Monday, October 19, 2015

Mengenal Kerennya Local Brand Di Smesco

Beberapa waktu lalu netizen mendapat kesempatan untuk mengenal kerennya local brand melalui #SmescoNV 

mengenal kerennya local brand di #SmescoNV
Produk Harpa, milik saudara saya yang sudah ekspor. Dokumentasi pribadi.
"Smesco itu seperti apa, mbak?"
 "Yah, perkantoran gitu, terus ada tempat untuk pameran UKM."
"Ramai nggak. mbak?"
 "Yah, kalau istirahat ramai. Orang-orang kantor yang sedang istirahat itulah yang berkunjung."
Begitulah kira-kira percakapan saya dengan rekan kerja saya bertahun-tahun lalu tentang SMESCo (Small and Medium Enterprises and Cooperatives atau KUKM (Koperasi Usaha Kecil Menegah). Saat itu kantor kami, yang juga perusahaan milik saudara saya tersebut, sedang berusaha untuk bangkit setelah bom Bali disusul gempa besar Jogja dengan membuka diri untuk melihat peluang pemasaran seluas-luasnya. Smesco memfasilitasi UKM untuk mengenalkan produknya pada buyer atau buying agent di UKM Gallery yang ada di gedung SME tersebut.
Meski sudah melakukan ekspor beberapa kali, tak mudah bagi pengusaha-pengusaha Jogja untuk memiliki outlet tetap di Jakarta. Paling-paling yang bisa dilakukan adalah mengikuti pameran. Faktor-faktor yang membuat mereka harus benar-benar berhitung adalah tingginya harga sewa, tingginya upah, pergerakan konsumen yang belum dipahami dan pengawasan. Apalagi kerajinan ekspor itu tidak serta-merta disukai oleh konsumen lokal karena perbedaan selera dan kebutuhan.
mengenal kerennya local brand di #SmescoNV
Alat tenun pengrajin Bantul. Dokumentasi pribadi.
Karena kurangnya informasi tentang Smesco, hanya berdasarkan pengamatan sesaat teman saya yang waktu itu mampir dari Inacraft, serta keraguan akan jenis produk dan selera pengunjung, akhirnya kami memutuskan untuk tidak tampil di Smesco. Padahal prosedurnya cukup mudah dengan sistem bagi hasil. Sebenarnya kami juga membuat produk untuk pasar lokal, tapi waktu itu kami masih belum move on dari masa jaya produk ekspor sehingga produk untuk pasar lokal terabaikan.
Beberapa waktu lalu, teman-teman blogger mendapat undangan Smesco Netizen Vaganza atau #SmescoNV . Saya langsung membayangkan Smesco itu seperti keterangan rekan kerja saya dulu. Ternyata bayangan saya keliru sama sekali setelah membaca postingan teman-teman blogger yang hadir. Saya sendiri tidak mendaftar untuk hadir karena berdomisili di Jogja.
Kok Smesco mengundang netizen tapi tidak mengundang pelaku UKM? Heheheee... jangan iri dulu. Pelaku UKM sudah punya sesi tersendiri. Acara untuk netizen ini memiliki tujuan yang sedikit beda, yaitu mendukung habis-habisan UKM melalui internet agar dikenal secara luas ke seluruh dunia. Internet, apapun platformnya, saat ini merupakan sarana paling efektif untuk menyebarluaskan informasi, termasuk  dalam hal pemasaran. Demikian yang saya simpulkan dari blog emakgaoel.com yang menjadi salah satu peserta #SmescoNV .
mengenal kerennya local brand di #SmescoNV
Show room Gendhis Bags di Jogja. Dokumentasi pribadi.
Harus diakui bahwa UKM yang berhasil banyak didukung oleh kemampuan untuk berinteraksi dengan pelanggan atau pasar. Sayangnya masih banyak pengelola UKM yang kurang luwes atau malah sama sekali tidak memiliki ketrampilan untuk mencoba berbagai jalur pemasaran. Banyak yang cara pemasarannya hanya fokus pada barang dan harga seperti jualan di toko atau pasar, belum melakukan pemasaran yang lebih komunikatif dan dengan jangkauan yang lebih luas. Teman-teman netizen, terutama yang sering jadi buzzer, menguasai hal ini.
Apakah produk bermutu saja tidak cukup untuk eksis di pasaran? Beberapa bulan lalu, sebuah supermarket peralatan rumah tangga asing dibuka di Indonesia. Teman-teman banyak yang mengunggah status sedang mengagumi koleksi supermarket yang sudah dikenal secara internasional itu. Saya hanya tertegun, teringat berpuluh-puluh kontainer berisi cushion dan tas yang telah kami kirim ke seluruh dunia untuk menyuplai supermarket tersebut.

mengenal kerennya local brand di #SmescoNV
Proses finishing produk Ladaka Handicraft. Dokumentasi pribadi.
Tak mudah untuk bisa menyuplai ke supermarket bertaraf internasional karena harga harus paling rendah, sementara mutu harus paling tinggi. Sebelum menjadi sebuah produkpun, kami harus melalui serangkaian development yang melelahkan secara fisik, mental dan pikiran. Bertumpuk-tumpuk lembaran kertas laporan kendali mutu harus kami siapkan untuk meyakinkan buyer bahwa produk tersebut ramah lingkungan dan tidak beracun. Tak terhitung jam-jam yang kami habiskan untuk bongkar pasang sample agar tercapai harga yang semurah mungkin agar tidak kalah dengan saingan kami dari sesama pengrajin Indonesia, serta pengrajin dari Vietnam, Thailand, India atau China. 
Hasil akhir development tersebut adalah sebuah produk yang layak dipajang di supermarket atau toko di negara manapun di dunia ini. 

Sebegitu hebatnya pengrajin Indonesia tidak banyak yang tahu karena mereka harus menempelkan hang tag dan label supermarket atau toko asing tersebut. 

Kitapun dengan anehnya (dari sudut pandang orang yang berkecimpung di kerajinan) mengagumi produk toko atau supermarket tersebut dan bangga dengan membelinya, padahal mungkin saja itu dibuat di Bantul atau Sukoharjo.

mengenal kerennya local brand di #SmescoNV
Kenangan indah outlet mungil Ladaka Handicraft di Mall Ciputra Pekanbaru. Doakan saya bisa mulai lagi ya :)) Dokumentasi pribadi.

Event Smesco Netizen Vaganza memberi beberapa harapan yang patut untuk diperjuangkan, antara lain:

  1. Membantu meningkatkan rasa percaya diri pemilik UKM untuk berani tampil dengan brand sendiri karena sudah terbukti bahwa harga dan mutu bisa bersaing dengan produk negara manapun.
  2. Adanya kebijakan mambatasi penyewa perkantoran di gedung Smesco dari skala usaha lain membuat makin banyak produk UKM yang bisa tertampung.
  3. Peran netizen mempopulerkan Smesco mencerahkan pemilik UKM sedang mencari cara yang tepat untuk memasarkan produknya.
  4. Netizen memiliki jangkauan yang amat luas (kecuali tidak ada sinyal atau pulsa habis) untuk mengedukasi konsumen bahwa produk lokal banyak yang bermutu internasional dan banyak produk internasional yang sesungguhnya dibuat di Indonesia, sehingga tak perlu ragu atau bahkan menganggap remeh local brand.
Di Jogja sendiri ada beberapa local brand yang mendunia, misalnya Gendhis Bags dan The Sak. Saudara saya tadi juga mulai merintis brand sendiri dengan nama Alra Life Style, dan sudah memiliki dua outlet besar di Jogja. Sedangkan saya masih belum banyak bergerak dengan brand Ladaka Handicraft seperti dulu dan sedang berusaha menyingkirkan berbagai kendala yang ada.
Namun seharusnya lebih banyak local brand yang muncul karena target nilai ekspor industri kreatif Daerah Istimewa Yogyakarta di tahun 2014 mencapai US$ 242 juta, yang berarti masih banyak pengekspor yang bertindak sebagai supplier, belum menggunakan brand sendiri.

Dengan brand sendiri, para pemilik UKM akan mampu meningkatkan kesejahteraan diri, karyawannya, serta pengrajin musiman lainnya. Brand yang sudah dipercaya konsumen akan mampu pula meningkatkan kreativitas yang secara tak langsung meningkatkan kecerdasan bangsa. Jika hanya menjadi supplier, UKM bergantung pada sistem dan buyer design sehingga tidak terpacu untuk mencari terobosan.
Namun demikian, mengembangkan local brand tidaklah mudah. Masih lekat di pikiran banyak orang bahwa local brand berarti local quality, tak mungkin lebih baik dari international brand. Tapi testimoni saya diatas setidaknya menunjukkan bahwa sebenarnya banyak UKM yang mampu membuat produk internasional tapi malah belum punya brand sama sekali. Saya yakin teman-teman netizen dengan semua jalur komunikasi yang dimiliki, baik melalui blog maupun sosial media mampu mendukung local brand.
Semoga #SmescoNV mampu meningkatkan kepercayaan diri pemilik UKM dan mampu meyakinkan konsumen bahwa local brand lebih keren. 
Sumber:
http://www.smescoindonesia.com/
http://bisnis.tempo.co/read/news/2014/09/16/090607386/ekspor-industri-kreatif-yogya-rp-2-8-triliun

21 comments:

  1. produk ladaka keren salah satu produk lokal ya mbak :) jadi pingin pesen yang lainnya

    ReplyDelete
  2. Semoga barang barang produk hasil buatan UKM-UKM dalam negeri mampu bersaing dan tidak kalah bagus kualitasnya dari barang impor :))

    ReplyDelete
  3. keren2 yaa barang ladaka :), moga makin sukses ladaka hadicraft :),

    ReplyDelete
  4. gendhis dah terkenal ya mak,tapi kalo the sak aku baru denger hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. The Sak itu brand internasionalnya Dowa. Kalau Dowa untuk pasar lokal.

      Delete
  5. hokeh, jagoannya udah keluar. Brrrr....
    AKu ikutan manyun mak baca, berpuluh-pulluh container berisi cushion cover yg dikirim utk menyuplai supermarket internesyenel itu... :(

    ReplyDelete
  6. Aku mau dong kapan2 dikirimin Ladaka Craft :D
    Keren2 produknya :)

    ReplyDelete
  7. tetap semangat mba lusi ...mari kita dukung lokal brand. Produk sendiri jaya dan menjadi raja di rumah sendiri.

    ReplyDelete
  8. Dukung Ladaka craft dan merek2 lokal keren agar bisa mendunia aamiin...

    ReplyDelete
  9. sakit ya mbak produk lokal tapi dibrand luar negeri...selisih harganya berapa tuh ya...?
    sukses buat mbak Lusi dan Ladakanya ya...
    ** eh baru lihat wajah aslinya lho mbak... :)

    ReplyDelete
  10. Pernah ke Kampoeng Semarang, ada counter Webe. Aduh, tasnya cakep-cakep, warnanya memikat, harganya itu lho yang jut-jutan..hihihi. Eh, ternyata Webe itu buatan Semarang, brand lokal donk :)

    ReplyDelete
  11. wah.. mbak lusi ternyata pengusaha...
    keren mbak.. saya juga pengen, tapi belum bergerak-bergerak ini... hehehehe..

    ReplyDelete
  12. lama tidak kesini, apa kemarin sempet di block domainnya ya mbk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ganti domain. Dulu burselfwoman.com. Terima kasih kunjungannya :)

      Delete
  13. Keluarga mak Lusi hebat yaa, pengusaha dan mengembangkan kerajinan lokal. Saya pernah bbrp hari bimtek di gedung Smesco, terhitung sepi mbak, harganya juga lumayan mihil, padahal yg dijual ya produk dari Jogja dan daerah lain.

    ReplyDelete
  14. yok yok yok, tingkatkan lg mbk lus produksi ladaka handicraftnya, trs lanjut ke go international, amiinn..
    di jombang jg ada, suplay sepatu ke dolce and gabbana :)

    ReplyDelete
  15. wah, keren-keren gitu mbak produknya
    ternyata produk Indonesia itu nggak kalah sama produk luar

    ReplyDelete
  16. Kadang yaaaa kadang nich produk lokal suka lebih mahal di bandingkan yg non lokal hahaha

    ReplyDelete
  17. Duh lepas fokus aku gara2 liat tas ransel keren di belakang fotomu yg tas alra itu...
    Btw...aku rajin datang ke smesco atau pameran produk lokal. Kualitasnya bagus harganya gak semahal produk ori brand luar negeri..krn aku gak begitu suka barang kw

    ReplyDelete
  18. keren banget di kau mak..punya usaha asli Indonesia begini..terus maju buat produknya..produk Indonesia...

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.