3 Ide Cara Membuang Jarum Jahit Bekas Pakai

Tuesday, March 13, 2018

cara membuang jarum jahit bekas


Sejak suka menjahit (entahlah mengapa saya selalu memilih kata "suka" dibandingkan "hobi"), ada satu hal yang membuat saya selalu bingung, yaitu membuang jarum jahit dan jarum pentul bekas pakai.

Setelah bolak-balik menjahit, saya baru tahu kalau jarum itu bisa jadi bekas. Dahulu karena cuma menjahit pakaian bolong pakai tangan, maka ganti jarum saya lakukan kalau yang sedang saya pakai itu hilang. Sekarang tidak bisa begitu. Jarum untuk mesin jahit itu paling-paling setelah 2-3 kali proyek standar harus ganti agar untuk selanjutnya benang tetap mencengkeram dengan baik. Untuk jahitan yang lebih tebal, seperti tas kulit sintetis, bahkan langsung ganti setelah selesai. Saya juga pernah sekali belum selesai sudah harus ganti jarum karena patah.

Sedangkan untuk jarum pentul, kebanyakan tidak terpakai lagi karena pentulnya nggludung atau jarumnya berkarat. Umumnya bahan jarum pentul tidak sebaik jarum jahit.

Di perumahan kami yang rumahnya kecil-kecil ini, banyak warga yang menghabiskan tanahnya untuk parkiran sehingga tidak punya tempat sampah sendiri. Halaman saya yang sangat sempit itupun sudah saya tanami kelor, lemon, klengkeng, jambu air dan mangga. Semoga bisa hidup berhimpitan dengan damai. Heheheee.... 

Sampah kami diangkut oleh tukang sampah 3x seminggu. Seperti kebanyakan tukang sampah di kampung atau perumahan kelas menengah ke bawah lainnya, tukang sampah kamipun tidak pakai sarung tangan. Kadang mereka pakai yang sudah dekil banget. Makanya sedapat mungkin saya tidak membuang sampah yang membahayakan mereka. Belum lagi setelah tiba di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) nanti, sampah itupun akan dipilah-pilah oleh pemulung. Kasihan, kan?

Ketika sedang gundah gulana itu, untunglah di group facebook Craftalova ada yang punya kekhawatiran serupa. Thread tersebut akhirnya mampu mencerahkan saya. Jadi, sayang kalau tidak ditulis dan dibagikan ke teman-teman lainnya demi keselamatan bersama. Cuma, saya tidak berhasil menemukan thread tersebut karena memang sudah lama terjadi, padahal Craftalova adalah group yang sangat aktif share karya, jadi sudah tenggelam jauh kebawah deh.

Karena itu, jika kebetulan teman-teman adalah yang ikut berpendapat di thread tersebut waktu itu, tolong diklaim di kolom komentar ya, supaya bisa saya tulis di artikel sebagai rasa terima kasih saya yang telah terbantu dengan ide-ide tersebut.

Nah, berikut ide cara membuang jarum jahit bekas pakai dari teman-teman Craftalova. 

1. Dikubur Di Dalam Tanah

Rupanya cara ini menjadi pilihan kebanyakan teman-teman. Tapi nggak langsung dikubur lo ya. Letakkan dulu didalam kaleng, baru kemudian dikubur. Supaya irit tempat, tunggu sampai jarum terkumpul banyak. Sayangnya dirumah saya cara ini tidak dapat dilakukan. Dengan halaman sempit yang telah sudah penuh dengan tanaman, sekali macul saja bakal ketemu lagi kaleng penyimpanan jarum itu.

2. Dikubur Di Pondasi Rumah

Ide ini membuat saya bengong. Sebegitu berusahanya teman-teman ini dalam mengamankan jarum-jarum bekas jahit. Mereka sama sekali tidak mengganggap remeh masalah ini. Mereka benar-benar memikirkan orang lain juga. Jadi idenya adalah setiap ada tetangga yang membangun rumah, mereka titip baik-baik agar jarum tersebut ikut disemen. Kata beliau, di kampungnya itu hal biasa. Tapi persoalan yang terlihat sepele ini ternyata belum tentu bisa diterima orang lain. Jangan heran kalau bukan karena alasan keselamatan melainkan mistis. Kepercayaan tiap orang bisa beda sama sekali. Dimaklumi saja.

3. Dibuang Ke Tempat Sampah

Loh, bukannya ini yang mau dihindari? Tenaaang! Ini bukan buang sembarang buang, melainkan jarum sudah diamankan dulu dalam botol atau wadah bening seperti foto diatas. Dengan diamankan di wadah bening, tukang sampah bisa melihat apa yang ada didalamnya. Kumpulkan dulu jarumnya yang banyak agar kelihatan. Karena kalau hanya beberapa jarum, ada kemungkinan terlewat oleh tukang sampah yang bekerja cepat. Pilihlah wadah yang anti pecah, jadi jangan kaca. Jika berbahan plastik, carilah yang kuat agar nggak gampang peyok. Jangan lupa untuk menutup sambungannya dengan isolasi bening agar tutupnya tidak terlepas. Kok nggak dikasihkan langsung saja ke tukang sampah biar dia tahu ada botol jarum disitu? Iya, kalau sedang dirumah memang sebaiknya tukang sampah diberitahu.

Meski kita berkarya untuk kepentingan diri sendiri, baik hanya demi kepuasaan ataupun untuk penghasilan, janganlah mengabaikan orang lain hanya karena tidak pernah ketemu langsung. Jangan pernah berpikir soal repot jika menyangkut masalah keamanan.

You Might Also Like

22 comments

  1. Ide nomor 3 paling setuju ☺
    Jangan sampai membuang benda yang bisa membahayakan keselamatan orang lain dengan cara memasukkan ke dalam botol kaca lebih dulu 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi botolnya jangan yang mudah pecah ya :)

      Delete
  2. Serem sih memang kalau dibuang begitu saja tanpa diwadahin dulu
    Kalau di rumahku sih semuanya ditusukin ke bantalan khsus gitu
    Nanti yang udah berkarat dan nggak bisa dipake lagi rapuh sendiri dan akhirnya dibuang sama kotak-kotak kecil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau jarum jahit sepertinya nggak bisa segera berkarat sementara udah nggak bisa dipakai juga krn udah tumpul

      Delete
  3. Nomer 3 'mendekati' seperti prinsip buang bekas jarum suntik. Setelah dipake, dibengkokin, trus kita masukin ke safety box (semacam box dari kardus dan ada lobang kecilnya gitu). Trus selanjutnya urusan anak Kesling deh hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheee enak kalau sdh ada bagiannya ya, nggak perlu mikir

      Delete
  4. aq baru tahu deh mbak kalau jarum jahit pun punya batas pemakaian, selama ini mikirnya kalo patah, tumpul sama berkarat aja baru dibuang.. pembuangannya juga gak boleh sembarangan jadi aq pilih yang nomor 3 deh, ada gunanya itu kalau dapat sovenir botol2 keci atau botol obat dijadikan sebagai wadah sampah jarum dan sejenisnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sudah dipakai berkali-kali jadi nggak tajam lagi

      Delete
  5. haaah.... saya pikir jarum jahit hanya dibuang setelah patah, (itupun ngebuangnya langsung ke tempat sampah) dan malahan saya biasanya gak sempat ngebuang, karena keduluan ilang. huhuue.. jd nyadar kalau itu juga bahaya buat org lain, khususnya untuk anak-anak sendiri. makasii mba...^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ilang, coba disapu pelan2 siapa tau ketemu. Bahaya untuk anak2.

      Delete
  6. wahh gak pernah kepikiran tapi jadinya kepikiran juga sih..
    jarum kan kecil2 kalo ketusuk lumayan perih euy..
    no. 3 memang paling oke nih buat diterapkan

    ReplyDelete
  7. wah dikubur dalam tanah boleh juga nih

    ReplyDelete
  8. Aku sempat kepikiran dengan jarum-jarum yang berkarang. Tidak banyak sih, tapi tetap gimana ya agar aman. Pernah sih tak bungkus dan dibuang di tempat sampah, tapi nggak seaman seperti tips diatas. Kalau dikubur, ya lahan di rumah kayaknya pas-pasan banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Problem kita sama ya, lahan terbatas.

      Delete
  9. Duh aku selama ini buang jarum gitu aja, eeh harus diamankan dulu ya, nggak boleh buang sembarangan. Makasih tips nya mba. Ehhm boleh OOT dikit ya, aku suka bingung kalo buang pakaian dalam yg udah nggak kepake, diapain ya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya aku cuci bersih dulu baru aku buang mbak. Malu juga sih. Apa perlu digunting-gunting dulu ya? Lha malah balik tanya.

      Delete
  10. tips ini berguna banget buat aku yang setiap hari pakai jarum pentul di jilbab. Dipikir-pikir, memang bahaya ya kalau dibuang gitu ajah. Kita nggak tau, jarumnya jatuh dimana, kena kaki siapa. Huhuhu.. makasih share-nya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak2 itu mbak sering teledor naruh pentul dimana-mana.

      Delete
  11. Never thought about it. To be exact, belum pernah buang jarum hehe. Seringnya jarum pentul bekas pakai kerudung yang nyelip. Still, idenya mencerahkan! :D

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.