Sunday, November 02, 2014

Dari Mana Relawan Makan?

Pertamanya senang sekali dapat hadiah ini itu, dapat uang dari sana sini berkat ngeblog. Lalu kelamaan tiap membuka media sosial itu saja yang menjadi pembicaraan: DUIT! DUIT!. Lalu duit pun membikin muak. Hah? Muak dengan duit? Sumpeh lo. Tentu tidak. 
Umat Muslim terkenal sebagai pedagang yang ulet. Keinginan untuk kaya dan punya uang banyak itu tak akan pernah pudar karena punya tujuan hidup yang jelas, yaitu memenuhi rukun Islam terakhir (naik haji) dan bersedekah sebanyak-banyaknya. Duit adalah sarana untuk mencapai tujuan hidup, bukan tujuan hidup itu sendiri. Namun meski hanya sebagai sarana, duit lebih sering dibicarakan daripada tujuan itu sendiri karena tak semua orang sukses memperoleh sebanyak yang diharapkan. Dan sudah sifat manusia memiliki keinginan untuk mendapatkan lebih banyak dari yang lainnya.

Berbeda dengan blog, media sosial memberikan ruang untuk berinteraksi langsung. Saling komen dan saling pamer membuat pihak lain terpanasi, tersinggung, gak mau kalah, dan sebagainya. Pada akhirnya segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Begitu pula dengan uang yang sangat kita inginkan jika dibicarakan terlalu sering.
Sebaliknya, ada pihak lain yang konsisten membicarakan tujuan, yaitu relawan, utamanya relawan kemanusiaan. Entah kalau relawan politik ya, heheheee. 
Sebuah email masuk dan membuat saya terkoneksi dengan seseorang yang merupakan person in charge sebuah gerakan. Kebetulan seseorang tersebut ada dalam suatu event. Saya datang ke event tersebut tapi tidak untuk bertemu dengannya. Pengunjung event tersebut rata-rata anak muda, banyak yang gondrong, beberapa bertato, dan melihat beberapa cewek merokok dengan santai juga. Jangan salah mengira, saya tidak menghakimi penampilan karena apa yang mereka lakukan di event tersebut sangat baik. Tapi itu memicu bayangan saya tentang orang ini, yang kurang lebih sama dengan apa yang saya lihat di event tersebut.
Sampai akhirnya saya bertemu dengan beliau. Tanpa diduga beliau ini beda sekali dengan bayangan saya, rambutnya memutih, usianya agak jauh diatas saya. Padahal saya sudah tuwek juga heheheee.... Beliau datang mengendarai sepeda motor yang penuh dengan barang-barang bantuan didepan dan di belakang. Setelah ngobrol sana sini, terungkap beliau adalah lulusan sekolah-sekolah dan universitas terbaik di kota ini, bahkan di Indonesia. 
Ada macam-macam interpretasi ketika mengatakan, "Mengapa jadi begini?" 
Dengan latar belakang dan usia yang seperti itu kita mengharapkan bertemu orang yang telah sukses (dalam artian punya banyak harta) dan tinggal menikmatinya. Tapi beliau tidak begitu. Beliau sendirian menembus malam mengendarai sepeda motor ke luar kota dan ke gunung-gunung untuk kepentingan orang lain. Banyak anak muda yang saya kenal memiliki dedikasi tinggi sebagai relawan. Tapi mungkin ini pertama kalinya saya melihat yang seusia beliau, yang mungkin sudah punya anak-anak yang cukup besar, yang perlu perhatian dan biaya.
Kebanyakan anak muda menjadi relawan berawal dari pertemanan di media sosial, lalu dengan kemampuan berkomunikasinya membuat gerakan yang mereka bela makin dikenal dan dibantu orang banyak. Tapi relawan seperti beliau ini lebih banyak bekerja dalam senyap. Bagi beliau, gerakannya harus lebih besar dari dirinya. Beliau selalu bertindak atas nama gerakannya tersebut. Tak ada profile di website tersebut tentang siapa dirinya.
Mungkin anda yang sudah berkeluarga, ada yang seperti saya. Mengutamakan kebutuhan keluarga dulu. Kalau ada waktu luang, rejeki lebih atau sedang nadzar, barulah berpikir membantu yang lain. Kalau ada kesulitan baru berpikir, jangan-jangan karena kurang sedekah? Membantu orang lain tidak dijadikan pemikiran utama sejak semula.
Tapi ada orang-orang yang seperti beliau, menjadikan membantu orang lain itu adalah keseharian. Kalau itu sudah menjadi hidup beliau, lalu pertanyaannya, bagaimana beliau menghidupi keluarganya? Jika ternyata beliau juga bekerja atau mendapat gaji seperti LSM, bagaimana beliau membagi waktu agar kesejahterannya meningkat? Atau mungkin definisi sejahtera kita berbeda ya? Sebagian terlalu berat ke materi, sebagian memberi tempat lebih banyak pada rohani. Kalau jawaban yang aman sih hidup itu harus seimbang, kan ya? Tapi saya belum pernah melihat itu meski yang bersangkutan sudah memproklamirkan diri hidup seimbang. Karena tak ada manusia yang sempurna. :)

4 comments:

  1. hahahaha,,jadi ngeblog itu juga bisa buat bersaing ya mak,,selain uang,,,,baru tau,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak Dwiex, ada yang seperti itu. Tapi bukan itu inti dari tulisan ini :)

      Delete
  2. makannya saya acungin jempol buat para relawan yg benar2 RELA,salut pokoknya...^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku bingung aja mikirnya, kok ada yang lebih mementingkan orang lain diatas kepentingannya sendiri sampai seperti itu

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.