ada disana. Tapi susu yang diproduksinya untuk anak-anak, sementara saya sudah tidak punya anak kecil lagi, jadi kurang tertarik.

Baca: Karnaval Gizi Yogyakarta 2016

Meski begitu, saya mendaftar juga lantaran pengin lihat proses produksinya. Setelah menjadi salah satu dari 5 blogger yang terpilih, barulah saya tahu kalau event yang bertema Napak Tilas Yogya 2018 "Dari Yogya Untuk Indonesia" ini fokus ke CSR. Wah, tentu saya senang sekali. Di blog beyourselfwoman ini banyak artikel tentang CSR. Saya senang menulis tentang CSR karena perusahaan tidak hanya memikirkan profit tapi juga manfaatnya yang lebih luas lagi bagi masyarakat.

Selain di blog beyourselfwoman, informasi tentang napak tilas ini bisa teman-teman dapatkan di akun twitter dan instagram beyourselfwoman. Meskipun #csrsarihusada sempat masuk trending topic di twitter tapi sebenarnya akan lebih bermanfaat jika teman-teman bisa mendapat inspirasi dari perjalanan saya kali ini.

Rombongan yang berisi 5 narablog, 25 awak media dan panitia berangkat ke pabrik Sarihusada di Prambanan, tidak jauh dari Jogja. Sarihusada memiliki 4 pabrik di kota Jogja, Prambanan, Ciracas dan Sentul. Cikal bakalnya adalah pabrik di kota Jogja, di daerah Muja Muju. Makanya susu SGM yang sampai sekarang masih menjadi favorit para orangtua, dahulu sering diplesetkan dengan sebutan Susu Gawean (buatan) Muja Muju oleh warga Jogja. Sekarang sudah tidak bisa seperti itu lagi karena ekspansi lokasi produksi menyebabkan lokasi pabrik tersebar. Pabrik di Prambanan tersebut adalah yang terbesar dibandingkan pabrik Sarihusada lainnya.

Baca:
Jelajah Gizi Bali: Membedah Kandungan Pangan Lokal
Jelajah Gizi Bali: You Are What You Eat

Kunjungan kami ke pabrik Sarihusada adalah sebagai pengenalan bagaimana cara pandang perusahaan terhadap gizi dan implementasinya ke pengolahan produk mereka. Ini akan mempengaruhi pemilihan fokus CSR. Kami disambut hangat oleh staf komunikasi dan produksi Sarihusada. Begitu sampai, kami langsung diajak keliling bagian luar pabrik seluas 15 hektar ini bareng mbak Ana.

napak tilas csr sarihusada
Pabrik Sarihusada Prambanan yang asri. Foto diambil dari paviliun tamu.

Pabrik Sarihusada Prambanan tampak sangat luas karena hanya 30% saja yang ada bangunannya, selebihnya dirawat menjadi padang rumput dan taman yang hijau segar. Taman seluas itu sama sekali tidak menggunakan air tanah untuk menyirami, melainkan menggunakan limbah cair dari proses produksi. Itu sebabnya, jam menyiram tanaman bisa saja siang hari, mengikuti jadwal pembuangan pabrik. Limbah cair ini aman karena selain sudah mengikuti aturan pemrosesan juga menggunakan kolam ikan sebagai indikator kontaminasi. Jika ikan mati berarti air beracun. Kolam tersebut juga digunakan untuk refreshing karyawan. Benar-benar nggak ada yang terbuang percuma ya disini?

Safety first menjadi pegangan setiap karyawan, tak hanya yang menyangkut pekerjaan tapi dalam kehidupan karyawan secara keseluruhan. Misalnya ketika berkendara didalam lingkungan pabrik, tidak boleh lebih dari 20km/jam, tidak boleh merokok dan secara rutin ada pemeriksaan surat-surat berkendaraan serta KIR kendaraan. Accident sekecil apapun, pasti terdengar sampai kantor pusat Danone sebagai induk perusahaan. Jadi mereka benar-benar menjaga agar pabrik tetap zero accident. Fasilitas karyawan dalam lingkungan pabrik adalah klinik 24 jam, ruang laktasi sebagus di mall, kantin gratis tapi nggak boleh bungkus buat dibawa pulang dan tempat fitness. 

Oya, kalau mengambil makanan disini juga nggak boleh bersisa lho. Kita harus bertanggung jawab menghabiskan makanan yang telah kita ambil dan selalu ingat bahwa di luar sana masih banyak orang yang tidak bisa makan. Sambil ngemil, kami mendengarkan pemaparan tentang kondisi pabrik dan proses produksinya.

Susu yang menjadi bahan baku produk-produk Sarihusada didatangkan dari Boyolali, Salatiga dan Merapi. Susu dari lereng gunung Merapi juga menjadi bagian dari program CSR Sarihusada yang membantu peternak korban awan panas beberapa tahun lalu untuk bangkit kembali. Produksi pabrik Sarihusada berlangsung 24 jam setiap hari, kecuali Lebaran. Prosesnya lebih banyak menggunakan mesin untuk meminimalkan kontak dengan manusia agar terjaga kebersihan dan terhindar dari bakteri berbahaya. Nah, buat teman-teman yang ingin bekerja disini, tingkatkan kompetensimu agar bisa menguasai teknologi terbaru. Tahu nggak? Karyawati Sari Husada berhak atas 6 bulan cuti melahirkan, sedangkan untuk karyawan mendapat 10 hari cuti. Wow.

napak tilas csr sarihusada
Produk boleh bersentuhan dengan karyawan jika sudah dipacking seperti ini. Foto oleh Kang Dadang dari Sarihusada. Pengunjung dilarang mengambil foto sendiri selama di dalam pabrik.

Sebelum masuk ke pabrik, pak Joko Irianto, Factory Manager Sarihusada, memberikan pengarahan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Panitia telah menyediakan fotografer khusus, jadi kami tidak boleh selfie suka-suka di dalam area pabrik agar tidak mengganggu para karyawan dan tidak mengkontaminasi apapun. Yang bolak-balik diingatkan adalah dilarang membawa kacang dan dilarang berjalan sambil menatap layar ponsel. Kacang sangat berbahaya bagi anak-anak yang alergi.

Di acara dialog malam harinya dengan pak Arif Mujahidin, kami diberi pemahaman bahwa ASI tetaplah susu terbaik bagi anak-anak. Susu produksi Sarihusada dimaksudkan untuk melengkapi bagi yang masih kekurangan ASI. 

Saya sudah beberapa kali ikut event bersama pak Arif Mujahidin ketika beliau masih di Sarihusada. Sekarang beliau adalah Communication Head Danone Indonesia.  Pertama kali berdiri tahun 1954, Sarihusada yang bekerjasama dengan UNICEF memang bertujuan untuk menanggulangi kekurangan gizi di Indonesia. Jadi sejak awal sudah bermisi sosial. Meskipun sekarang merupakan perusahaan swasta dibawah Danone, tapi misi sosial tersebut sudah melekat. Bentuk susu bubuk itu sendiri diputuskan karena memikirkan distribusi hingga ke pelosok nusantara. Jika dalam bentuk cair, hanya bisa menjangkau kota-kota besar karena diperlukan cooler untuk menjaga ketahanannya. Sedangkan mutu susu bubuk sudah melalui produksi yang modern, jauh berbeda dari dahulu. Mutu susu tersebut dijamin dengan 14 macam FOQUAL (Focus On Quality). Kapan-kapan pengin diajak melihat proses pembuatan susunya ah, karena di acara ini kami hanya sampai area packaging agar acara utamanya, yaitu melihat program CSR, tidak kesiangan.

CSR Sarihusada difokuskan pada 5 aspek, yaitu kesehatan dan gizi, pendidikan anak, pemberdayaan ekonomi, bantuan bencana dan lingkungan.
Selama napak tilas, kami dikawal ibu Endah Prasetioningtias, Public Affairs dan Internal Communication Manager Sarihusada beserta crew.

TEMPE ECHO SARI

Tempe Echo Sari adalah produksi masyarakat Desa Geneng, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Saya masih sering keliru menyebut Prambanan adalah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, padahal sudah masuk wilayah Jawa Tengah. Lokasi desa ini tak jauh dari pabrik Sarihusada Prambanan, yaitu Jalan Jogja-Solo km 20, telepon 0852 2856 8938.

napak tilas csr sarihusada


Jika teman-teman bepergian dari Solo ke Jogja, letaknya ada di kiri jalan. Cari saja balaidesa Geneng. Tempe Echo Sari bisa menjadi oleh-oleh yang bikin senang para ibu. Harganyapun murah, cuma Rp3.000,- satu pak. Jika perjalanan jauh, beli saja yang jadi keesokan harinya seperti saya kemarin. Tempe tahan 3 hari dalam suhu ruang dan lebih lama lagi jika masuk kulkas. Bisa juga dibeli dalam bentuk keripik. Kriuk, gurih, enak.

Ketika saya kecil dulu pernah membantu tetangga yang memproduksi tempe rumahan. Bukan demi upah sih, tapi iseng saja karena dulu saya tidak betah diam di rumah. Waktu itu saya senang melihat tetangga yang membersihkan kedelai dengan cara diguyur pakai air sumur yang ditimba, lalu diinjak-injak menggunakan kaki mereka. Tak terpikir soal sanitasi.

napak tilas csr sarihusada
Proses pembersihan kedelai yang higienis.

Tempe Echo Sari tidak begitu. Sarihusada memberikan bantuan pendampingan teknis dan dana agar tempe diolah dengan cara higienis, minim dari kontak dengan manusia yang menjadi media transfer bakteri jahat. Selain itu, tempe Echo Sari sudah memenuhi standar mutu internasional.

napak tilas csr sarihusada
Setampah kemungkinan kreasi cemilan dari tempe.

Tempe itu bisa buat apa saja sih, selain digoreng garit, disayur, dibikin mendoan dan keripik atau kering tempe? Atau seperti menu favorit saya yaitu sambel tempe, sambel tumpang dan lentho? Ternyata kalau kreatif, tempe itu bisa dibuat apapun juga. Kami disodori setampah kemungkinan oleh ibu-ibu PKK Geneng, antara lain dibuat lumpia, risoles, pie, donat, cookies dan sebagainya. Saya paling suka cookies.

BUNDA MENGAJAR

Jika teman-teman adalah warga Jogja yang sudah tinggal lama di kota ini, pasti tahu bagaimana kampung Badran jaman dulu. Saking terkenalnya sebagai kampung preman, beberapa tokoh preman jadi legenda dan sering ditulis di media.

napak tilas csr sarihusada
Menyusuri gang-gang Kampung Badran, Yogyakarta.

Kampung Badran sekarang berbeda. Meski tetap padat tapi kehidupan sosialnya lebih baik berkat para ibunya yang aktif di program Bunda Mengajar di RW 9 binaan Sarihusada. Membasmi premanisme disini tidak dilakukan dengan melawan tapi dengan menandinginya dengan kegiatan positif. Para ibu adalah pionir yang paling tepat karena dari merekalah pertama kali anak-anak mendapatkan pendidikan.

napak tilas csr sarihusada
Membuat bunga dari sendok plastik.

Bunda Mengajar memusatkan perhatian pada pemanfaatkan limbah rumah tangga seperti botol dan sendok plastik. Sendok plastik dibuat menjadi bunga. Botol plastik dibuat media hidroponik, sedangkan plastik merknya untuk hiasan. Lain waktu saya blog khusus tentang hidroponik tersebut, supaya artikel ini tidak terlalu panjang.

Senang sekali melihat para ibu panen selada yang lebar-lebar, hijau dan segar.

napak tilas csr sarihusada
Hayooo pengin urban farming seperti ini, kan? Nantikan DIY-nya di postingan lain, ya.


RUMAH KARTINI

Dari RW 9, kami dibawa jalan kaki menjelajah kampung Badran yang berkelok sampai ke RW 11. Di RW 11 sudah ada para ibu penggiat gizi balita di Rumah Kartini. Sepintas tampak sama dengan posyandu di kampung-kampung lain, tapi kegigihan ibu-ibu disini kelihatan lebih istimewa.

Baca: Jadikan Dunia Sahabat Anak

Tidak mudah menyadarkan lingkungan yang dulunya dikenal sebagai the slum of Jogja pentingnya gizi bagi anak. Gizi yang bagus adalah pondasi bagi manusia sebelum diberi asupan ilmu pengetahuan, kegiatan fisik dan pengalaman hidup. Jangankan memperhatikan gizi anak, orangtuanya saja tidak ada usaha untuk menata hidup yang lebih baik dan jauh dari masalah yang tidak baik. Tapi ibu-ibu ini tidak melihat itu sebagai lingkaran setan. Anak-anak dan ibu mereka harus dikeluarkan dari lingkaran tersebut.

napak tilas csr sarihusada
Praktek masak higienis dengan bahan bergizi.

Anak-anak kampung ini mendapat pengecekan kesehatan rutin seperti posyandu pada umumnya. Anak-anak yang berada dibawah garis kartu menuju sehat akan dimasukkan kedalam monitoring sampai grafik mereka bagus. Ibu-ibu mereka mendapatkan bimbingan intensif tentang cara pemilihan bahan makanan pengganti ASI (MPASI) yang bergizi dan cara memasak yang tidak menghilangkan gizi tersebut.

Untuk bayi-bayi yang masih mengkonsumsi ASI, ibu-ibu mereka mendapatkan penyuluhan tentang makanan bergizi bagi ibu yang sedang menyusui. Ibu yang sakit tidak bisa menyusui anaknya dengan baik. Dengan makanan bergizi, ibu-ibu akan sehat dan bersemangat memberikan ASI.

napak tilas csr sarihusada
Wah happy semua, timbangannya seperti odong-odong. Untung mau gantian.

Untuk anak-anak yang lebih besar, Rumah Kartini juga memberikan bimbingan melalui PAUD. PAUD menghindarkan anak-anak dari keluyuran yang tidak jelas, yang pada akhirnya akan terpengaruh oleh lingkungan mereka yang buruk itu. Meski PAUD tidak mendampingi anak-anak setiap saat, tapi stimulasi yang mereka berikan membuat anak-anak tertarik melakukan hal-hal yang baik, misalnya membuka-buka buku, belajar mengaji, bermain puzzle, sepedaan, menggambar dan sebagainya. PAUD RW 11 ini adalah juara tingkat kota Jogja yang akan maju ke tingkat propinsi DIY.

APA SELANJUTNYA?

Punya program CSR itu bagus, tapi menurut Dr Krisdyatmiko, S.Sos, M.Si dari Jurusan Sosiatri UGM, perusahaan pemilik program CSR itu juga harus punya termination exit strategy, dimana perusahaan tidak terus-menerus berada disana melainkan bisa pindah ke wilayah lain yang yang juga membutuhkan pendampingan. Pada saat perpindahan itu, diharapkan binaan tersebut sudah punya kemampuan untuk mandiri. Karenanya beliau mengapresiasi langkah community development Sarihusada yang berazaskan help community to help themselves.

Nah, jika teman-teman juga ingin melakukan factory visit seperti saya di pabrik Sarihusada, tidak perlu menjadi blogger dulu. Itu berat, biar aku saja! Hahahaaa.... Teman-teman cukup melayangkan permohonan kunjungan melalui email yang ada di website www.sarihusada.co.id. Hari yang tersedia adalah Selasa, Rabu dan Kamis. Pengunjung minimal harus berusia setara anak SMA. Kok pabrik susu balita tidak memperbolehkan anak kecil kesana sih? Yaaah buk, kan sudah dijelaskan diatas bagaimana usaha keras Sarihusada untuk menjaga mutu susu buat putra-putri ibu-ibu. Anak kecil belum paham jika dijelaskan tentang safety first. Yang penting ada rumput yang luas, enak buat guling-guling.

napak tilas csr sarihusada
Para warriors menutup napak tilas dengan body rafting di Dolan Ndeso, Kulonprogo. Saya sih nonton aja, takut body saya nyangkut di bawah jembatan. Wkwkwkk.....

15 comments:

  1. Kenapa ya saya tidak dapat undangan. Saya kan sebenarnya tahu semua letak pabrik Sarihusada ,entah yang ada di jogja maupun yang ada di Klaten. Dulu saya sering melintasinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daftaro mas kalau ada pengumunan di KBJ πŸ˜ƒ

      Delete
  2. SGM.. ho oh, aku nyebutnya juga Susu Gawean Muja-muju,lebih gampang diingat😁😁 Paling seneng klo lewat traffict light yang deket pabriknya samping sma8..bau susu.

    CSR nya SGM keren2 ya mba programnya. Aku kemaren pas ada info ini di KBJ..mau ndftar aja maju-mundur, lha pake nginep. Nggak tega sama anak2 di rumah..

    Mbaca reportasenya mba lusi dah dapet bnyk infonya..lengkap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, anak2ku udah besar jadi aku santai aja. Semoga ada event yg nggak pakai nginep ya biar bisa ikut. Yg Muja-muju tu malah aku belum pernah masuk. Pinisirin juga sih hihihii

      Delete
  3. Timbangannya lucu.
    Boleh di share ya mbak, mau saya tunjukkan ke bu Bidan, biar posyandu di kampung saya bisa juga dibuatin timbangan kayak gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan mbak, timbangan gini nggak sakit di pangkal paha. Anak2 senang.

      Delete
  4. Yang tempe itu pengin icip juga, kayaknya enak dan proteinnya bagusn Omong2 soal selada, di kota tempat mamaku ada paguyuban kelompok tani yang mewajibkan setiap rumahnya ditanami selada, kangkung, loncang, terung, tomat, cabe pokoknya yg gampang2 gitu mak. Jadi pengin belajar jg menghasilkan sayuran di taman rumah. Makasih cerita serunya makLus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kah? Tulis dong Ima, pengin tau. Kemarin mupeng banget deh.

      Delete
  5. Wahhh aku tertarik banget sama ibu melahirkan cuti bisa 6bulan plus itu makanan ambil dikantin harus habis, selama ini banyak yg beli atau dapet suka sisa khan sayang. Hmm tempenya sukak higienis dan olahan tempe itu enak. Tapi sayang jauh dari jangkauanku sekarang, kalau deket aku cuzz. Disini tempe gak seenka di jogja jateng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh dirimu masih bisa ngelamar situ tapi nggak bisa ikut suami keliling Ind ya?

      Delete
  6. Wah, menarik dan asik banget, Mak Lus. Btw, pingin nyicipin cookies tempenya πŸ˜‹πŸ˜‚

    ReplyDelete
  7. jadi gimana mak nasib tempenya? udah dimasak belom?? aku udah dan ternyata rasanya enak juga. padahal selama ini kupikir kedelai diinjak injak itu yang bikin enak (baru kepikiran ngga higienis ya kemarin itu huahahaha)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah dong, paling enak itu dibuat tempe goreg tepung yang kering dan gurih. Dibagi ke tetangga 11 biji. Di kulkas masih 4 mau buat kering tempe separuh wahahaha

      Delete
  8. Anakku yg bungsu msh minum sgm. So far aku seneng susu itu krn selain ga terlalu mahal, tp kandungannya jg ga kalah ama susu impor. Pgn juga sih bisa melihat cara pembuatannya. Tp kemungkinan ga bisa diliat lgs juga kali ya mba, supaya ga terkonstaminasi.

    Trs itu yg body rafting beneran hrs lwt bawah jembatan??? Uwaaaah aku jg ga berani kalo itu. Takut panik krn gelap hahahahah

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.