Tips Menjaga Stok Makanan Di Rumah Selama Wabah COVID-19 atau Corona

Wabah virus COVID-19 atau Corona melanda dunia dan sudah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO. Panic buying dimana-mana. Situasi yang sebenarnya wajar karena ini sesuatu yang baru tapi menyebar cepat dan mematikan. Seiring dengan makin banyaknya informasi dan wadah edukasi tentang wabah ini, sekarang kita bisa bersiap dengan cara yang lebih masuk akal, terutama stok makanan di rumah. Jangan menimbun!

stok buah-buahan

Berikut tips yang sudah saya praktikkan dari berbagai sumber. Sumber yang gunakan adalah dari praktisi tata rumah dan tokoh yang bergelut dalam pengelolaan logistik keluarga. Namun, saya terbuka untuk koreksi supaya tidak salah informasi dan tambahan info dari teman-teman bagi kebaikan bersama. Dalam menghadapi musibah seperti ini, kita harus bersatu dan saling mengingatkan.

Untuk kebutuhan dan nilai gizi, belum bisa saya rangkum karena saya tidak menguasainya. Mungkin teman-teman bisa meneruskannya di blog masing-masing. Semakin banyak yang menulis semakin baik. 

MENGAPA TIDAK BOLEH MENIMBUN STOK MAKANAN?


Mari kita luruskan dulu, menimbun disini adalah tindakan menyimpan stok berlebihan, jauh lebih banyak dari konsumsi normal kita. Ada 2 sebab orang menimbun stok, pertama karena paranoid atau panik berlebihan, kedua karena ingin mengambil keuntungan dari kepanikan orang lain. Keduanya punya akibat yang sama, yaitu membuat orang lain tidak kebagian.

Saya, Anda, kalian, semuanya orang baik. Orang baik tak akan mementingkan diri sendiri dalam suasana seperti ini.

Namun demikian, menyimpan dan menjaga stok makanan keluarga sesuai kebutuhan itu penting. Apalagi kita tak tahu kapan wabah ini akan berakhir. Jangan sampai logistik keluarga tidak siap ketika keadaan memaksa ada lockdown. 

Pembelian dalam jumlah banyak juga butuh dana. Jangan berhutang jika akhirnya bahan makanan tersebut harus dibuang karena busuk atau telah lewat tanggal kedaluarsanya. Tetap hitung berapa kebutuhan aktual kita.

Misalnya kita makan 3 piring nasi sehari, tak akan menjadi 10 piring sehari gara-gara virus, kan? Jika melakukan pembelian sekaligus di muka untuk mengamankan stok, tinggal dihitung saja misalnya 1/4 kg beras per hari untuk sekeluarga dikalikan 14 hari. Jika biasa membeli secara bulanan setelah gajian, tetaplah membeli dengan jumlah yang sama.

Meski ada himbauan social-distancing, tapi janganlah kemanusiaan kita hilang sama sekali. Misalnya punya tetangga yang hanya mampu membeli beras tiap hari setelah berjualan, bantulah untuk punya stok selama 14 hari sampai wabah ini reda.

BISAKAH BERTAHAN SELAMA 14 HARI ISOLASI MANDIRI DI RUMAH?


Self-isolating selama 14 hari ini sesuai dengan ketentuan WHO terkait masa inkubasi virus COVID-19. Jika dalam artikel ini juga menyebutkan stok untuk sebulan, itu belajar dari pengalaman isolasi Wuhan dan menyesuaikan dengan periode gajian orang kantoran. 

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah survei yang dilakukan oleh seorang dokter di twitter kepada followersnya. Maaf saya lupa siapa, saking banyaknya dokter yang saya follow semenjak wabah ini muncul. 

Pertanyaan beliau kira-kira seperti ini, "Seandainya kamu diminta untuk mengisolasi diri di rumah selama 14 hari, apakah kamu bisa bertahan?"

Jawabannya bermacam-macam tapi kebanyakan menyangkut pekerjaan atau nafkah. Saya sebagai seorang ibu, langsung memikirkan makanan. Saya teringat kulkas yang cuma terisi sedikit bahan makanan karena saya belanja 3 hari sekali, serta tidak punya beras, gula pasir dan mie instan.

Kami memang menghapus beras dari makanan pokok dan hanya memasak sekitar 1 kg sebulan. Konsumsi nasi memang lebih banyak dari itu karena kadang-kadang kami beli nasi goreng, nasi uduk, nasi padang dan sebagainya. Untuk gula pasir, bahkan sudah tidak ada di lemari saya selama 2 bulan. Tapi kemarin saya beli 1 kg karena akan membuat kue lumpur surga untuk pot luck piknik kompleks. Yah, ibu-ibu kompleks saya memang keras hati, sudah tahu ada wabah tapi ngotot minta piknik.

Tapi jika benar terjadi lockdown (semoga tidak sampai terjadi) yang berarti tidak bisa seenaknya ke warung beli nasi bungkus, berarti menyimpan beras lebih banyak itu menjadi penting bagi kami. Nah teman-teman tinggal menyesuaikan saja. Kalau selama ini selalu masak sendiri, tidak pernah ke warung nasi seperti saya, berarti stok beras tidak perlu ditambah. Hanya saja pembeliannya diatur. Jika misalnya dulu beras 3 hari sekali di warung dekat rumah, maka sekarang bisa beli sekaligus untuk 14 hari atau sebulan sesuai dana yang dimiliki. Meski kelihatannya banyak tapi karena sesuai kebutuhan maka pasti habis. Tak perlu menumpuk berlebihan agar tak mubazir dan dikerubuti kutu.

Tak lama kemudian, melintas link dari blog Martha Stewart tentang bagaimana menyiapkan rumah kita menghadapi pandemi menurut para ahli, termasuk mempersiapkan stok makanannya. Saya semakin kepikiran dong. Daripada kepikiran, saya mencoba mengumpulkan semua informasi tersebut untuk saya praktikkan sendiri dan mungkin teman-teman juga butuh. Baik rumah maupun kota kami belum sampai lockdown, maka dalam artikel ini saya fokuskan untuk menghadapi kelangkaan bahan makanan yang lebih luas, baik ketika ada lockdown maupun tidak.

MEMPERBANYAK SUMBER BAHAN MAKANAN


Dalam kondisi panic buying, permintaan jauh melebihi supply. Jika kita punya kemampuan, berusahalah memperbanyak sumber bahan makanan, tidak hanya dari membeli di supermarket, toko atau pasar, terlebih karena sejumlah bahan makanan menghilang dari pasaran dan sisanya harga naik. 

Sumber bahan makanan baru ini bisa berupa hewani maupun tumbuh-tumbuhan. Yang jelas, proses produksi yang dibutuhkan harus seminimal mungkin supaya tidak keluar modal terlalu banyak.

Sumber makanan hewani misalnya memelihara ayam untuk diambil telur atau dagingnya. Ternak lain yang lebih besar mungkin akan sulit karena butuh lahan yang lebih luas dan kemampuan beternak. Sumber lain misalnya memelihara lele atau ikan mas.

Untuk tumbuh-tumbuhan lebih sederhana karena pemeliharaan tidak serepot ternak dan lahan bisa minimalis menggunakan pot atau media air di teras atau dapur. Untuk tanaman kecil bisa dimulai dari seledri, bawang, taoge, kangkung dan sebagainya. Untuk tanaman besar, jika punya halaman memadai, bisa menanam kelor, lemon, mangga, dan sebagainya. Tak lupa rumpun tanaman yang sedang naik daun karena dianggap bisa meningkatkan stamina untuk menangkal virus COVID-19, antara lain serai, kunyit, jahe dan sebagainya.

Tapi kan semua sumber makanan baru itu butuh waktu untuk siap dikonsumsi? Benar! Karena itu pilihlah yang bisa cepat dipanen terutama sayuran, misalnya kangkung, taoge dan sebagainya. Sayuran dipercaya bisa meningkatkan stamina tubuh yang diperlukan untuk melawan segala macam virus.

Sayuran segar tidak bisa disimpan dalam waktu lama sehingga usaha untuk menanamnya akan sangat membantu. Jika teman-teman punya akun instagram, carilah akun-akun yang sering memamerkan panen sayuran di rumah. Teman-teman bisa melihat bahwa cara yang digunakan tak harus serumit menggunakan pipa-pipa hidroponik. Banyak juga ibu-ibu yang dengan cerdik menggunakan wadah-wadah plastik untuk menanam sayuran.

BAHAN MAKANAN APA SAJA YANG PERLU DISIMPAN?


1. Bahan Makanan Segar


Untuk menjaga stamina tubuh secara alami, diperlukan sayuran dan buah-buahan. Bahan makanan ini jelas tak akan bertahan selama sebulan, tapi beberapa bisa tahan hingga 1-2 minggu. Biasanya para ibu sudah hapal sayuran apa saja yang awet disimpan. Karena itu jangan berlebihan. Jika berlebihan malah akan merugikan dan mubazir.

Jika belum sampai dikarantina yang berarti masih bisa belanja, cukupkan untuk seminggu saja. Kangkung dan bayam bisa disiangi dan dibersihkan dulu sebelum disimpan agar awet. Tomat, buncis dan sebagainya langsung saja masuk kulkas dalam kondisi kering, jangan dicuci dulu, agar tidak mudah membusuk. Selengkapnya, teman-teman bisa mencari tips food preparation di internet. Yang jelas, meski punya waktu terbatas untuk mempertahankan kesegarannya, sayuran dan buah-buahan wajib ada.

Jangan hanya mengandalkan kulkas, usahakan ada yang tidak perlu masuk kulkas, misalnya didiamkan saja di luar seperti kentang atau cukup dengan direndam di air seperti taoge. Ini untuk mengantisipasi jika ada gangguan listrik dan kulkas tidak bisa digunakan sehingga membuat sebagian stok rusak, layu atau busuk.

Untuk tahu, simpanlah tahu bermerk yang dibeli di supermarket karena ada tanggal kedaluarsanya. Tahu yang beli di pasar memang lebih fresh tapi tidak cocok untuk penyimpanan jangka panjang karena tak ada tanggal kedaluarsa sehingga tahu-tahu baunya sudah tidak enak. Yang bisa dilakukan untuk menambah durasi penyimpanan adalah menyiramnya dulu dengan air panas sebelum disimpan di kulkas. Sedangkan tempe punya masa bertahan yang lebih singkat di kulkas sehingga lebih baik dikonsumsi lebih dahulu sebelum tahu.

Jangan lupa bahan makanan segar yang tak perlu proses mengolah atau makanan mentah atau raw food untuk berjaga-jaga jika gas juga sulit didapat, misalnya timun, tomat, lettuce dan sebagainya. Beberapa produsen tempe juga sudah mampu meningkatkan kualitas dan kebersihan sehingga bisa dimakan mentah.

Baca juga: Napak Tilas CSR Sarihusada Mengunjungi Produsen Tempe Yang Bisa Dimakan Mentah

2. Bahan Makanan Beku


Bahan makanan beku ini favorit ibu-ibu sehingga umumnya sudah punya banyak stok. Jadi tidak perlu mendadak dijejalkan lagi di kulkas. Coba stok yang sudah ada dibongkar dan dihitung apakah kebutuhan teman-teman sudah cukup atau perlu ditambah lagi. Sekalian membuat daftar makanan beku apa saja yang sudah dimiliki agar terlihat berapa banyak protein dan berapa banyak karbohidrat. Jangan sampai isinya bakpao semua. Untuk stamina yang prima butuh protein yang memadai. Tak lupa tuliskan tanggal kedaluarsanya dan mengkonsumsi sesuai urutan tanggal kedaluarsa terdekat.

Bentuk bahan makanan beku yang mengandung protein ini bisa mentah misalnya daging ayam atau setengah matang seperti nugget yang tinggal goreng. Daging mentah bisa langsung masuk freezer tanpa dicuci. Kalau mau lebih praktis, daging ayam bisa dimasak dan dibumbui dulu sebelum dibekukan sehingga tinggal dicairkan dan dipanaskan sebelum dikonsumsi. Jangan lupa membeli ikan fillet yang banyak di supermarket. Praktis, tinggal mengolah kapanpun dibutuhkan. Tapi lebih baik lagi jika bisa mendapatkan ikan segar di pasar lalu dibekukan.

Sayuran juga ada yang beku ya, misalnya mixed vegetables berisi jagung, kacang polong dan wortel. Ini membantu pengadaan stok bahan makanan sayuran yang tidak awet. Jadi sisihkan sedikit tempat di kulkas untuk sayuran diantara daging-daging.

Sedangkan untuk karbohidrat, ada banyak resep roti di youtube yang bisa teman-teman contoh untuk disimpan di kulkas. Roti-roti tersebut tinggal dihangatkan sebelum dikonsumsi. Dalam kondisi benar-benar darurat, tak apa lebih memikirkan kenyang daripada keseimbangan gizi asal jangan sampai malnutrisi. Jika keadaan sudah membaik, gizi harus diseimbangkan kembali.

3. Bahan Makanan Kering


Sebagian besar sembako merupakan bahan makanan kering, yaitu beras, gula pasir dan telur ayam. Telur bisa juga disimpan di kulkas meski lebih baik dalam suhu normal. Selain itu ada minyak, gula pasir dan garam. Untuk beras, ilustrasinya sudah saya tulis di paragraf atas.

Beberapa waktu lalu gula pasir sulit didapat tapi akhir pekan lalu sudah mulai terlihat di supermarket meski masih lebih mahal dari biasanya. Sebelum membeli gula pasir misalnya, pikirkan apakah perlu membeli karena benar-benar butuh atau hanya karena ikut panik melihat kelangkaan yang terjadi? Jika kebutuhan gula pasir memang cuma sedikit, buat apa ikut memburu stoknya? Bukankah semakin sedikit kebutuhan gula kita semakin baik agar terhindar dari diabetes?

Tak lupa simpan pula bahan-bahan makanan praktis seperti oat meal, flakes, pasta dan mie instan. Meski mie instan sering dianggap tidak baik bagi kesehatan tapi merupakan bahan makanan paling praktis untuk keadaan darurat. Jadi tak apa tetap beli tapi dengan pemikiran hanya akan mengkonsumsinya setelah bahan makanan sehat lainnya tak ada lagi di stok atau habis.

4. Bahan Makanan Kaleng atau Kemasan


Makanan kaleng atau kemasan merupakan pilihan banyak orang untuk keadaan darurat. Selain waktu kedaluarsanya cenderung lama hingga lebih dari 1 tahun, juga karena penyimpanannya tidak memerlukan kulkas. Belilah yang tanggal kedaluarsanya masih beberapa bulan dan kalengnya atau kemasannya tidak rusak. Cara mengkonsumsinya juga sangat sederhana, hanya dihangatkan jika tak ada ide untuk membuat suatu menu makanan.

Dalam kondisi normal, memang banyak ibu yang menghindari makanan kaleng karena ada bahan pengawetnya. Belum lagi penemuan cacing dalam kaleng sarden yang sempat heboh lalu. Karena itu perhatikan produsen pembuatnya atau merknya. Produsen yang sudah bereputasi akan berhati-hati dalam proses pengawetannya.

Bahan makanan kaleng yang sering menjadi pilihan adalah kornet dan sarden. Sekarang ada pula pilihan lauk yang tinggal dipanaskan, misalnya gudeg atau rendang kalengan. Jagung, jamur dan kacang polong termasuk yang sering disimpan dalam bentuk kalengan. Sedangkan buah-buahan kaleng umumnya dalam bentuk setup atau sudah berpemanis.

5. Minuman


Meski minuman bukanlah makanan, tapi ini wajib saya masukkan dalam daftar. Aturan minuman sama dengan makanan kemasan, yaitu perhatikan tanggal kadaluarsa dan hindari kemasan rusak.

Yang terbaik adalah menyimpan air mineral yang cukup untuk 14 hari atau sebulan. Jika menggunakan air minum isi ulang, jangan lupa merebusnya dulu sebelum dikonsumsi. Meski air minum isi ulang diklaim bisa langsung dikonsumsi, tapi tak ada salahnya melakukan tindakan pencegahan jika depot isi ulang tersebut kurang higienis. Kebanyakan ibu sih menggunakan air isi ulang tersebut memang untuk memasak, bukan langsung diminum.

Jika teman-teman melihat film luar negeri, banyak yang menyimpan minuman kaleng atau botol. Di Indonesia, orang lebih familiar dengan minuman kemasan kardus. Masukkan susu dan jus buah dalam daftar yang akan disimpan. Selain sebagai variasi, juga karena nilai gizi yang kita butuhkan. Namun demikian, buatlah aturan tegas dalam mengkonsumsinya karena banyak ibu yang mengeluh, menyimpan minuman kemasan itu sangat boros karena bolak balik diambil anak-anak. Mereka menganggap itu tak ubahnya seperti jajan.

CATATAN PENTING DALAM MENJAGA STOK MAKANAN


Perhatikan keseimbangan gizi. Karena lamanya masa isolasi maka gizi menjadi penting. Tubuh yang tiba-tiba harus direm padahal biasanya aktif kemana-mana akan kaget dan bisa melemah. Keseimbangan gizi akan membantu mempertahankan stamina tubuh.

Perhatikan tanggal kedaluarsa dan kemasan. Ibu adalah benteng kesehatan keluarga karena darinyalah tersaring apa saja makanan yang masuk ke rumah dan dikonsumsi anggota keluarga. Jika masih single atau duda, peran tersebut akan sama. Jadi, jangan hiraukan nyinyiran bahwa ibu-ibu kalau belanja pasti lama. Bagaimana tidak lama? Ibu harus mengecek tanggal kedaluarsa, kesegaran sayuran, kondisi kemasan dan sebagainya.

Perhatikan proses produksi. Baik diproduksi oleh perusahaan besar maupun rumahan, proses produksi akan mempengaruhi kelayakan bahan makanan yang akan kita konsumsi. Dahulukan makanan yang segar dibandingkan berpengawet. Jika berupa makanan kemasan, hanya pilih yang mencantumkan informasi kandungan bahan, produsen dan ijin yang jelas. Untuk yang muslim, pastikan bersertifikat halal.

Perhatikan keragaman. Kecenderungan orang Indonesia jika menyimpan makanan darurat adalah fokus di mie instan. Yang biasanya membeli beberapa buah, tiba-tiba membeli satu kardus. Bahkan yang biasanya nyinyir terhadap kandungan mie instan juga ikut-ikutan memborong. Keragaman penting untuk mengurangi kebosanan dan menyeimbangkan nilai gizi.

HARAPAN SAYA


Jika ditarik kesimpulan yang saya tulis diatas, sebenarnya kita tidak membutuhkan lebih banyak dari yang sehari-hari kita butuhkan ketika belum terjadi wabah. Jika sebelumnya terbiasa belanja bulanan atau 2 mingguan, maka ini akan sama saja. Jika biasanya belanja mingguan atau harian, maka ini seperti belanja di awal saja.

Jadi seharusnya tidak ada panic buying. Yang ada hanya mengamankan stok jika sewaktu-waktu tidak bisa bolak-balik belanja.

Meski sudah menulis panjang tentang tips menjaga stok makanan di rumah ini, tapi pada akhirnya saya berharap wabah COVID-19 atau virus corona segara berlalu dan kita tidak sempat mempraktikkan cara memilih dan menyimpan bahan makanan dalam jangka waktu yang terlalu lama karena yang terbaik adalah bahan makanan fresh.

Sedih sekali ketika saya belanja di supermarket minggu lalu melihat anak usia 7 tahun yang terlihat bersih, sehat dan badan berisi menggotong satu kardus mie instan. Tak terbayangkan jika dia harus mengkonsumsinya tiap hari. Karena itu, jangan menimbun agar keragaman jenis bahan makanan terjaga dan stok bahan makanan cukup untuk semua orang dengan harga terjangkau.

Yuk kita ikuti instruksi Kemenkes dan saran para dokter dalam menjaga stamina tubuh, menjalankan gaya hidup sehat dan menjaga jarak sementara waktu.

Post a Comment

18 Comments

  1. panic buying dan menimbun stok makanan itu kurang bagus sih, seakan dunia mau kiamat saja. tetap santai dan jaga kondisi tubuh tetap fit.

    ReplyDelete
  2. Yang penting tidak berlebihan. Segala sesuatu yg berlebihan justru akan tidak baik. Setidaknya menurut keyakinan kami sebagaimana sudah diucapkan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya

    ReplyDelete
  3. Di Surabaya, so far so good MakLus.
    Kayaknya stok sembako aman, sih.
    Gula di beberapa toko sempat lenyap, tapi abis gitu re-stock lagi.

    Makasiii tipsnya MakLus. Semoga kita semua sehaaattt

    ReplyDelete
  4. Jangankan menimbun, kalau aku malah gak kebagian stock nih saat belanja di supermarket. sedih banget deh rak-rak pada kosong, terutama gula pasir. udah ke beberapa supermarket tetep aja kosong. huhu..

    Boleh juga tuh tips nya, mulai menanam sendiri dan menikmati hasil panen sendiri. mulai dari nanem kangkung, bayam, cabe, dll.

    ReplyDelete
  5. Intinya sih, jangan ikut-ikutan panik terus jadi panic buying, karena merugikan diri sendiri dan orang lain juga, pleaselah harusnya kita lbh rileks, tetap waspada dan perbesar empati sih

    ReplyDelete
  6. sama ketika kita belanja semingguan untuk memenuhi stock kulkas karena efek malas setiap hari ke pasa plus lebih hemat lagi.. untuk bahan kering bisa malah kita simpan sebulan.. aku sih lebih memilih atur menu seminggu 2 mingguan biar gak kelabakan beli macem-macem..

    ReplyDelete
  7. Aku stok biasa aja lagi pula kalau kebanyakan takut mubazir juga ya mbak. Memang biasaay suka beli frozen food buat seminggu, kalau sayuran biasanya belanja 2-3 hari sekali malah.

    ReplyDelete
  8. kalau saya emang biasa belanja bulanan Mbak, kalau stocnya anak-anak sih biasanya abis di minggu ketiga tapi kalau lagi bisa dikontrol juga bisa sih bertahan sampai saatnya belanja kembali.
    moga cobaan ini segera berlalu, Aamiin :)

    ReplyDelete
  9. aku jug ayang penting cukup mba..terutama yang vital seperti air minum. Kalau yang kering - kering memang biasanya punya exra. Sekarang saya justru stok buah segaar

    ReplyDelete
  10. Udah rencana dari dulu menanam berbagai macam pohon2 an yg penting di belakang rumah eh malah ga sempat melulu padahal bibit sudah ada..

    ReplyDelete
  11. Sedih banget ada aja yang taking advantages di situasi seperti sekarang ini. Padahal sebetulnya semua bisa normal aja kalau ga ada panic buying semua hal ya mba. Kami di rumah sudah menerapkan menanam sendiri kebutuhan dapur seperti cabe, tomat, sawi, dll. Lebih hemat juga sih jadinya.

    ReplyDelete
  12. Kalau menurutku cukup stok makanan secukupnya saja dan tak perlu sampai panic buying ya. Minimal juga bisa kasi kesempatan orang lain untuk memiliki simpanan bahan makanan. Kalo aku dan seluruh keluargaku tetap menerapkan prinsip belanja bulanan. Jadi satu kali belanja di awal bulan itu, stok makanan kering cukup untuk satu bulan. Sementara sayur mayur dan buah, bikin stoknya cukup 3 hari saja karena ada bapak jualan sayur yang tiap 3 hari datang ke kompleks kami

    ReplyDelete
  13. Tipsnya mantul banget nih untuk kondisi yang lagi genting saat ini. Emang sikao kita dalam menghadapi wabah corona ini nggak perlu sampai takut berlebihan ya apalagi sampai melakukan panic buying dan menimbun banyak makana di rumah. Ya semoga saja wabah ini segera berlalu

    ReplyDelete
  14. Mbaaa... semoga saja ga sampai harus praktekkan stok makanan seperti ini ya. Ngeri juga ngebayanginnya. Aku masih belanja di bibik sayur yang lewat tiap pagi mba. Semoga aja dengan mencuci bersih sayuran dan menjaga jarak, kita masih terhindar ya dari kemungkinan buruk.

    ReplyDelete
  15. aku ngga nyetok makanan sama sekali mba, alhamdulilah tukang sayur keliling masih jualan. Dan untuk stok bahan makanan untuk dimasak harian udah beli diawal bulan. jadi aman mba.

    ReplyDelete
  16. aku nggak nyetok sama sekali mba. Tapi memang frekuensi belanja tak kurangi sih. Karena aku di kampung, tiap hari masih ada pedagang sayuran segar yang keliling. Dia bawa ikan, bawa ayam mentah, tahu, tempe. Hitung2 berbagi rejeki juga ke mas2 tukang sayur. Nanti klo tiba2 diinfoin libur/pasar tutup..barulah blnja agak bnykan. btw, kmrn aku dikasih daun kelor tetangga bnyk bngt....lumayan bngt, buat tameng tubuh juga. Biar sehat.

    asline yo bosen di rumah terus....gek kegiatane cuma masak..ngoyak2 anake kon nggarap tugas.... :-D

    ReplyDelete
  17. Kalau di lingkunganku ada tukang sayur dan penjual ikan tiap hari lewat, jadi di sini belum ada yg istilah nyetok makanan ataupun panic buying masih tenang tapi ttp waspada di sini mah . Btw tipsnya bisa aq share ke adikku dia tuh suka belanja lgsg banyak

    ReplyDelete
  18. Kalau di lingkunganku ada tukang sayur dan penjual ikan tiap hari lewat, jadi di sini belum ada yg istilah nyetok makanan ataupun panic buying masih tenang tapi ttp waspada di sini mah . Btw tipsnya bisa aq share ke adikku dia tuh suka belanja lgsg banyak

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)