Tuesday, May 28, 2013

Euforia Kamera

Jerry Aurum, pemenang gold medal di Asian Print Award dan suami Denada ini, dalam acara Mata Lensa yang dibawakannya membuat saya merenung dan membandingkan (maaf). Alangkah bedanya sikap seorang fotografer profesional dengan para pengikut trend. Jerry yang ketika itu berada di pasar malam pinggiran untuk memberi tips and tricks memotret human interest dengan tegas mengatakan bahwa untuk menghasilkan foto yang bagus, yang terpenting bukanlah kamera canggih tapi hubungan antar manusia, yaitu antara pemotret dan yang dipotret. Pemotret harus membaurkan diri dengan kalangan tersebut dan sama sekali tidak disarankan untuk melakukan candid. Foto harus jujur merekam hubungan sosial antara yang pemotret dan yang dipotret. Jadi kamera baginya bukanlah alat untuk mengukuhkan kedudukannya sebagai fotografer, melainkan merupakan penghubung sosial.


Sebagai penghubung sosial, berarti sikap seorang pemotret seharusnya tidak beda dengan hubungan sosial pada umumnya, misalnya ada sikap saling menghormati dan toleransi. Tidak peduli kameranya berharga 20 juta, begitu masuk sebuah pasar, tak serta merta dia boleh petentang-petenteng memotret seenaknya demi momen. Manusia yang ada didepannya harus dihargai jauh lebih tinggi dari momen tersebut. Sama seperti ketika memegang smartphone seharga 8 juta, tak serta merta dia boleh memaki-maki orang seenaknya di twitter. Hubungan sosial online dan offline seharusnya tetaplah sama, ada sopan santun dan saling menghargai.

Setelah kamera saku saya diambil pencuri, setiap hari saya membayangkan pengganti yang jauh lebih bagus, yaitu kamera DLRS. Rasanya keren sekali bisa punya kamera DLSR. Saya tidak terlalu narsis, selain juga karena sadar diri saya tidak fotogenik, tapi saya senang sekali memotret pemandangan, hal-hal unik dan manusia di setiap saya bepergian. Apalagi saya juga punya handicraft online shop yang perlu foto bagus. Asik juga melihat teman-teman yang tergabung dengan komunitas fotografi dan memiliki blog yang berisi foto-foto. Meski kemudian saya sadar bahwa saya sangat simple dan sangat menikmati perjalanan, jadi tidak mungkin saya bisa santai dengan membawa-bawa kamera seberat dan sebesar itu. Untunglah kemudian keluar kamera mirrorless yang lebih ringkas, meskipun tetap belum beli juga.

Ketika mengincar kamera di internet itulah, mata saya tertuju pada ribut-ribut foto seseorang sedang ibadah, sementara seorang perempuan dengan "gagah" dan "keren"nya berada di posisi diatas orang yang sedang beribadah tersebut. Saya sengaja menghindari obrolan tentang agama tersebut karena di twitter saja membuat beberapa akun berantem. Saya hanya miris dengan bagaimana kita memperlakukan kamera sebagai alat untuk menyembah momen. Tidak ada kesopanan, tidak ada toleransi. Yang penting hasilnya keren. Saya yakin kemampuan fotografi perempuan itu tidak ada seujung jari pun dibandingkan dengan kemampuan Jerry Aurum.

Momen telah menjadi candu sekaligus racun bagi sensitivitas kita. Dalam salah satu artikel saya, saya pernah menggambarkan bagaimana kesalnya saya ketika sebelah saya terus-menerus memotret sendratari Ramayana dari awal sampai akhir. Adalah hak dia untuk mendapatkan momen terbaik, tapi hak saya juga menikmati jalannya sendratari tanpa terganggu suara cekrek-cekrek tanpa putus. Jika niatnya adalah memotret, bukan menonton, sebaiknya dia tidak duduk disana, melainkan meminta permit ke panitia untuk berada dibawah. Lagipula annaucer sudah mengingatkan penonton untuk tenang dan tidak berisik.

Dalam suatu seminar, saya sengaja memilih duduk tepat di depan barisan tengah agar bisa memotret sambil mendengarkan pembicara. Ketika acara hendak dimulai, tiba-tiba beberapa orang langsung berdiri didepan saya untuk memotret. Padahal dia bisa memotret dengan berdiri di belakang saya karena saya duduk dan kameranya berlensa serta jarak yang cukup dekat dengan pembicara. Saya pun tidak bisa melihat apa-apa karena kamera orang-orang itu besar-besar, bukan kamera saku yang bisa memberi celah bagi lainnya. Saya langsung berteriak meminta mereka merunduk, karena itu pun sebenarnya bisa dilakukan dan bisa memberi kesempatan pada yang lainnya. Tapi kamera mereka telah digunakan untuk menyembah momen. Mau mereka sedekat mungkin dan harus tegak lurus dengan obyek. Tak peduli dengan lainnya. Permisi pada yang dipantatipun (maaf) tidak, padahal pantatnya (maaf) tepat dimuka saya dan teman-teman sederet saya karena mereka berdiri membelakangi kami yang duduk.

Euforia kamera akan terus bergulir. Rasanya hampir semua rumah tangga kelas menengah punya kamera keren. Mahasiswa pun banyak yang kemana-mana sudah menggembol kamera. Kamera memang bisa membuat kita keren hanya dengan menyandangnya saja, apalagi jika hasilnya sudah di-share. Saya tidak memungkiri itu, karenanya saya juga ingin punya. Tapi mari mengingat pelajaran dari Jerry Aurum bahwa momen yang paling berharga adalah apabila kamera digunakan untuk merekam hubungan sosial, bukan untuk gagah-gagahan.

Maka sebelum memotret, kita harus berempati lebih dulu.

18 comments:

  1. *ikut merenung juga.. Mak JLEB banget postingan-nya :)
    Jarang sekali ada yang sprti Jerry Aurum ya Mbak.

    ReplyDelete
  2. Mikir semoga saya bisa belajar lebih berempati dengan kamera. Sedang berusaha menghindari grudukan ke depan kalau ada seminar atau apalah dan itu butuh kesadaran diri.

    ReplyDelete
  3. errr... mo ngomong apa ya? sadar diri saat ini kamera menjadi satu2nya alat narsis. apalagi (*katanya) blogger identik dengan narsis. refleks aja gitu kalau liat kamera (*situ artes yak, toyor diri sendiri) hehhe, tfs mak. jadi renungan juga.

    ReplyDelete
  4. Saya jadi ingat film The Bang Bang Club yg bercerita ttg sekumpulan fotografer di sebuah daerah konflik di Afrika. Salah satu dari foto dr mereka mendapt penghargaan tertinggi di dunia fotografi. Tapi kemudian justru menjadi ramai krn isi gambar foto tsb dan sikap sang fotografer thd situasi yg dipotretnya. Foto itu memperlihatkan seorang anak afrika yg sedang menahan lapar dan seekor burung pemangsa yg menunggunya seolah siap memangsa. Media kemudian mempertanyakan apakah sang fotografer berusaha menyelamatkan anak tsb. Pd kenyataannya tidak. Begitu dia selesai mengambil gambar, dia meninggalkan begitu saja anak itu di sana. Dia tdk tahu bagaimana nasib anak itu selanjutnya. Yg penting dia sudah mendapat gambar. Menyembah momen....hiks

    ReplyDelete
  5. hati nurani sangat berperan ya,,bagaimana seorang fotografer bertingkah laku.

    ReplyDelete
  6. ya, sy lihat foto perempuan yg berdiri dengan "gagah" itu. Sy membayangkan, apabila kita sbg muslim sedang sholat berjamaah, kemudian di depan imam ada org2 yg bebas memotretnya. Bagaimana reaksi kita? #Miris Bgt, ya

    ReplyDelete
  7. makanya aku jarang foto2 kalo ada acara...yang ada aku difoto :D hehehe *yang g pernah bawa kamers/ foto kalau acara, kecuali foto diri sendiri tanpa ngelibatkan orang lain :p

    ReplyDelete
  8. Ikut berdiam diri alias merenung,

    Memotret dikerumunan banyak orang itu aku takut Mak, hehee...jadilah saya menyimpan kamera sajah *takut diambil intinya, hehee....

    Salam
    Astin

    ReplyDelete
  9. saya ada mak dlsr di rumah, udah ngga pernah dibawa bawa lagi gara gara ogah menyembah momen. yang ada sekarang pakai smartphone aja, praktis. soale paling males rebutan momen kaya gitu.

    ujung-ujungnya make buat jadi tukang potret dadakan di kawinan qiqiqi

    ReplyDelete
  10. iya aku juga liat fotonya, dan kadang emang klo liat yang pake kamera Ds.. itu suka gimana gitu hehee

    thnaks mak keren ulasannya

    ReplyDelete
  11. Seperti pencerahan atau pemberian wawasan dasar bagi fotografer pemula seperti saya, dan memang secara moril ini akan memberikan dukungan kepada setiap fotografer pemula untuk berani berekpresi dan memberikan karya terbaiknya dengan apa yang dimilikinya.

    Kamera canggih tentu saja sangat membantu dalam menghasilkan sebuah karya foto yang baik tapi itu semua hanyalah teknis yang bisa dipelajari. Hal utama adalah EMPATI yang disebut di sini luar biasa. Ada keterkaitan moral antara manusia dan mesin untuk menghasilkan "chemistry"

    ReplyDelete
  12. Iya, boleh berusaha ngedapetin momen bagus, tanpa harus menyembahnya ya mak *belajar kalau nanti dapat rezeki punya DLSR* :)

    ReplyDelete
  13. Setuju Banget Mak, suka keselkalo motret sambil maaf mamerin pantat ke orang lain

    ReplyDelete
  14. Hmmm, mencermati isi tulisannya. Trimakasih mak, mendapatkan sesuatu dari tulisan ini.

    ReplyDelete
  15. Kalo candid memang momennya tak tergantikan, tapi ada tanggung jawab kita terhadap objek yang kita ambil. apalagi sesama manusia ya, tetap harus ada toleransi. Mari merenung bersama

    ReplyDelete
  16. setuju bgt mak! Skrg ini kamera lagi booming dimana2, bahkan smua kalangan. Namun sayangnya mrka hanya sok2an nenteng kamera tp gayanya arogan, bahkan tak ada sopan santunnya, seolah2 dgn berbekal kamera dia jd yg berkuasa. Pdhl momen indah yg berhasil kita capture itu, adalah momen yg bnr2 kita rasakan dgn hati. Bkn dgn mengganggu org lain.

    ReplyDelete
  17. jadi tanpa DSLR pun sebetulnya bisa membuat foto yang bagus ya mbak. Harus belajar nih aku

    ReplyDelete
  18. DSLR mak bukan DLSR. Belum pernah noton acaranya Jerry Aurum, tapi pas di Masterchef kameranya bagus yang berharga puluhan juta itu mak. Jadi hmmmm....

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.