Monday, February 16, 2015

[WAHM] Menjual A Little This A Little That

Menjual a little this a little that? Produk apa itu ya? Dahulu ada istilah palugada, apa lu minta gua ada. Di usaha yang dijalankan oleh ibu-ibu sudah biasa disediakan bermacam produk keluar dari core bussiness-nya. "Sedikit-sedikit yang penting ada semua."
Dasar pemikiran jualan seperti itu adalah supaya pelanggan kita tidak lari kemana-mana, kalau bisa kuras ditempat. Heheheee.... Istilah kerennya sekarang one stop shopping. Tapi ada yang tidak menyarankan berjualan atau berbisnis semacam ini. Alasannya tidak baik untuk product branding. Brand tersebut terkesan tidak fokus pada produknya. Jika tidak fokus biasanya orang cenderung tidak ahli di bidang tersebut. Akibatnya secara kwalitas akan diragukan.
Tapi dalam kunjungan ke galeri Gendhis Bags beberapa waktu lalu saya melihat bahwa menjual a little this a little that bisa mengangkat citra brand.

Gendhis and Friends
Menjual Dengan Misi
Yang dilakukan Gendhis Bags bukan sekedar menjual a little this a little that supaya komplit dari ujung kepala sampai ke ujung kaki perempuan. Pemilik Gendhis, ibu Ferry, yang tergabung dengan komunitas wanita wirausaha yang difasilitasi majalan Femina memiliki misi untuk membantu sesama pengusaha wanita. Ibu Ferry mengajak teman-temannya di komunitas tersebut untuk mengisi galeri Gendhis Bags.
Core bussiness Gendhis Bags adalah tas, utamanya handbag berbahan natural. Dengan kerjasama tersebut, galeri Gendhis Bags memiliki koleksi yang lengkap untuk semua kebutuhan fashion wanita, termasuk sepatu, baju dan aksesoris. Karena wanita tak bisa jauh dari anak-anak maka dibuatlah pula kid's corner.
Tak hanya berupa barang, Gendhis juga berencana membuka coffee shop mungil yang bisa digunakan oleh para ibu untuk ketemuan, arisan atau rapat skala kecil.
Gendhis merangkumnya secara apik dengan tema Gendhis and Friends.

Menjual Dalam Range
Masih saya gunakan galeri Gendhis sebagai contoh. Menjual a little this a little that juga tidak bisa asal ada barang lalu dicomot dan dipajang. Karena konsumen utama Gendhis adalah perempuan maka produk yang ditampungnya adalah yang sering dibutuhkan oleh perempuan tapi tidak menyimpang jauh dari core bussiness-nya. Misalnya karena sedang trend cincin batu akik di kalangan bapak-bapak, Gendhis tak lantas menampung hasil karya pengrajin batu akik.
Ada juga aturan untuk tidak menerima produk yang sudah ada di pasaran lokal. Kalau di pasaran lokal sudah banyak, buat apa menampungnya. Bikin pusing kepala ngurusi strategi persaingan harga kan? Lagipula galeri ini tidak dimaksudkan sebagai toserba yang produknya bertumpuk-tumpuk untuk memberi beribu pilihan pada konsumen. Pemajangan produk lain diluar Gendhis juga dimaksudnya untuk mengangkat citra brand yang bersangkutan.

Nah, jika produk teman-teman dipertanyakan karena macem-macem jenisnya, santai aja. Coba dicari benang merah antara produk-produk tersebut supaya memiliki tema dan range yang padu. Yuk sama-sama memberi semangat berusaha. Yang penting halal.

18 comments:

  1. Apalugada kadang ga berlaku kalau kita ga bisa fokus menguasainya. Tapi kalau itu bisa mengembangkan dan menjadi pendukung bisnis utama, why not? Adik ipar yang merupakan pengusaha dan konveksi baju senam mengatakan kiat sukses usaha cuma satu, fokus! Nyatanya dia bisa fokus cuma jualan baju senam saja selama bertahun-tahun, padahal banyak trend penjualan lain :). Eh maaf kog malah jadi cerita kemana2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Santai aja mak, ini bukan artikel memihak kok tapi memberi alternatif. Apa saja yang halal boleh dicoba :))

      Delete
  2. a little bit of this and a little bit of that...jadi lengkaap mak :)..produknya oke yaaa...dan misinya juga patut ditiru..sukses selaluuu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihii iya mak, enggresnya yang benar gitu. Biar singkat judulnya *ngeles

      Delete
  3. jaman masih ada MP tuh mbak temenku palugada, jadikalau butuh apa2 aku hubungi dia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahaa asik kalau punya teman seperti itu

      Delete
  4. Mbak Lusi... saya masih gak paha kenapa namanya a little this a little that? :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mmmm tanya mak Indah Savitri hihihiii

      Delete
    2. Lheeeh, kan Mbak Lusi udah pake istilah itu kan harusnya bisa jelasin dong X))

      Delete
  5. Setuju mak. Yg penting halal.
    Apa ya yg tradisonal tp masih jrang di pasar tradisional....*mikir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa juga yang sudah ada, misal sama2 batik tapi bikin motif sendiri :)

      Delete
  6. Setuju mak. Yg penting halal.
    Apa ya yg tradisonal tp masih jrang di pasar tradisional....*mikir

    ReplyDelete
  7. seperti blog ya, Mak. niche boleh, random juga silahkan ^_^

    ReplyDelete
  8. Hmmmm bisa jadi ide juga, blog diisi dengan pemikiran sejenis.
    Saya memang berencana buat blog fotografi, khusus dari HP dan peserta khusus dari Pati.
    Salam ingat, saya dulu anggota blogger bertuah sekarang pindah kerja di Pati Jateng.

    ReplyDelete
  9. Tentang palugada jadi inget om saya mak lusi. Dari laptop mpe batik cirebon ada!! Nggak ada benang merah nya blas :D

    ReplyDelete
  10. memang harus fokus, karena kita bukan supermarket, pernah baca salah satu yang membuat sukses usaha seperti ini itu fokus satu tema dengan segala keunikannya, karena kalo macem2 ( dan pasaran) mending orang ke Dept.Store yo mak ☺

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.