Apa Dan Bagaimana COD Dalam Jual Beli Online Itu?

Sebelum melakukan transaksi jual beli online dengan sistem pembayaran COD, sebaiknya dipahami dulu apa dan bagaimana COD itu agar tidak terulang peristiwa kurir diamuk emak-emak yang barusaja viral.


cod-olshop
Photo by RoseBox رز باکس on Unsplash


Pada dasarnya, orang berjualan itu ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Salah satu cara yang dilakukan adalah membuka sebanyak mungkin fasilitas pembayaran, dari transfer hingga bayar tunai, dari lunas sampai dicicil. Meski demikian, masing-masing seller atau penjual memiliki berbagai pertimbangan sehingga tidak semua fasilitas pembayaran dibuka. Sistem pembayaran yang menimbulkan pro kontra belakangan ini adalah COD. 


APA SIH COD ITU?

COD itu singkatan dari Cash On Delivery.

Artinya, pembayaran dilakukan secara tunai ketika barang diantarkan oleh seller atau kurir ke pembeli. Jadi, ada pertemuan antara pembeli dan pengantar barang. Dalam pertemuan tersebut, pembeli menyerahkan uang tunai yang telah disepakati sebelumnya dengan penjual. Kemudian pengantar barang menyerahkan barang tersebut kepada pembeli.

Secara teori terlihat sederhana, bukan? Namun prakteknya seringkali menimbulkan beberapa masalah. 


BAGAIMANA SIH PRAKTIK COD ITU?

1. Pembeli dan penjual melakukan kesepakatan tentang kualitas barang, kuantitas barang dan harga secara online. Fasilitas online tersebut bisa melalui akun media sosial penjual, whatsapp, line, website yang memiliki keranjang belanja, platform e-commerce dan sebagainya.

2. Pembeli dan penjual melakukan kesepakatan kapan dan bagaimana barang diantarkan. Jika melalui platform e-commerce, barang diantarkan oleh kurir yang dipilih pembeli. Jika tidak melalui platform e-commerce, bisa melalui jasa kurir yang menyediakan fasilitas COD atau diantar sendiri oleh penjual.

3. Pertemuan antara pembeli dengan kurir atau penjual dilakukan. Barang ditukar dengan uang tunai. Selesai.


MENGAPA COD DITAWARKAN?

Teman-teman yang punya toko di platform e-commerce tentu merasakan betapa gencarnya rayuan pengelola agar toko kita membuka opsi COD. Banyak sekali kemudahan yang ditawarkan jika opsi ini diterima seller. Sebenarnya bukan COD saja, semua fasilitas yang ada di platform tersebut gencar ditawarkan ke seller agar pemanfaatannya maksimal. Sudah susah-susah dibuatkan, masa nggak ada yang pakai? Padahal setiap pembuatan fasilitas di sebuah platform komersil itu berarti investasi. Kalau akhirnya COD kelihatannya menggebu-gebu, itu karena dirimu yang keukeuh tidak mau menggunakan fasilitas ini. Kalau opsi ini sudah dibuka, pasti rayuannya berhenti. Heheheee.

COD dianggap memiliki prospek yang sangat baik untuk menggenjot penjualan per toko, yang pada akhirnya menaikkan pendapatan total platform tersebut. Pengelola platform melihat pasar yang belum terjamah masih sangat besar sehingga perlu pendekatan lain. Pasar ini diisi oleh orang-orang yang masih gagap teknologi, tidak percaya keamanan pembayaran online, tidak percaya online shop, malas ke ATM atau swalayan dan sebagainya yang berada di luar pembayaran online. Seberapa besar pasar tersebut, tentu pengelola platform tersebut sudah memiliki datanya sehingga mereka gencar memperkenalkan metode ini, tidak hanya dengan merayu seller, tapi juga dengan berpromosi kepada pembeli.


Baca juga: 5 Rekomendasi Jasa Pengiriman Kilat 1 Hari


KEUNTUNGAN COD

1. Meningkatkan penjualan dengan menjaring konsumen yang tidak memiliki akses pembayaran online atau memiliki trust issue dengan transaksi online.

2. Untuk pengantaran barang yang dilakukan oleh pemilik usaha itu sendiri, ini akan menjadi kesempatan untuk mengenal pembeli lebih jauh dan membuatnya menjadi pelanggan. Kedekatan personal akan membuat pembeli mendapat ide-ide produk yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, lalu memesan ke pemilik usaha tersebut.

3. Komentar atau kritik yang disampaikan pembeli ke pengantar barang akan menjadi masukan bagi perbaikan kualitas produk tersebut.


KESULITAN COD

1. Resiko kesehatan selama pandemi karena ada pertemuan, serah terima barang dan pemakaian uang tunai.

2. Resiko keamanan. Pengantar barang harus memastikan waktu, lokasi dan penerima barang tidak mencurigakan. Misalnya, lokasi sepi dan jauh dari pemukiman atau terlalu larut malam.

3. Jika pembeli tidak bisa ditemui dan tidak menitipkan apapun kepada orang lain. Bahkan jika waktu pertemuan sudah disepakati, ada saja manusia-manusia yang tidak bisa memegang janji.

4. Pembeli tidak menyiapkan uang tunai yang pas dan kurir tidak memiliki uang kembalian.

5. Seperti kejadian yang baru saja viral, pembeli tidak puas dengan produk pesanannya tapi menumpahkan kekesalan kepada kurir. Kurir bukan bagian dari penjual, mau ngamuk seperti apapun tidak berguna. Meski pengantaran barang tidak menggunakan kurir melainkan oleh pemilik usaha sendiri, tetap saja mengamuk tidak menyelesaikan masalah. Komplain harus mengikuti peraturan tertulis yang ditetapkan penjual. 


SARAN UNTUK PENJUAL DALAM SISTEM COD

Penting bagi penjual untuk memastikan pembeli sudah memahami aturan komplain sebelum pengiriman barang dalam sistem pembayaran COD. 

Jika penjual belum memiliki aturan apapun, sebaiknya segera membuatnya. Aturan tersebut meliputi:

* penunjukan kurir: preferensi ojek online, kurir internal, oleh pemilik usaha sendiri

* kesepakatan pertemuan: syarat lokasi yang aman, jam operasional, uang pas, protokol kesehatan dan sebagainya

* tata cara komplain dan klaim

Penjual harus bertanya kepada pembeli apakah sudah paham atau belum dengan aturan tersebut. Meski begitu, tetap ada celah masalah. Kadang pembeli mengaku sudah membaca aturan tersebut padahal hanya sepintas, tidak benar-benar membaca.

Memang terlihat repot, namun jika usaha teman-teman semakin besar, ini justru akan membatasi layanan yang bertele-tele ketika penjual harus menjawab pertanyaan pembeli satu per satu.


SARAN UNTUK PEMBELI DALAM SISTEM COD

Saya tidak suka menggunakan jargon jadilah pembeli yang cerdas. Kesannya ada pembeli yang bodoh. Saya mengapresiasi semua pembeli. Tanpa mereka, usaha saya di @beyouprojects tidak berjalan. Yang sering terjadi adalah ketidaktelitian dan kengganan untuk teliti. Sebagai pembeli, anda berhak untuk bertanya sedetil mungkin jika penjual belum punya peraturan apapun, termasuk tentang apa yang bisa anda lakukan jika tidak puas dengan barang yang diantar tersebut. Sebelum dilakukan pengantaran barang, Anda berhak mendapat kepastian tentang tata cara komplain, bentuk klaim yang bisa diperoleh dan jangka waktu klaim tersebut terpenuhi.

Untuk yang pernah didatangi kurir yang mengaku mendapat perintah pengiriman pesanan atas nama anda padahal anda tidak melakukannya, jangan diterima. Anda tidak perlu membayar pesanan tersebut meski wajah si kurir memelas. Bisa jadi itu scam di sistem e-commerce yang bukan merupakan tanggung jawab anda. Bisa juga merupakan percobaan penipuan oleh kurir itu sendiri. 


Baca juga: Apa yang bisa dijual dari blog craft & DIY?


beyouprojects dan COD

beyouprojects belum membuka fasilitas COD karena ini merupakan usaha yang sangat kecil, belum ada kru khusus pengiriman barang padahal sistem COD perlu pemantauan tersendiri. Belum lagi kekhawatiran bahwa kurir akan mendapat kesulitan akibat pembeli yang tidak menepati janji bertemu atau tidak menyediakan uang pas.

Sebelum pandemi, kadang saya refreshing dengan mengantar pesanan sendiri ke pelanggan. Tapi itu hanya untuk pesanan khusus, bukan barang ready stock di online shop beyouprojects. Semenjak pandemi, hal itu saya hentikan, menunggu seluruh isi rumah saya divaksin.

Pada akhirnya, saya berharap kita (penjual dan pembeli) saling memahami posisi masing-masing di tengah kondisi ekonomi yang sulit ini. Saya berharap pembeli banyak rejeki dan kebutuhannya terpenuhi dengan baik, penjual laris manis dan kurir sibuk mengantar barang dengan gembira. Aamin.


Post a Comment

0 Comments