Wednesday, January 29, 2014

Protect Riau's Paradise

Protect paradise? Lihat dulu udang sungai Kampar berukuran jumbo itu yang kelezatannya masih terasa dua jam setelah dimakan. Membaca artikel Ketahanan Pangan Masyarakat Riau ini, membuat saya tahu kalau ternyata udang itu menghadapi masalah serius. Pembukaan lahan dan pembuatan kanal-kanal lahan gambut, telah merusak kadar asam sungai tempat udang tersebut hidup.

Lahan gambut Riau adalah salah satu lahan gambut terbesar yang menyimpan karbon dunia. Tahun 2008, Wan Abu Bakar, gubernur Riau saat itu mendeklarasikan jeda tebang untuk merespon pernyataan presiden Susilo Bambang Yudhoyono di pertemuan G-8 untuk menurunkan 50 persen emisi karbon. Apakah hal itu sudah dilakukan? Karena keterbatasan mencari data, saya tidak bisa mengungkapkan perbandingan luas hutan tahun 2008 dengan 2013. Tapi saya bisa memberi testimoni apa yang dirasakan masyarakat.

Kabut Asap Lebih Lama

Mungkin yang paling mudah untuk melihat bahwa kerusakan hutan semakin parah adalah lamanya kabut asap. Sebelumnya kabut asap terjadi setahun sekali. Tahun 2013 kabut asap terjadi dua kali dalam setahun, berdurasi 3-4 bulan. Bayangkan, total kami menghirup udara tak sehat selama setengah tahun.

Solusi pemerintah yaitu hujan buatan, memang berhasil dalam jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang itu tidak menunda kerusakan yang akan terjadi di masa depan. Lagipula, yang membabat hutan bisa melakukannya lagi di musim tanam berikutnya, sementara biaya hujan buatannya dari masyarakat yang menghisap asap kabut tersebut melalui pajak. Untuk operasi 40 hari pemadaman kebakaran hutan oleh BNPB menghabiskan dana 12 milyar.

Untuk kebakaran hutan seluas itu, rasanya tak mungkin dilakukan pekebun tradisional dengan lahan yang tak luas. Kabut asap yang dirasakan sampai propinsi dan negara tetangga itu pastilah akibat kebakaran di lahan yang amat luas. Riau memiliki lahan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Membakar adalah cara termurah ntuk memperluas lahan karena bisa memusnahkan pohon, semak dan hewannya sekaligus.

Banjir Lebih Lama

Setiap hari saya menyeberangi jembatan diatas sungai Siak yang terdalam di Indonesia. Disekitar jembatan itu ada kampung yang setiap tahun dilanda banjir. Banjir tahunan itu adalah kombinasi antara musim penghujan dan pasang di muara. Saya hapal periode banjir daerah tersebut karena selalu berbarengan dengan musim duku di bulan Desember sampai Januari.

Biasanya banjir terjadi beberapa hari saja, tapi kali ini banjir berlangsung seminggu lebih sampai airnya menghitam. Daerah hulu yang gundul dan sedimentasi yang parah di sungai Siak adalah penyebab banjir berlangsung lebih lama. Curah hujan yang tinggi memang bisa disalahkan, tapi Riau tidak mengalami musim penghujan yang lama seperti di Jawa. Sayangnya hujan yang turun tidak lantas terserap, melainkan langsung deras mengalir ke daerah yang lebih rendah tanpa hutan sebagai penahan. 
Jalan dalam propinsi Riau banyak yang rusak oleh truk balak raksasa yang tanpa henti melintas. Jalanan tak mampu menahan beban berat terus-menerus. Entah apakah kayu yang dibawa truk balak itu legal atau ilegal, tapi saya membayangkan berapa hektar hutan yang botak jika dalam dua jam perjalanan saya dari Pekanbaru ke Duri truk seperti itu melintas tanpa henti? Coba dikalikan 12 jam, dikalikan 365 hari, dikalikan bertahun-tahun. Waaah....

Binatang Keluar Hutan

Teman saya di Duri heboh di twitter dan facebook menceritakan segerombolan gajah yang masuk kompleks. Disini bukan sekali dua kali terjadi. Biasanya oleh security, gajah-gajah tersebut digirih kembali ke hutan. Tapi sedihnya adalah karena gajah-gajah tersebut mengobrak abrik tempat sampah kompleks sampai penyok semua, artinya mereka kelaparan. Habitat mereka di hutan sudah semakin sempit sehingga sulit untuk mencari makan di alam.

Yang mengkhawatirkan adalah harimau. Beberapa kali warga dan ternaknya diterkam harimau. Harimau tidak seperti gajah yang mau mengobrak-abrik tempat sampah jika lapar. Mereka akan memburu manusia dan ternak. Manusia sendiri dengan senang hati akan membunuh harimau jika melihatnya karena harga jualnya yang mahal, baik untuk diolah sebagai produk fashion maupun dipajang untuk gagah-gagahan. Kombinasi antara diburu dan habitat untuk berkembang biak yang menyempit membuat harimau terancam punah.

Hutan yang hijau, udara yang bersih dan habitat liar semakin sulit didapat. Surga itu perlahan hilang dari bumi lancang kuning. Let's protect paradise!


Sumber pendukung:

http://www.greenpeace.org/seasia/id/news/kehidupan-dan-ketahan-pangan-m/

NOTE: WON A TRIP TO RIAU FOREST, SPONSORED BY GREENPEACE

11 comments:

  1. serem juga kalo sampe harimau masuk ke perumahan ya mak.. cerita semacam ini sering sy dengar dari teman yg tinggal di banjar. pembalakan liar, hewan yang masuk ke perumahan, banjir, asap, sampai listrik yg matinya sehari bisa sampe berkali2..
    kalo dia ngomel biasanya begini: kalimantan itu kayanya luar biasa. kekayaannya dibawa ke jakarta, di sini (kalimantan) cuma dikasi ampasnya :D

    mudah2an selalu dilindungi Allah ya mak... aku tergoda sama udangnya..seksi abiiiis :D

    ReplyDelete
  2. aduh... spt itukah Riau Mak...? Memprihatinkan juga ternyata...
    Kabut asap, banjir dan paling menyeramkan adalah banyaknya binatang yg keluar hutan.
    Ngeri membayangkan ketemu ama harimau yg sedang "jalan2" cari mangsa hiiii....

    ReplyDelete
  3. Kera hutannya jinak atau gak tuh mbak?

    ReplyDelete
  4. Hutan makin hari makin mengkhawatirkan, jangan salahkan alam lagi kalau bencana lebih sering melanda,,,semua akibat ulah kita manusia juga..

    ReplyDelete
  5. serem ya mak kalo tiba2 liat harimau atau gajah di kompleks rumah, tapi mungkin mereka sampai sana juga karena kbingungan cari makan atau tempat tinggal

    ReplyDelete
  6. Ohoo.. Ada udang slurrrp.. ;D
    Di sungai siak, brarti deketan sm mak hana ya mak?
    Seru jg liat hewan2 bermunculan dari hutan, kalo disini pasti berasa ngeliat artis mak, histeris dan heboh hihihi, soale hewan kyk bgitu mah cuma ada di bonbin (di palembang mah mana ada)

    ReplyDelete
  7. Ahhhh soal asap ini bikin aku gemesssss sekali mak Lusi.. huhuhuhu. Sesak nafas dan kering sekali rasanya. Kalo ga asap, hujan deras sampai banjir kemana2 yang juga jadi wabah penyakit. Kapan masy. Riau terbebas dari semuanya? :(

    Yang soal hewan2 masuk kompleks itu aku baru tau deh mbak. Kasian ya mereka, habitatnya udah hancur lebur, makanya cari makan ke kompleks :(

    ReplyDelete
  8. Maak lusi mengalaminya sendiri...penuh penghayatan siip layak menang mak congrat

    ReplyDelete
  9. salam, mak Lusi
    kabut asap 2x setahun, lama pula, ya Allah ...
    kapan ya bisa segera diatasi?
    btw selamat ya, jadi pemenang blog hutan Indonesia.

    ReplyDelete
  10. Tulisannya mendalam banget ya mba, smoga kita smua bisa menjaga bumi lancang kuning ini

    ReplyDelete
  11. Pernah ke Riau Mak tahun 2010 saat pengumpulan data utk RUU tentang pencegahan n pemberantasan perusakan hutan (sblmmnya pembalakan liar), yg sekarang sdh jadi UU. Saat itu saja sy sdh lumayan prihatin ... sayang banget surga itu harus mengalah untuk pertimbangan ekonomi. Apa iya masyarakat sekitarnya menikmati peningkatan ekonominya... kabut asap dan banjirnya pasti dirasakan semua. UU tsb fokus kepada coorporate crime, jd kerusakan hutan yg sebetulnya dilakukan oleh korporasi (termasuk yang mengantongi izin) perlu waktu 3 tahun (pembahasannya saja) utk bs gol menjadi UU. karena banyak pengusaha dan "pihak berkepentingan" yang tidak ingin UU ini gol...
    Meski bukan satu-satunya solusi, UU itu seharusnya dilahirkan jauh sebelum sebagian besar hutan kita rusak dan agak mustahil dikembalikan. RUU ini sdh diajukan sejak periode 1999 (tapi tidak seksi dan banyak kepentingan yg terusik..sehingga tidak terbahas).

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.