Tuesday, June 07, 2016

Oversharing Yang Sering Dilakukan Blogger

Kebanyakan blogger menganggap blognya adalah sebuah rumah sehingga merasa bebas menulis apa saja disana.

oversharing di blog
Pic by pixabay.com

Tapi blogger lupa bahwa rumah itu ada pintu dan pagarnya sehingga yang bisa diperlihatkan adalah yang disuguhkan pemilik rumah saja. Itupun tidak ke semua orang, melainkan ke orang yang bertamu saja.

Blog tidak demikian, blogger tidak bisa memilih siapa yang datang dan menjelajahi blognya.

Setidaknya ada dua hal yang coba direpresentasikan blogger di blognya, yaitu karyanya dan pribadinya. Keduanya bertautan menjadi apa yang kita sebut sebagai personal branding. Namun ada saja yang menolak definisi seperti itu dan mempersembahkan blog hanya sebagai kegiatan suka-suka. Fine! Silakan saja. Namun demikian ujungnya tetap sama, apakah kita punya kontrol cukup ketat terhadap apa yang kita share di blog?

“Ngeblog mah santai aja, nggak usah terlalu banyak aturan. Orang nggak ngejar duit juga.”

Okey, tapi beberapa hal yang diingatkan oleh blogelevated.com ini hendaknya menjadi pertimbangan kita sebelum share apapun di blog. Tentu saja sudah saya para-frasekan dan sudah saya ubah penjelasannya agar kita bisa belajar bersama-sama.

1. Lupa bahwa Internet adalah Selamanya
Mungkin teman-teman tidak familiar dengan ribut-ribut the right to be forgotten. Saya pernah menulisnya di blog ini. 


Itu adalah hak untuk hilang dari internet yang sedang diperjuangkan oleh para pembela hak asasi manusia. Sekali kita publish, sebenarnya jejak kita tak benar-benar hilang ketika didelete, paling ketimpa sana sini saja kalau tidak ketemu. Lebih parah lagi beberapa portal blogger Indonesia ternyata tidak punya tombol “delete account”. Salah satu portal tersebut sangat besar dan mungkin teman-teman yang sudah pernah mencoba non aktif tahu mana yang dimaksud. 
Selain itu, jika sedang sial membuat kesalahan tanpa sengaja atau memang berkasus, orang akan dengan cepat screen shoot bukti tersebut. Yah, di dunia maya orang senang mendokumentasikan kesalahan atau kekonyolan orang lain. 
Saya pernah mendelete sebuah blog, tiba-tiba foto nasi megono saya muncul di profile picture seorang teman. Ketika saya klaim, dia justru meremehkan saya dan membuktikan kalau itu diperolehnya dari googling yang tak ada hubungannya dengan saya. Untung saya masih punya dokumentasi yang belum diedit. 
Meski ada rasa kesal karena tidak diakui kehebatan saya memotret (Lah emangnya hebat beneran? Heheheee) tapi itu masih mendingan karena yang muncul setelah sekian lama bukanlah hal buruk. Bayangkan jika itu sebaliknya, padahal kita sedang berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik.
oversharing di blog
Pic by pixabay.com


2. Posting Ketika Sedang Emosi
Kita semua pernah marah atau sedih. Seorang teman pernah menasehati saya agar logout dari semua kegiatan online jika sedang marah. Bagi blogger, ngeblog ketika marah itu benar-benar dilarang. Ini bukan semata soal brand image tapi lebih pada keamanan agar tak salah tulis atau tuduh. Akibatnya bisa berbelok dari yang kita harapkan. Kadang yang tadinya bermaksud menuntut pihak yang membuat kita marah, malah berujung kitanya dituduh membully. 
Jika sudah benar-benar tak tahan, tulis saja sebagai draft apa adanya tapi jangan buru-buru di publish. Endapkan dulu barang semalam, lalu baca kembali. Akan banyak kalimat yang bisa diedit sehingga mencerminkan artikel yang ditulis dengan kepala dingin dan masuk akal.

3. Tidak Mempedulikan Orang Asing
Atas nama artikel inspirasional, blogger sering lupa bahwa orang yang ditulisnya punya banyak cerita dan kepentingan pula. Misalnya melihat sosok tua yang bekerja keras di pasar, langsung ditulis di blognya tanpa filter. Memang, artikel seperti itu memiliki daya tarik yang tinggi bagi pembaca yang suka kisah kemanusiaan. Tapi apakah kita sudah tahu kehidupan sebenarnya dari orang tersebut? Apakah orang tersebut benar-benar harus diangkat ceritanya? Yakin tidak ada pihak yang keberatan? Blogger sebaiknya tidak meremehkan keberadaannya. Kenali dulu orang tersebut. Jika hanya bermaksud mengambil inspirasinya saja, harap disembunyikan identitas dan lokasi, serta foto tidak memperlihatkan wajahnya. 
Itu sebabnya pula saya tidak menyukai candid photos. Meskipun di ruang publik, tidak serta merta kita bebas memotret orang lalu mengunggahnya di blog kita. Bahkan wajah teman anak kita dikelaspun, tidak boleh begitu saja bisa diunggah. Kita harus minta ijin pada orangtuanya. 
Tampil di blog terkenal itu luar biasa bagi yang sedang mengejar personal branding, tapi belum tentu menyenangkan bagi yang memperoteksi kehidupan pribadinya. Tidak memikirkan keberadaan orang lain dalam postingan kita bisa berakibat tidak mengenakkan di kemudian hari bagi yang tidak terima.

4. Memalsukan Kehidupan Yang Sempurna
Hidup itu tak ada yang sempurna, jadi buat apa memalsukan kesempurnaan? Banyak blogger yang merasa dituntut menampilkan kesempurnaan demi personal brand. Menjadi inspirasi dan diakui di niche yang telah ditetapkannya sendiri, sering membuat blogger terseret kalau dalam istilah blogelevated “fake it until you make it”. 
Padahal personal branding yang bagus tak harus menampilkan diri bak super hero. Ada teman blogger single parent yang sering menulis tentang kesulitan yang dia alami menghadapi pertanyaan-pertanyaan si buah hati. Ada pula yang menuliskan suka duka memiliki anak yang mengalami kelambatan pertumbuhan. Semua tak mengurangi kehebatan mereka sebagai blogger. Karena kehebatan itu bukanlah sesuatu yang direka-reka, melainkan sebuah proses menjadi diri sendiri. 
Tak apa menulis pelajaran yang bisa diambil dari suatu peristiwa dalam hidup kita sehingga menjadi inspirasi, tapi jangan mengarang cerita. Jika tak ingin ketidaksempurnaan kita muncul di blog, gampang saja kok, jangan cerita! Tidak cerita itu tidak sama dengan mengarang cerita.

5. Kecewa Dengan Teman dan Saudara di Kehidupan Nyata
Beberapa kali saya membaca blog teman yang menyebutkan pertengkarannya dengan teman atau saudara. Jika teman, mungkin agak sulit ditelusuri siapa yang dimaksud kalau tak ada nama atau latar belakang cerita yang jelas. Tapi jika tetangga atau paman dan bibi, orang yang mengenal blogger tersebut secara pribadi akan dengan mudah menemukan siapa yang dimaksud meski tak menyebut nama. Memang, teman dan tetangga adalah sumber cerita yang tak pernah habis, apalagi disajikan dengan nylekit dan genit khas ibu-ibu. Rasanya ikut gemes ketika membaca. 
Artikel seperti itu akan mendatangkan page view yang lumayan. Tapi coba tanya dalam hati, apakah itu sepadan jika artikel tersebut dibaca oleh yang bersangkutan lalu silaturahim menjadi hancur? “Tapi si A itu gaptek kok, nggak tahu blog itu apa.” 
Okey, baiklah, tapi bagaimana jika disampaikan oleh orang lain yang akrab dengan internet, lalu diberi bumbu cerita macam-macam? Apakah kita memberi ruang padanya untuk menggunakan hak jawab atau hak sanggah seperti di media konvensional?

6. Membahayakan Orang-orang Terkasih
Ah, sebenarnya malaslah membahas ini. Tapi berhubung disebutkan dalam artikel blogelevated, terpaksa dibahas lagi. Yup, karena persoalan ini sudah sering dibahas di blog ini dan tak berpengaruh banyak pada beberapa blogger. Tetap saja detil sekolah, detil rumah, detil kegiatan, detil liburan dan sebagainya bermunculan. Rada bengong juga melihat postingan yang terlalu gembira tentang sebuah rumah baru sehingga semua ruangan diunggahnya, termasuk tangga ke lantai dua. 
Ketika membaca artikel tentang anak artis yang nyaris diculik beberapa waktu lalu, kok malah gimana gitu? Lha dia sendiri yang membahayakan anaknya yang masih balita itu. Tiap kegiatan diunggah ke instagram, jadi si calon penculik tahu aktivitas si anak dan dengan siapa dia dirumah. Hari itu seperti biasa si anak dirumah dengan pembantu, sedangkan si ibu bekerja diluar rumah. Jika kemudian si anak selamat, lantaran Allah masih melindunginya dengan memberi sakit pada si ibu sehingga si ibu pulang lebih awal. 
Di instagram saja akibatnya bisa begitu, apalagi blog yang memberi ruang bercerita lebih detil. Jadi nggak usah dibahas lebih panjang lagi ya, capek, nggak ngaruh. Hahahaaa....
oversharing di blog
Pic by pixabay.com


7. Terlalu Banyak Menulis Hal-hal Buruk
Yang sering ditekankan oleh para pakar blogging adalah jadilah blogger yang otentik. Sayangnya, sebagian menganggap otentik itu ya semau sendiri, termasuk sumpah serapah tidak puas dengan keadaan dan mengumbar kegagalan hidup. Hati-hati terbawa suasana sehingga membuat blog seperti wadah dari sampah kehidupan. Tak semua diberkahi hidup mudah tapi nggak perlu juga membuat diri makin terpuruk di blog. Justru hal-hal buruk itu bisa dijadikan momen untuk titik balik.
Banyak kok teman blogger yang gagal dalam berbagai hal tapi mereka menulis untuk sharing pengalaman agar tidak terjadi pada orang lain. Mereka menuliskan pengalaman mereka agar orang lain tak perlu membayar mahal dengan mengalaminya sendiri. Mereka juga menulis agar yang masih terjebak dalam masalah tersebut bisa melihat solusi seperti yang pernah dialami blogger tersebut. 
Hal-hal buruk bisa benar-benar menjadi sampah jika kita terlarut dalam postingan blog kita. Tapi hal-hal buruk bisa berbalik menjadi inspiratif jika kita mau mengemasnya dengan baik.

Ngeblog itu bisa santai untuk diary, bisa juga serius untuk monetizing. Apapun tujuannya, ngeblog itu harus bertanggung jawab.

39 comments:

  1. Alhamdulilah saya nggak termasuk golongan poin-poin yang di atas *benerin jilbab* heheheh :D

    Selalu menghindari posting berbau zbl, kzl, atau lagi emosi *dih udah nggak zaman lagi cuuy* :D heheheh sekarang mah konsen positif konten, curcol tetep dong tapi curcol yaah nggak alay kayak dulu :D

    Mak, yang poin 3 itu kok kita sehati ya #eaaaa, terhubung sama postingan terakhir saya nih :D namanya etika tetep ada dalam motret di ruang publik.

    Nomor 1, itu mah orang-orang pada mikir google ini tempat sampah apa ya? Helloo... apa yang ada di google itu berpemilik loh >.< Yakali foto diambil di google, tapi kan ada sumbernya, masa iya mbah google yang moto sendiri *plis deeh*

    Penutupnya pass banget deh! Sukaak! :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Curcol tetap perlu hahahaaa buat selingan

      Delete
  2. Ah ya... kadang blogger menulis terlalu pribadi hingga perbincangan kamar jadi topik posting.

    ReplyDelete
  3. Aku donk pasang foto rumah, hehe tapi nggak pake alamat rumah kok Mak Lus, btw aku juga belum berani candid orang , nggak enak ati.

    ReplyDelete
  4. Ngeblog harus bertanggung jawab, saya catet ini, Mbak. Saya masih harus belajar lagi.

    ReplyDelete
  5. Mbak Lusi... saya setuju banget poin2 di atas. Jadi, pengingat buat saya juga. Kalau lagi marahan sama sodara, saya juga berusaha untuk tidak mengintip media sosial dia. Takut dia meluapkan di sana dan saya jadi panas. Memang benar kalau lagi marah, log out dari semua media sosial adalah cara paling jitu. Ntar nyesal di kemudian hari :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau marah penginnya kan curhat ya. Sebaiknya hati2, diredam dulu

      Delete
  6. lagi emosi gak aku log out sih sosmed mbak tapi memang gak bakal mood nulis apapun juga :) wah utang bacaan bw aku banyak bgt ya mbak, baru bisa bw tapi bukan karena emosi kok hehehe. Mencoba mengembalikan mood

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihiii aku nggak nagih bw balik loh. Sesempatnya aja ya.

      Delete
  7. saya juga punya gejala seperti ini. apa saja ingin saya tuliskan di blog saya

    ReplyDelete
  8. mak lusi tulisannya "makjleb" banget, terima kasih sudah mengingatkan :)

    ReplyDelete
  9. Semoga kita bisa bijak dalam memposting dalam blog ya mbak. sangat menginspirasi...

    ReplyDelete
  10. ah iya, saya juga pernah posting ketika sedang marah Mba :(
    terimakasih sudah menuliskan hal ini, jadi pelajaran berharga untuk saya :)

    ReplyDelete
  11. whuaaa..mengaca pada diri sendiri, aku ngono ora yaa ?
    setuju banget donk sama point2nya dan semoga tetep bisa menjaga esmosi dan amarah ketika menulis
    #selfreminder

    makasiih maak sharing2nya eea

    ReplyDelete
    Replies
    1. Foto2 & captionmu melankolis mak. Loh apa hubungannya dg postingan ini? Hahaaaa

      Delete
  12. kalau saya sih nulisnya tentang tips dan pengetahuan ringan saja mbak..
    curhat sih jarang ya...
    hehe..

    ReplyDelete
  13. akkk reminder banget nih buatku mba lusi, semoga ngga oversharing di blog dan sosmed aamiin maaf lahir batiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf lahir batin juga. Aku syedih nggak ketemu dirimu di Semarang

      Delete
  14. Mohon maaf lahir bathin, selamat berpuasa dan salam kenal.
    Beberapa bait kata dibaca agak panas kayaknya hehe :D

    ReplyDelete
  15. Nice sharing Mak. Setuju sm point2nya.

    *lgsmojokmikir*

    ReplyDelete
  16. Aku oversharing nggak yaa..*kayaknya kadang2 iya. Soalnya bingung mo nulis apa. Klo sosmed macam fb, malah jarang update status...ngeshare doang. WA..sekedar berkirim pesan. Klo nulis yang lmyn panjang..baru di blog. Tapi karena dunia sudah tidak seluas dulu (tiap hari yang rutin ktmu anak-rumah-keluarga-sekolah anak-bbrp tetangga)jadi materi tulisan nggak jauh2 dari itu...

    ReplyDelete
  17. Emang kita kudu punya self control management yang baik. Makanya kalo lagi galau, saya suka hiatus sama laptop. Nulisnya di buku aja. Sesudah emosi back to normal, nalarnya baru bisa memutuskan apakah akan dijadikan tema tulisan di blog or cukup nongkrong di buku notes hehehe

    ReplyDelete
  18. mbak, kok tampilannya jadi mengecil ya..
    susah bacanya..
    atau kesalahan padaku?

    ReplyDelete
  19. Harus bertanggung jawab..cateet!!. Apapun yang kita tulis atau yang kita sebarkan memang butuh pertanggungjawaban ya Mbak. Alhamdulillah, kalo lagi marah, malah gak bisa nulis apa-apa. Takut dan malu aja, masa aib sendiri diumbar..hi..hi..

    ReplyDelete
  20. Kadang ada yg sengaja minta 'munculin fotoku doong jangan cuma tangan aja di blog' hahaha padahal udah dijaga2 biar ga ngrusak privasi orang

    ReplyDelete
  21. Setuju mbak.
    Apapun tujuannya, ngeblog itu harus bertanggung jawab.

    Karena apa yang dituliskan itu menunjukkan bagaimana pribadi si blogger itu sendiri :)

    Terima kasih sharingnya mbak~

    ReplyDelete
  22. poin2 di atas berguna banget utk reminder juga nih.. kdg2 bisa aja aku jg khilaf nulis review yg terlalu jujur, sampe mungkin kesannya menghina.. tp sebisa mungkin aku jg slalu cari kata2 halus kalo ketemu sesuatu yg ga enak, dan kalo bisa jg dgn solusinya.. jd kalo sampe ada pemilik resto ato hotel yg aku review baca kejelakan tempatnya, ga ngerasa tersinggung juga :)..

    kalo yg ttg jgn nulis saat marah, boro2 itu mbak :D.. lah wong kalo lg moody ato marah, semua ide nulis lgs blank, hilang ;p.. mana ada yg bisa ditulis, itu kalo aku :D

    ReplyDelete
  23. Ini blog gw - ngapain sih mikir macem-macem harus gini gitu. Suka-suka gw dong.

    Sering banget nemu yang seperti itu mbak. Sedih sih kadang. Maksud hati mengingatkan baik-baik (dan gak dalam sosial media ataupun blog ingatinnya - japri). Tapi dianya spt itu.

    Tfs Mbak

    ReplyDelete
  24. maklus emang spesialisasi konten tajem :), thanks for sharing!

    ReplyDelete
  25. Ah iya Maklus, aku takut over sharing juga secara sering ngomongin tentang obrolan sama anak di blog. Masih harus banyak belajar dari maklus nih

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.