Sunday, November 09, 2014

Spekoek Legendaris Mbah Joyo


Kalau teman-teman melewati Ring Road Barat Jogja, akan terlihat deretan toko Joyo Roti yang menjual berbagai roti spekuk dan mandarin. Saya sendiri nggak terlalu paham beda spekuk dan lapis legit. Hampir sama menurut saya. Heheheee.... Saya juga nggak tahu sejarahnya mengapa sampai ada begitu banyak toko Joyo Roti. Mungkin itu adalah keturunan Mbah Joyo semua, yang masing-masing merasa berhak menyandang merk tersebut.
Dahulu, ada seorang pembuat roti bernama Mbah Joyo. Mbah Joyo ini tinggal didesa yang jauh disekitar Ring Road Barat. Jaman dulu sebelum ada Ring Road, butuh perjuangan untuk menikmati roti mbah Joyo. Entah pakai iklan apa sampai orang Jogja kota tahu keberadaan Mbah Joyo. Mbah Joyo juga tidak punya toko dan hanya membuat roti jika ada yang memesan. Lantaran jauh dan tidak ada telepon, maka Mbah Joyo hanya menerima pesanan dalam partai besar untuk kondangan, selapanan, tahlilan dan sebagainya. Karena susahnya kendaraan juga, biasanya pemesan tidak mengambil roti yang sudah jadi, melainkan mengangkut pasukan Mbah Joyo beserta peralatannya menggunakan mobil bak ke tempat kondangan. Seru ya? :))

Pasukan Mbah Joyo terdiri dari laki-laki semua. Membuat roti model jadul begini butuh tenaga yang lumayan besar supaya cepat selesai, makanya laki-laki lebih cocok. Ada sedikit ketidaknyambungan disini karena jenis roti yang dibuat adalah roti modern tetapi semua peralatan dan cara pembuatannya ala ndeso. Meski demikian, aroma dan rasanya belum pernah ada yang ngalahin, toko roti keren sekalipun. Dibandingkan dengan toko Joyo Roti yang ada sekarang juga tidak sama. Meski tetap menguarkan aroma roomboter yang aduhai tapi ada sedikit pengurangan rasa. Mungkin ada penghematan disana-sini supaya harganya ekonomis. Kalau ingin yang aroma dan rasanya sama seperti dulu, masih bisa memanggil pasukan generasi baru. Hihihiii....

Tidak ada perbedaan yang berarti dengan pasukan Mbah Joyo yang dulu, hanya beberapa merk bahan menyesuaikan dengan ketersediaan pasar saat ini. Kalau bahan-bahan jaman dulu masih bau-bau nama Belanda gitu deh. Peralatan yang digunakan juga tidak lantas serba listrik atau mesin. Lihat tuh ngaduk bahannya masih pakai seikat rotan. Ovennya pun buatan sendiri, menggunakan arang. Nggak betah banget kalau duduk dekat dengan bapak-bapak ini. Nggak betah pengin ngemil. Hahahaaa.....

21 comments:

  1. pemesang mengangkut Mbah beserta alat tempurnya, wah unik nih. gak pernah lihat saya, hihihii.... ceritanya keren mbak, ayo dibikinkan novel mbak :D

    ReplyDelete
  2. Tradisional banget ya, tapi justru oven begini panas nya bagus merata, atas dan bawah.
    Kalau alat mengaduknya masih banyak digunakan tukan martabak manis,disini.
    Duuuhh...kebayang harum roomboter ketemu harum spekoek!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, suka nggak kuat aroma roomboter. Bikin rasanya gurih juga. Nggak kuat untuk ngemil banyak2 :(

      Delete
  3. kuliner tradisional berbau lokal sepertinya emang makjoss dan legit rasanya. Jadi pengin jalan-jalan ke Yogya nih...makasih ya mak atas segudang info keren dalam artikelnya.

    ReplyDelete
  4. nggak pernah lihat yg beginian mak,,tradisional banget ya pembuatannya,,,berarti kalo ke Jogja pastinya ada ginian ya,,

    ReplyDelete
  5. Kue2 jadul itu rasanya emang suka lebih enak daripada setelah dimodifikasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kayak bakpia itu lebih enak yg kacang ijo

      Delete
  6. langsung mbayanging aroma kue mateng yang dibakar pake arang itu..hmmmmmm

    ReplyDelete
  7. ring road barat weh bisa itu kalau jalan2 jogja lagi mauu spiku #lirik timbangan :D

    ReplyDelete
  8. wahhh... belum pernah. padahal sempat 5 tahun di sana dulu waktu kuliah :(

    ReplyDelete
  9. Mbak, bisa delivery nggak yah? duh, tiba-tiba ngiler nih. pengen banget spikunya.

    ReplyDelete
  10. Hmmm, enaaak apalagi kalau makannya anget2 ya mak :)

    ReplyDelete
  11. kayanya enak nih buat cemilan sambil ngopi.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.